Nilam Bebas Budok

Filed in Perkebunan by on 31/01/2011

 

Edi mengamati, sebelum itu mula-mula benjolan muncul di permukaan daun. Pada saat bersamaan, batang tanaman juga membengkak, daun mengeriting, kering, dan akhirnya rontok. ‘Padahal, 3 bulan pertama tanaman tumbuh subur,’ kata Edi yang mengelola 25 ha. Tinggi tanaman rata-rata 60 cm dengan daun hijau dan lebar. Namun, saat panen ke-2 daun sudah mulai terlihat mengeriting dan mengecil.

Pekebun di Ketambe, Aceh Tenggara, Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam itu berupaya keras menyelamatkan tanaman anggota famili Lamiaceae. Beragam merek fungisida disemprotkan. Sayang, upaya itu gagal menyelamatkan nilam.

‘Sembilan puluh persen tanaman seperti kerakap tumbuh di batu. Hidup segan, mati pun tak mau,’ kata Edi. Jika populasi mencapai 18.600 tanaman per ha, maka total jenderal 465.000 tanaman terserang hanya dalam waktu 120 hari. Tanpa buang waktu ia mengerahkan 2 – 3 orang per hektar untuk mencabuti tanaman dan membakar hidup-hidup.

Cepat menyebar

Menurut periset nilam di Balai Penelitian Tanaman Obat dan Aromatik, Bogor, Jawa Barat, Dr Ir Sukamto, Pogostemonis cablin di kebun Edi terserang budok. Biang keroknya serangan cendawan Synchytrium pogostemonis. Makhluk mini itu tak pandang bulu: bibit, tunas baru, batang, daun tua tak luput dari serangannya. Celakanya, penyebaran cendawan begitu cepat sehingga serangan pun gampang meluas.

Cendawan anggota famili Chytridiales itu menyerang nilam dengan menginfeksi jaringan tanaman muda. Akibatnya pertumbuhan tanaman terhenti sehingga menjadi kerdil. Bila pekebun membiarkan, tanaman bakal meregang nyawa karena kekurangan unsur hara. Cara termudah untuk mendeteksi adanya serangan, amati gejala pemendekan tunas. Empat pekan berselang biasanya muncul kutil di permukaan daun.

Sukamto mengatakan cendawan budok bersifat obligat – tumbuh dan berkembang di jaringan tanaman hidup. Namun, bukan berarti cendawan meregang nyawa ketika nilam mati. Mikroorganisme itu tetap bertahan hidup, meski tak lagi membentuk spora berdinding tebal.

Terpadu

Sukamto mengatakan untuk mengatasi budok, pekebun idealnya menerapkan pengendalian terpadu. ‘Pemantauan, pemusnahan total, dan sanitasi sebuah keharusan,’ katanya. Pengamatan secara berkala perlu dilakukan agar gejala awal penyakit terdeteksi segera. ‘Jika terlihat gejala serangan, segera semprotkan fungisida pada tanaman, tanah, dan tanaman di sekitarnya,’ kata Sukamto. Gunakan fungisida berbahan aktif benomil dengan dosis 3 ml/liter, satu minggu sekali. Penanganan dini itu untuk menghambat pertumbuhan dan penyebaran cendawan.

Penanganan itu juga dilakukan sejak pembibitan. Pekebun wajib menyeleksi bibit yang sehat untuk mencegah serangan cendawan. Doktor hama penyakit tanaman alumnus Tohoku University, Sendai, Jepang, itu menyarankan agar pekebun merendam setek batang dalam larutan fungisida sebelum penanaman. Bila menemukan bibit terserang, segera cabut dan bakar.

Sukamto juga tengah mengujicoba penggunaan agen hayati berbahan aktif rizobakteri untuk mengendalikan penyakit budok. Caranya tanaman disemprot dengan dosis 10 ml per 1 liter air. Frekuensi 1 kali per minggu sampai serangan mereda. Tingkat keberhasilan pengendalian baru 20-30%. ‘Tapi pengendalian secara organik diharapkan dapat mengurangi penggunaan fungisida,’ imbuhnya. Untuk meningkatkan efektivitas pengendalian ia terus meriset formula agen hayati yang tepat.

Namun, pencegahan langkah terbaik. Sukamto menyarankan untuk merotasi penanaman. Nilam berproduksi perdana pada umur 5 – 6 bulan. Setelah itu, pekebun akan rutin menuai daun dengan interval 90 hari. Tanaman terus berproduksi hingga berumur 1,5 tahun. Setelah panen ke-4 atau kira-kira umur tanaman 2 tahun, cabut tanaman. Tujuannya untuk memutus siklus hidup cendawan.

Harap mafhum, cendawan itu mampu bertahan di dalam tanah dalam jangka waktu yang lama. Oleh karena itu, meski pekebun menanam bibit baru yang sehat sekalipun tak terjamin bakal selamat. Pekebun bisa menanam, tanaman sayuran semusim misalnya, sebagai penyelang. ‘Hampir semua tanaman bisa dipilih karena budok hanya menyerang nilam,’ kata Sukamto. Dengan trik itu niscaya, nestapa seperti yang dialami Edi terelakkan. (Endah Kurnia Wirawati)

 

  1. Salah satu gejala budok, batang membengkak dan daun mengeriting
  2. Bakteri synchytrium bisa bertahan di tanah bekas tanaman nilam dan menginfeksi tanaman sehat
  3. Dr Ir Sukamto pengendalian terpadu sejak pemilihan bibit bisa hambat penyebaran penyakit budok
  4. Harga minyak nilam saat ini Rp500-ribu – Rp600-ribu/kg
 

Powered by WishList Member - Membership Software