OLAH PANTAI

Filed in Rubrik Tetap, seputar agribisnis by on 04/04/2019

Eka Budianta

Empat puluh tahun berlalu, banyak perubahan di pantai Indonesia. Pada April 1979 saya mengunjungi tambak bandeng di Sulawesi Selatan. Daerah pantai yang kumuh. Mantan penderita kusta dibantu untuk membudidayakan ikan bandeng. Untuk membesarkan hati, diadakan pesta. Festival makan siang di pantai, dengan menu utama serbaikan. Menjelang pesta demokrasi April 2019, saya diundang lagi ke tengah tambak. Ternyata tidak kumuh seperti dahulu.

Memang bukan di Sulawesi, tapi di Kohod, Tangerang Utara, Provinsi Banten. Tambak jernih terbentang sejauh mata memandang. Sebuah restoran yang asri, menunggu tamu di tengahnya. Belasan mobil sedan di parkiran. Ada juga landasan helikopter—helipad—yang terawat bersih dan rapi. Itulah hasil manajemen pantai yang benar. Agroindustri-pantai mulai berkembang. Produk-produknya makin berjaya.

Ada kepiting bakau, udang, ikan bandeng, nila, semua diajak memerangi kemiskinan. Teknologi pertambakan modern diperkenalkan. Bukan hanya tambak garam– tapi agrowisata ikan dengan berbagai produk turunannya. Di kawasan berlumpur yang semula tidak dilirik, kini dibangun gazebo-gazebo apung. Tempat lesehan yang nyaman. Pematang-pematang besar yang cukup dilalui bus mini juga ada.

Cepat tumbuh

Selain beragam menu lezat, taman-taman dengan bunga-bunga lavender yang menawan juga tersedia. Di tengah kolam, ada pulau-pulau kecil untuk berlatih taichi, menari poco-poco, dan panggung musik. Panen ikan pun menjadi atraksi di pagi hari. Seperti lazimnya, bandeng, mujair, dan nila dipanen pagi-pagi ketika perut mereka kosong. Itu penting untuk membantu pengawetan supaya ikan tidak cepat busuk.

Di sana juga tersedia instalasi pendingin untuk persiapan ekspor. Setelah ikan diangkat, datanglah rombongan orang-orang gedongan. Hari itu saya melihat sejumlah tamu penting dalam dua helikopter, belasan sedan, dan satu minibus bagus. Ada duta besar, pengusaha, dan tentu saja pejabat, baik sipil maupun militer. Dikelilingi hamparan air dan sayup-sayup alunan musik, panorama langit senja kian sempurna.

Sebetulnya, tambak seluas 35 hektare yang dipanen hari itu untuk memelihara ikan nila Oreochromis niloticus. Nila ikan pemangsa gulma air dan mudah berkembang. Seekor betina bisa memijah 300—1.500 telur, tergantung besar kecil tubuhnya. “Air tambak dipasok dari darat dan laut. Nah, dari laut itu sering terbawa benih udang yang tidak diundang,” kata Harry Kiss—panggilan akrab pemilik tambak itu.

Udang nyasar itu berkembang, menjadi gemuk besar-besar di tambak ini. Mengapa? Karena kualitas airnya diperbaiki dengan formula yang menggunakan mikroorganisme. Itulah rahasia suksesnya tambak. Beruntunglah tamu-tamu tambak pada musim panen. Kami tidak hanya menikmati sup ikan nila, tapi juga “goreng udang tak diundang” yang lezat sekali. Ikan nila dipilih karena paling cepat tumbuh, bisa dipanen dalam 4 bulan.

Ikan nila menjadi cepat besar dan sehat dengan perbaikan kualitas air. Alternatif yang menguntungkan adalah jenis ikan kerapu lumpur Epinephelus tauvina. Ikan tutul itu bisa menggalang untung 100%. Yang terakhir ini banyak diminati peternak tambak di Kabupaten Lamongan, Jawa Timur. Intinya, makin bervariasi panen tambak kita. Ada bandeng, kakap, udang, kepiting soka di Pemalang, Jawa Tengah, dan kepiting bakau di Gresik, Jawa Timur. Tinggal promosi wisata kuliner pantai, perlu kembali dikobarkan.

Tradisi

Tradisi makan di tengah kolam sudah di kenal sejak berabad silam. Raja-raja pada masa lalu bahkan sering dikisahkan melemparkan piring-piring emas dan cawan-cawan perak dengan sisa-sisa makanan ke dalam kolam. Kata mereka, untuk memberi makan ikan. Padahal, itu cara gratis untuk mencuci piring. Setelah para tamu pulang, cawan dan piring emas itu ditarik ke atas dengan jaring.

Jadi, kebiasaan makan enak di kolam atau di pantai, sudah dikenal sejak jaman Padjadjaran, Majapahit, bahkan keraton Sunyaragi di Cirebon, Jawa Barat. Tambak memang sebutan lama untuk membendung air laut. Kalau tertarik, bisa membaca lagi episode Rama Tambak, dalam kisah Ramayana. Dikisahkan, batu yang ditandatangani Sri Rama, bisa mengambang di laut.

Tambak garam di Kaburea, Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur. Pantai bukan sekadar tambak garam, tetapi sumber budidaya beragam komoditas perikanan dan agrowisata.

Sekarang, sentuhan bioteknologi dan perikanan organik dikembangkan besar-besaran. Olah pantai bukan hanya meliputi pembangunan pematang untuk sarana pasukan Rama menyerbu Alengka, tapi untuk mengatasi kemiskinan. Penggunaan teknologi kincir untuk aerasi, jaring, pompa sirkulasi, dan dukungan laboratorium akuakultur juga makin gencar. Piknik di pantai bukan hanya untuk menikmati ombak dan berjalan di pasir, tapi juga menikmati tambak beserta hasil budidayanya.

Sejak di bangku sekolah kita diajarkan bahwa Indonesia punya garis pantai paling panjang di dunia – lebih dari 81.000 km. Sejak abad ke-15 pun, tambak di Selat Madura dikenal sebagai penghasil garam. Kini dipromosikan manajemen tambak intensif. Hasil panen tentu berlimpah. Bukan hanya udang, kepiting, dan bermacam ikan; tapi juga rumput laut, mentimun laut, kerang, dan mutiara.

Bukan hanya di paya-paya berlumpur, tapi juga dalam keramba di lepas pantai. Akibat produksi berlebih, harga ikan bisa anjlok seperti yang sedang ramai diberitakan. Tantangan besarnya adalah edukasi yang lebih intensif agar generasi milenial makin suka mengonsumsi produk lautan, dan menjaga kualitas air yang lebih bersih. ***

Tags: , ,

 

Powered by WishList Member - Membership Software