Nomor Satu Kualitas

Filed in Tak Berkategori by on 08/11/2013 0 Comments

Burung hasil tangkaran Megananda Daryono sohor sebagai burung berkualitas.  Megananda Daryono kebanjiran order.

“ Saya ingin menjadikan MBOF sebagai sarana pendidikan dan penelitian,” ujar Drs Megananda Daryono MBA, pemilik sekaligus pendiri MBOFLebih dari 100 nama itu tertulis di sebuah buku. Di buku itu tertera nama pemesan, alamat, nomor telepon, dan jenis burung pesanan. Mereka adalah para pemesan dari berbagai kota yang antre untuk memperoleh burung hasil tangkaran Megananda Daryono. Sejak 1997 para pehobi mengenal Megananda Daryono sebagai penangkar muraibatu dan cucakrawa. Penangkaran Megananda itu terletak di Kampung Cijujung Tengah, Kotamadya Bogor, Jawa Barat.

Di lahan 1 ha itu ratusan piyik muraibatu dan cucakrawa lahir setiap tahun. “Kedua kicauan itu sejak lama paling populer,” ujar Megananda yang menjual cucakrawa berumur sebulan Rp8-juta dan muraibatu Rp10-juta per pasang itu. Dengan harga setinggi itu saja Megananda terus kebanjiran pesanan. “Setiap hari selalu ada yang pesan,” kata penangkar yang menjual masing-masing ratusan cucucakrawa dan muraibatu per tahun itu.

 

Induk berkualitas

Megananda menjodohkan muraibatu di kandang berukuran 3 m x 1,5 m x 2,5 m. “Kandang dibuat tinggi agar burung bebas bergerak seperti di habitat aslinya,” ujar Supriyanto Akdiatmojo, orang kepercayaan Megananda. Penangkar itu juga menanam pohon buah seperti mangga dan rambutan di setiap kandang. Hunian burung itu pun sejuk sehingga nyaman bagi muraibatu. Pantas burung anggota famili Turdidae itu cepat bertelur, yakni 3 bulan setelah penjodohan. Dalam setahun sepasang induk muraibatu menghasilkan 15 telur.

Begitu juga dengan cucakrawa yang menghasilkan 13—15 telur setahun. Megananda Bird and Orchird Farm (MBOF) mengelola 15 kandang muraibatu dan 10 kandang cucakrawa. Alumnus Fakultas Ekonomi Universitas Padjadjaran itu menggunakan indukan berkualitas agar menghasilkan anakan-anakan bermutu. Ciri indukan berkualitas adalah berumur minimal 3 tahun, gacor, sehat, dan turunan juara.  Megananda paham betul seluk-beluk burung berkicau. Sebab, sejak 1977 ia rajin mengikuti kontes burung bersama sang ayah.

Ia terobsesi menangkarkan burung saat menjalankan tugas kantor ke Medan, Sumatera Utara, pada 1996. Muraibatu dan cucakrawa dari Sumatera Utara kondang sebagai burung ocehan berkualitas tinggi karena suara yang lebih lantang dan postur tubuh yang besar. Ia menangkarkan 3 pasang muraibatu dan 5 pasang cucakrawa pada 1997. Megananda memperoleh indukan dari hutan di Medan.

Meski memelihara burung kicauan sejak lama, bukan berarti Megananda langsung sukses menangkarkan. Pengalaman sulit menjodohkan burung, hingga kecurian induk sempat mewarnai hari-harinya sebagai penangkar. “Ada induk bagus yang sampai dimakan ular,” ujarnya mengenang. Pada mulanya ia juga sulit menjodohkan hingga bongkar-pasang indukan. Baru pada 2000 ia memetik jerih payahnya, untuk kali pertama ia memperoleh hasil tangkaran.

Keberhasilannya itu tentu tidak lepas dari kerja keras Supriyanto Akdiatmojo dan Hari Dimas Prayoga alias Gareng. “Mereka orang kepercayaan saya,” ujar pria yang meraih gelar Master Ekonomi di Pace of University, New York, Amerika Serikat, itu. Menurut Megananda, kunci sukses penangkaran tak melulu seberapa besar investasi yang dikucurkan. “Banyak yang lupa sumber daya manusia yang memeliharanya sangat penting,” katanya.

Mereka itulah yang benar-benar paham karakter sang induk. Supriyanto Akdiatmojo dan Hari Dimas tahu betul saat menjodohkan kedua indukan, mengerti cara agar indukan rajin bertelur, dan hasilnya tetap berkualitas. Megananda membuktikan hal itu. Saat ini MBOF baru bisa memenuhi 15% order. “Kualitas nomor satu,” ujar penggemar musik rock itu. Burung berkualitas akan berpeluang menjuarai kontes, itulah yang dicari pehobi.

 

Umumnya anakan muraibatu dijual seharga Rp10-juta per pasangBurung langka

Sejatinya Megananda bukan hanya menangkarkan muraibatu dan cucakrawa. Penangkar yang juga pehobi anggrek itu juga menangkarkan lovebird dan beberapa burung langka seperti beo nias, kakaktua cempaka, mambruk, merak, crowned crane, dan Paroria coronata.  Yang disebut terakhir adalah angry bird, ikon permainan game.  Kardinal jambul merah itu dibeli dari penangkar di negeri Abang Sam sebanyak 3 pasang.

Saat ini Megananda tertantang menangkarkan beo nias.Berdasarkan data Kementerian Kehutanan pada 2008, status beo nias di habitat sangat menghawatirkan. Sayangnya, belum ada angka pasti populasi di alam untuk burung yang masuk CITES Apendik II itu. Artinya, sang burung peniru ulung itu  bisa terancam punah bila perdagangannya terus berlanjut tanpa ada pengaturan. Saat ini 2 pasang tiong emas—nama lain beo nias—berhasil bertelur. Sayang, telur belum berhasil menetas.

“Diperlukan penelitian lebih lanjut,” ujar Mega—sapaan akrab—yang telah mengantungi izin resmi dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) untuk menangkarkan. Bahkan, MBOF saat ini menjadi lokasi studi banding oleh berbagai pihak seperti Taman Safari, Persatuan Kebun Binatang Seluruh Indonesia, dan kalangan akademisi.

MBOF memiliki 3 pasang angry bird Paroria coronataSebagian burung tangkaran sejak lama ditaruh di kediaman Megananda di Jakarta Timur. “Supaya tetap bisa mendengarkan kicauan burung setiap hari,” ujar pria yang memiliki restoran itu. Saat ini Megananda terus memperluas lokasi penangkarannya. “Saya ingin MBOF menjadi sarana pendidikan dan penelitian bagi semua yang peduli konservasi,” ujar Megananda yang berencana melepas sebagian hasil tangkarannya ke habitat aslinya. (Rizky Fadhilah)

 

Powered by WishList Member - Membership Software