Nila: Nirwana di Kota Angin

Filed in Ikan konsumsi by on 28/02/2011

 

Produksi bibit mencapai 2-juta ekor/bulan belum mampu memenuhi permintaan sebesar 20-juta ekor/bulanArif Maulana Syam, nila potensial dikembangkan sebagai salah satu sumber protein hewaniSebanyak 38 kolam dibangun di lahan seluas 1 haDesa Sindangwangi memang sohor sebagai salah satu gudang pasir. Maklum, kualitas pasir dari desa yang juga gudang durian di Majalengka itu termasuk nomor satu. Saat pasir habis dikeruk pada 2007, yang tersisa hanya lubang-lubang menganga yang ditumbuhi ilalang.

Terlintas di benak Rastani, salah satu pemilik lahan, ‘Mengapa lahan tidur itu tidak dimanfaatkan?’ Rastani dan beberapa pemilik lahan lain lantas bergabung dan melirik usaha pembenihan nila. Maklum nila bukan barang baru bagi warga Sindangwangi dan Kota Angin – julukan Majalengka. Oreochromis niloticus itu sejak 1980- an mengisi kolam-kolam yang dibangun di pekarangan rumah warga. Selama ini peternak biasa mendapat pasokan benih dari Subang, Jawa Barat.

Seiring berjalannya waktu, budidaya nila itu menghadapi masalah. Ikan lambat tumbuh. Bobot konsumsi 200 – 300 g/ekor perlu waktu pemeliharaan di atas 5 bulan; normal 3 bulan. Itu karena kualitas bibit beragam, tidak jelas asal-usul induknya. ‘Di sini nila yang lambat tumbuh disebut nila jengkol,’ tutur Ahmad Fanani, peternak setempat.

Panen

Rastani lalu menggandeng Arif Maulana Syam, praktikus budidaya nila di Bandung, Jawa Barat. Lahan seluas 1 ha, dari total luas 6 ha, disulap menjadi 38 petak kolam tanah dengan ukuran bervariasi: 5 m x 10 m, 10 m x 10 m, 25 m x 20 m, dan 15 m x 50 m. Arif mengatur ketinggian air dalam kolam tak lebih dari 50 – 70 cm. Usaha pembenihan itu diberi nama Unit Pembenihan Rakyat (UPR) Nila Mina Cikole. Nama Cikole merujuk nama sungai yang mengalir dekat lahan itu.

Semula kolam diisi jenis-jenis nila unggul seperti GESIT, BEST, nirwana, dan GIFT3. Namun, berdasarkan pengamatan ternyata pertumbuhan nirwana lebih baik. ‘Pertumbuhan bongsor. Ukuran kepala lebih kecil tapi tubuh lebar, tanda lebih banyak berisi daging,’ tutur Arif, alumnus budidaya perikanan Universitas Padjadjaran, Bandung itu. Keunggulan lain, nirwana adaptif dan tahan serangan bakteri streptococcus penyebab kematian nila di atas 50%.

Di UPR Mina Cikole, nirwana dipelihara dengan padat tebar 3 – 5 ekor/m2. Induk siap memijah berbobot 300 – 400 g/ekor. Perbandingan jantan dan betina 1:3. Setiap betina mampu menghasilkan hingga 1.000 telur. Telur diletakkan pada sarang di dasar kolam yang segera dibuahi oleh sperma sang jantan.

Pascapembuahan, telur menetas 4 – 5 hari kemudian menjadi larva. Larva dengan perbandingan jantan dan betina 3:1 itu lantas dipelihara di kolam lain hingga mencapai ukuran tertentu, biasanya paling besar 5 – 8 cm. Untuk menjaga kualitas bibit, Arif memakai induk selama satu tahun masa produksi. Setelah itu diganti dengan induk baru.

Menurut Arif, UPR Mina Cikole mampu memproduksi 2-juta bibit per bulan dengan beragam ukuran: 1 – 3 cm, 2 – 3 cm, 3 – 5 cm, dan 5 – 8 cm. ‘Jumlah itu belum mencukupi karena permintaan mencapai 20-juta ekor/bulan,’ ungkap ayah satu anak itu. Jumlah itu habis untuk memasok peternak di Majalengka, Cirebon, Kuningan, Subang, dan Indramayu – seluruhnya di Jawa Barat. Keberhasilan memproduksi bibit nila unggul membuat UPR Mina Cikole mendapat penghargaan sebagai kelompok budidaya nila berprestasi tingkat Jawa Barat.

Prospektif

Semula 70% produksi diserap peternak di Subang dan Purwakarta. Pasar lokal wilayah III Cirebon meliputi Majalengka, Cirebon, Kuningan, dan Indramayu hanya menyerap 30%. Kini kondisinya terbalik, pasar ‘lokal’ menyerap 70% produksi.

Hal itu tidak lepas dari strategi sinergi dengan pembudidaya nila di wilayah III Cirebon. Daerah Majalengka, dengan UPR Mina Cikole sebagai rujukan, dikonsentrasikan sebagai sentra pembibitan. Wilayah Indramayu dan Cirebon yang bersuhu panas cocok untuk pendederan dan pembesaran. Di Kuningan pembesaran nila memanfaatkan Waduk Darma.

Menurut Ir Ahmad Hadadi MS, kepala Dinas Perikanan dan Kelautan, Provinsi Jawa Barat, pembibitan yang dilakukan di UPR Mina Cikole itu potensial mendukung program pemerintah daerah untuk mendongkrak produksi ikan hasil budidaya. Maklum dari 75.000 ha kolam dan tambak di Jawa Barat, baru terpakai 40% untuk budidaya. ‘Target produksi pada 2011 mencapai 700.000 ton,’ tutur Hadadi. Jumlah itu meningkat dibanding 2010 yang hanya mencapai 570.000 ton. Artinya pengembangan bibit nila yang dilakukan oleh UPR Mina Cikole dan peternak mitra sudah di jalan yang benar. Dari gudang pasir, Sindangwangi kini bersalin jadi gudang nila nirwana. (Faiz Yajri)

 

Powered by WishList Member - Membership Software