Olimpiade dalam Kumbung

Filed in Topik by on 01/02/2013 0 Comments
Dr Iwan Saskiawan,ahli jamur dari PusatPenelitian Biologi

Dr Iwan Saskiawan,
ahli jamur dari Pusat
Penelitian Biologi

Baglog lonjong seperti sosis mempercepat waktu panen sekaligus meningkatkan produksi jamur.

Semboyan olimpiade: citius, altius, fortius (lebih cepat, lebih tinggi, dan lebih kuat) ada di kumbung jamur Ikhsan Sanubari-nama samaran. Pekebun di Kabupaten Cianjur, Provinsi Jawa Barat, itu panen lebih cepat dan hasilnya pun meningkat. Ia merengkuh dua “semboyan” pertama dengan satu inovasi, yakni mengubah ukuran dan bentuk baglog jamur kuping. Lazimnya para pekebun jamur kuping-juga tiram-memanfaatkan baglog berukuran 35 cm x 18 cm dan bobot 1,3 kg.

Namun, Sanubari mengubahnya  menjadi mirip sosis alias silindris dan panjang. Ukuran baglog menjadi panjang 40 cm, diameter plastik ukuran 12 cm, dan bobot 1,3-1,4 kg. Bentuk baglog memanjang. Untuk memudahkan maka sebut saja inovasi baru itu baglog sosis. Ahli jamur dari Pusat Penelitian Biologi LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia), Dr Iwan Saskiawan mengatakan bahwa inovasi Sanubari berupa baglog sosis terbilang baru di Indonesia.

Pekebun-pekebun jamur kuping dan tiram di Indonesia pada umumnya menggunakan baglog besar, ukuran plastik 35 cm x 18 cm. Iwan mengatakan, pekebun jamur di mancanegara seperti di Belgia dan Belanda memanfaatkan baglog berukuran jumbo: tinggi 1,6 meter dan bobot 40 kg. Sekilas bentuknya mirip guling raksasa. “Mereka berani membuat sistem itu karena keanekaragaman spora jamur di udara rendah. Jamur kontaminan sangat sedikit akibat kelembapan rendah,” kata Iwan.

Menurut Iwan pekebun di tanahair tidak layak menerapkan baglog jumbo karena risiko gagal lebih besar akibat banyaknya jamur kontaminan. Begitu terkontaminasi, baglog 40 kg pun dibuang sehingga pekebun merugi. Itulah sebabnya ukuran atau bobot media tanam  yang ideal untuk pekebun di wilayah tropis 1,3-1,4 kg per baglog. Lagi pula produksi jamur tak selalu “seiring sejalan” dengan bobot baglog. Menurut Iwan pada titik tertentu, produksi jamur tak linier dengan bobot baglog.

Lebih cepat 15 hari

Untuk membuat media tanam jamur kuping, Ikhsan Sanubari memanfaatkan serbuk kayu sengon hingga 80% dan selebihnya 20% berupa campuran dedak, jagung, kapur, dan gipsum. Media tanam itu sama persis dengan isi baglog jamur tiram. Sanubari memang lebih dahulu mengembangkan jamur tiram sejak 2008. Pekebun inovatif itu tak menutup bagian ujung baglog dengan cincin sebagaimana kelaziman selama ini. Namun, ia mengikat ujung baglog dengan tali dari karung.

Cara penutupan itu menghemat jutaan rupiah (lihat boks: Hemat Jutaan Rupiah). Namun, menurut Iwan, cincin pada baglog juga berfungsi sebagai penghambat kontaminan. Penghilangan cincin berarti meningkatkan risiko kontaminasi. Selain itu cincin juga berperan menjaga oksigen di baglog yang mempengaruhi pertumbuhan. Namun, menurut Sanubari, meski tanpa cincin, tingkat kontaminasi maksimal hanya 2%. Sanubari lalu menebarkan bibit jamur kuping Auricularia polytricha (dalam bahasa Latin auricula berarti kuping) pada baglog yang telah disterilisasi.

Selain spesies itu ia juga mengoleksi Auricularia auricula judae, A. auricula, Auricularia sp-semua hasil isolasi di alam yang ia lakukan sendiri. Ia memilih spesies polytricha sesuai permintaan pasar. Pekebun jamur yang kerap melanglang ke negara-negara di Asia selatan, Asia tenggara, dan Afrika itu lantas membuat empat lubang untuk meletakkan benih jamur di setiap baglog sosis. Untuk membuat “lubang tanam” ia tinggal menekan pipa besi  hasil desain sendiri yang bagian ujungnya tajam sehingga plastik baglog akan terbuka.

Walau lokasi penebaran bibit di setiap baglog lebih banyak, jumlah bibit relatif sama dengan sistem lama, yakni 2% dari bobot baglog atau 26 gram. Pada budidaya konvensional pekebun meletakkan bibit di satu lokasi, yakni di bagian atas baglog. Itu berarti penambahan lokasi penebaran bibit tidak meningkatkan jumlah bibit. Setiap kali usai menebar bibit di sebuah titik, Sanubari segera menutupnya dengan plakban. Tujuannya untuk mencegah masuknya jamur kontaminan di baglog.

Menurut Sanubari fully colonize atau spora menyebar penuh ke seluruh baglog setelah 20 hari pascainokulasi. Bandingkan jika ia menggunakan baglog model lama, spora menyebar penuh pada hari ke-30-35. Artinya dengan memperkecil ukuran diameter baglog dan memperbanyak lokasi penebaran bibit, penyebarannya 15 hari lebih cepat. Jika penyebaran lebih cepat, maka pekebun dapat panen lebih dini. Pekebun panen perdana rata-rata 15 hari setelah fully colonize dengan berubahnya warna media baglog menjadi putih; semula warna baglog, cokelat.

Produksi tinggi

Menurut ahli jamur dari Bandung, Provinsi Jawa Barat, NS Adi Yuwono, spora cepat menyebar karena lokasi penebaran bibit tersebar di empat tempat. “Miselia yang baik itu seperti segumpal kapas yang kita celupkan di air. Kalau kita lempar kapas ke kaca, maka air akan menyebar ke berbagai tempat. Begitu juga miselia yang baik,” kata Adi Yuwono. Iwan Saskiawan berpendapat serupa, “Miselia jamur tumbuh pada bagian ujungnya, bukan pangkal. Jika lokasi penebaran bibit lebih banyak, maka miselia lebih cepat tumbuh,” ujar doktor Biostudies alumnus Kyoto University, Jepang, itu.

Selain itu, ukuran diameter baglog relatif kecil sehingga jaringan miselia lebih cepat bertemu. Setelah mengadopsi baglog sosis, Sanubari panen perdana jamur kuping pada hari ke-30 pascapenebaran bibit. Pekebun lain yang memanfaatkan baglog besar, baru akan panen pada hari ke-50 pascatebar bibit. Itulah sebabnya, “Perputaran uang lebih cepat. Jika bisnis baglog pun, maka penjualannya juga lebih cepat,” kata Sanubari yang mengelola total 5 ha lahan berketinggian 700 meter di atas permukaan laut untuk budidaya jamur.

Selain lebih cepat panen, Sanubari juga menuai hasil lebih banyak. Alumnus Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada itu menuai rata-rata 400-500 g per baglog berbobot 1,3 kg dalam satu periode budidaya. Padahal, kebanyakan pekebun jamur kuping hanya panen 300-400 g per baglog berbobot sama. Selisih produksi 100 g per baglog sangat signifikan. Jika seorang pekebun mengelola 6.000 baglog per kumbung, maka secara akumulasi menuai 600.000 g atau 600 kg lebih banyak daripada produksi pekebun pada umumnya.

Saskiawan mengatakan rasio efisiensi biologi baglog sosis mencapai 38% (bobot baglog 1,3 kg) atau 35% (baglog 1,4 kg); pekebun lain yang produksinya 300 g per baglog, 23% dan 400 g (30%). Rasio efisiensi biologi merupakan perbandingan antara total produksi jamur segar dan baglog segar kali 100%. Angka itu mencerminkan produktivitas jamur, semakin tinggi produksi maka semakin besar persentase angka efisiensi. Menurut peneliti Mikrobiologi LIPI itu rasio efisiensi jamur di Indonesia maksimal 40%; manacanegara, 45%.

Mengapa produksi baglog sosis meningkat? Saskiawan mengatakan peningkatan produksi karena penebaran bibit di empat tititk sehingga pembentukan tubuh buah lebih optimal. Iwan menganologikan setiap lokasi penebaran bibit, terdapat propagul atau potongan miselia yang kelak membentuk “kerajaan” sendiri. “Pembentukan tubuh buah pun lebih cepat dan lebih banyak,” kata Iwan.

Gagal 100%

Sanubari mencoba baglog sosis sejak 2008. Dalam sebuah percobaan, biasanya ia menggunakan 100 baglog. Namun, setelah inokulasi atau penyebaran bibit, spora tak berkembang. Yang tumbuh justru jamur oncom Neurospora sp. Tak satu pun jamur kuping tumbuh. Setelah menganalisis, Sanubari menyimpulkan inokulasi dengan pinset atau spatula menyebabkan jamur oncom masuk ke baglog meskipun ia menjaga sanitasi. Pintu masuk jamur kontaminan ke baglog lebih banyak akibat lokasi penebaran bibit tersebar di empat tempat.

Setelah berkali-kali gagal, ia kemudian membuat alat injeksi berbahan kuningan untuk inokulasi. Dengan alat itu, maka ia tinggal menekan pegas di bagian atas sehingga bibit terdorong jatuh ke media tanam (lihat iustrasi). Cara itu ternyata efektif, terbukti lebih banyak spora yang tumbuh di baglog. Setelah hasil eksperimen puluhan kali sejak 2008 dan hasilnya stabil, pada Maret 2013, Sanubari memproduksi jamur kuping secara massal dengan baglog sosis. Ia menyiapkan tiga kumbung masing-masing berkapasitas 6.000 baglog.

Oleh karena itu Sanubari mendesain plastik baglog karena belum tersedia di pasaran. Ia membeli plastik itu Rp2.300 per kg terdiri atas 125 buah. Sementara harga plastik baglog besar, Rp2.100 per kg (225 buah). Harga per satuan plastik baglog sosis Rp9 lebih mahal. Namun, menurut hitungan Sanubari, biaya itu masih ekonomis karena peningkatan produksi jamur kuping. Seperti semboyan Olimpiade: lebih cepat, lebih tinggi, dan lebih kuat, begitu juga produksi jamur kuping di kumbung Sanubari. (Sardi Duryatmo)

Keterangan Foto :

  1. Produksi jamur kuping di baglog silindris meningkat
  2. Miselia jamur di baglog sosis menyebar 15 hari lebih cepat dibanding pada baglog besar
  3. Dr Iwan Saskiawan, ahli jamur dari Pusat Penelitian Biologi
  4. Alat untuk membuat ”lubang tanam” (paling kiri) dan injektor bibit jamur kuping (tengah), panjang plastik baglog hingga 50 cm (kanan)
  5. Cincin baglog
  6. Saat ini harga jamur kuping per kg Rp1.000 lebih tinggi daripada harga jamur tiram

 

 

Hemat Puluhan JutaPekebun jamur tiram atau kuping dan produsen baglog memerlukan cincin untuk menutup bagian atas media tanam. Harga sebuah cincin plastik itu memang relatif murah, yakni Rp300. Namun, jika kebutuhan tinggi dan penyebaran spora relatif lama, maka investasi cincin sangat mahal. Produsen baglog dan pekebun jamur di Jawa Barat, Ikhsan Sanubari, nama samaran, mengatakan biaya pembelian cincin mencapai puluhan juta rupiah.

Sanubari memproduksi rata-rata 8.000 baglog setiap hari. Itu berarti ia memerlukan 8.000 cincin senilai Rp2.400.000. Ia baru akan melepas cincin itu ketika spora telah menyebar ke seluruh baglog alias fully colonize. Cincin bisa digunakan kembali untuk baglog lain. Bila hal itu terjadi pada hari ke-35 pascainokulasi, maka total ia memerlukan 280.000 cincin (8.000 baglog x 35 hari). Besaran investasi untuk pengadaan cincin saja mencapai Rp84-juta. Itu dengan syarat cincin utuh, tidak rusak, atau hilang.

Namun, setelah menerapkan teknologi baglog sosis, ia sama sekali tidak memerlukan cincin. Sanubari hanya mengikat ujung baglog dengan tali karung. Sebab, lokasi penebaran bibit berpindah. Jika semula ia menebar bibit di bagian atas baglog, maka dengan baglog sosis ia menebar benih di salah satu penampangnya (lihat ilustrasi Cepat dan Meningkat halaman 33). Dengan demikian Sanubari tidak memerlukan cincin sehingga mampu menghemat puluhan juta rupiah. (Sardi Duryatmo)

 

Powered by WishList Member - Membership Software