Napas Menuju Bebas

Filed in Eksplorasi by on 01/09/2009 0 Comments

Hunny tinggal di dalam kotak berjeruji besi bersama 3 bayi beruang lain yang seumur. Nasib mereka sungguh memilukan. Bayi-bayi itu bakal dijual ke restoran di sekitar Jakarta. Tangan dan kaki bayi beruang imut-imut itu dibuat sup. Bagian organ tubuh lain seperti empedu laku sebagai obat. Cakar dan taring menjadi hiasan.

Beruntung kejadian tragis 5 tahun lalu itu tak jadi menimpa Hunny. Ia selamat setelah Melanie Anastasia Khoe, pencinta satwa di Bandung, Jawa Barat, menebusnya dengan sejumlah uang kepada pedagang gelap itu. ‘Saya hanya membeli seekor karena saat itu belum bekerja dan tidak punya uang banyak,’ kata hobiis yang kini menjadi staf laboratorium perusahaan makanan di Melbourne, Australia, itu. Tiga bayi beruang lain tidak seberuntung Hunny. Jalan hidup mereka berakhir di meja makan dan toko obat.

Menurut Tri Prayudi dari Profauna-LSM pemerhati satwa liar-di Malang, Jawa Timur, perdagangan maskot satwa Provinsi Bengkulu itu menyebabkan populasi Helarctos malayanus di alam kian menyusut. Investigasi Profauna pada 2001 di Sumatera dan Jawa menunjukkan sekitar 64,5% toko obat tradisional menjual obat yang mengandung empedu beruang. ‘Beruang merupakan satwa yang dilindungi sehingga semestinya perdagangan bagian tubuhnya dilarang keras,’ kata Campaign Officer Profauna itu.

Prof M Yusuf, ahli pengobatan China di Sukabumi, Jawa Barat, menuturkan sejak ratusan tahun lalu organ tubuh beruang dipakai sebagai obat. ‘Empedu segarnya berkhasiat untuk mengobati penyakit lever dan segala bentuk peradangan di tubuh,’ kata pemilik Klinik Citra Insani, pengobatan spesialis kanker itu. Belakangan empedu beruang itu dikapsulkan. Serbuk empedu berbentuk kristal warna cokelat kehitaman dijual mahal, Rp1,5-juta untuk 6-9 kapsul. Pantas beruang selalu diburu.

Di tangan Melanie, Hunny yang lemah dan nyaris mati itu diasuh baik. Setiap 4 jam Hunny diberi susu rendah laktosa agar tidak mencret seperti saat ia pertamakali tinggal di rumah. Dalam waktu singkat Hunny tumbuh menjadi anak beruang sehat. Ia dapat berlari kencang, memanjat pohon, dan ‘menggerogoti’ benda-benda yang ada di rumah. ‘Dia lucu hingga membuat suasana rumah ramai,’ kata alumnus Royal Melbourne Institute of Technology yang merawat Hunny selama 8 bulan itu.

Dengan tinggi mencapai 90 cm dan bobot 20 kg Hunny sepantasnya pulang ke habitat asli. Apalagi jauh-jauh hari Melanie memang berencana melepasliarkan Hunny. ‘Saat itu belum terpikir di mana dan bagaimana melatih Hunny agar bertahan hidup di habitat aslinya,’ kata Melanie yang belakangan mengetahui keberadaan Pusat Penyelamatan Satwa (PPS) Cikananga di Desa Cisitu, Kecamatan Nyalindung, Sukabumi, Jawa Barat.

Kepada petugas Cikananga Wildlife Center (CWC)-nama baru PPS Cikananga-pada 29 November 2005 Hunny diserahkan untuk diliarkan kembali. Hunny menempati sebuah kandang besar bersama beberapa beruang lain.

Trubus yang datang pada awal Agustus 2009 menjumpai Hunny dalam kondisi sehat. ‘Statusnya kini diadopsi,’ kata Budiharto, manajer Kesejahteraan Satwa CWC. Diadopsi? Ya itu untuk memenuhi biaya perawatan dan pakan. Melanie mendonasikan rupiah sebesar Rp600.000/bulan. Sang bunda pun 2 bulan sekali pergi ke CWC. ‘Ibu membawa pakan kesukaannya: ikan mas, madu, susu, dan aneka buah seperti sirsak, semangka, dan pepaya,’ ujar Melanie.

CWC yang diresmikan 1 November 2003 itu memang fokus pada penyelamatan satwa liar. Menurut Budiharto fasilitas yang disediakan CWC  sangat lengkap. Di sana terdapat Animal Rescue, Learning Wildlife Center (pusat pembelajaran satwa untuk hidup liar), dan Conservation Breeding Center (program pengembangbiakan spesies terancam punah). ‘Semua dibangun di lahan seluas 14 ha,’ kata Budiharto.

Sampai Juli 2009 jumlah satwa di CWC mencapai 266 ekor. Dari jumlah itu kelompok aves paling besar, mencapai 151 ekor. Berikutnya mamalia (33 ekor) dan reptil (79 ekor). Kelompok aves antara lain terdiri dari elang jawa Spizaetus bartelsi, elang brontok S. cirrhatus, kakatua tanimbar Cacatua goffini, dan merak Pavo muticus. Untuk mamalia ada orangutan Pongo pygmaeus, macan kumbang Panthera pardus melas, dan siamang Symphalangus syndactylus.

Satwa-satwa di CWC yang pada kurun 2001-2005 pernah menampung hingga 3.433 individu itu 90% di antaranya diserahkan langsung oleh pemilik. Sisanya, 10% merupakan hasil sitaan dari operasi penertiban satwa dilindungi yang dilakukan CWC bersama-sama Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jawa Barat. Berdasarkan peraturan pemerintah melalui SK Menhut No 479/Kpts-VI/1992 terdapat 95 jenis mamalia, 379 jenis aves, dan 30 jenis reptil yang statusnya dilindungi.

Mereka perlu dilindungi dengan berbagai pertimbangan. Selain populasi di alam kritis-memiliki peluang 20% punah dalam 5 tahun atau masuk 20% status genting dalam 20 tahun, sebarannya pun terbatas. Yang lain daya reproduksi satwa-satwa itu rendah, punya keunikan khas seperti bekantan atau merak hijau, serta menghindari satwa-satwa itu dari ancaman perburuan dan perdagangan ilegal.

Data Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Kebun Direktorat Jenderal Perlindungan dan Konservasi Alam menunjukkan pada 1992 terdapat 68.746 orang yang memiliki satwa dilindungi di seluruh Indonesia. Sekitar 25.426 orang diketahui berdomisili di Jakarta. Kepemilikan mereka bermacam-macam mulai dari satwa hidup (58.957 ekor), satwa opsetan (58.136 buah), dan mengoleksi bagian-bagian tubuh lain (66.032 buah). Khusus satwa hidup kepemilikan perorangan sedikit, berkisar 1-2 ekor. Ini bakal menjadi masalah karena mendorong terjadinya inbreeding. Pun peluang satwa untuk kembali ke alam sangat kecil tanpa proses rehabilitasi.

Menurut Budiharto satwa-satwa yang diserahkan pemilik atau pun hasil sitaan perlu menjalani beberapa pengecekan seperti kesehatan. Untuk primata, misalnya, perlu bebas penyakit tuberculosis (TBC) dan hepatitis. Ini untuk menghindari penularan penyakit pada satwa lain. Bila diketahui berpenyakit, satwa-satwa itu dikarantina sampai sembuh. ‘Syarat lain hewan tidak dalam kondisi cacat dan masih memiliki sifat liar,’ ujar Budiharto.

Pemilik pun wajib menyerahkan daftar pakan kesukaan satwa itu selama dipelihara. Maklum sering kali pemilik memberi pakan sembarangan. Ini penting karena secara bertahap pakan satwa-satwa itu disesuaikan seperti di habitat asli. Contoh Dodo dan Noni. Dua orangutan masing-masing berumur 7 dan 8 tahun dari Bogor itu oleh pemiliknya diberi pakan nasi, roti, dan minuman bersoda. Saat itu secara fisik Dodo dan Noni sehat, tapi sebetulnya mereka kekurangan protein. Ini terlihat dari bulu-bulunya yang rontok. Kini bulu di tubuh Dodo dan Noni tumbuh lebat setelah mereka menyantap buah dan daun.

CWC hanya salah satu institusi penyelamat satwa liar. Saat ini setidaknya terdapat 6 institusi sejenis, yakni PPS Tegal Alur (Jakarta), PPS Tasikoki (Sulawesi), PPS Yogyakarta, PPS Petungsewu (Malang), PPS Gadog (Bogor), dan PPS Bali. PPSPPS itu berfungsi sebagai tempat penampungan satwa hasil sitaan, penangkapan, atau penyerahan dari masyarakat. Di PPS itu satwa-satwa dipelihara dan diberikan perlakuan khusus hingga mudah beradaptasi di habitat asli saat dilepasliarkan.

Menurut Mujiastuti SHut, kepala Seksi Konservasi Wilayah II satwa-satwa dilindungi di PPS Tegal Alur itu paling lama ditampung selama setahun. ‘Yang tidak bisa dilepasliarkan akan dijadikan satwa titipan di kebun binatang atau taman safari,’ ujar Mujiastuti. PPS Tegal Alur seluas 0,3 hektar kini merawat 260 individu terdiri dari: aves (27 jenis), mamalia (13 jenis), dan reptil (12 jenis). Pada Mei 2009 PPS Tegal Alur bersama International Animal Rescue (IAR) melepasliarkan 8 kukang Nycticebus sp dan beruk Macaca nemestrina. Berikutnya direncanakan pelepasan owa jawa Hylobates moloch dan orangutan.

Sejatinya ongkos perawatan satwa-satwa itu tidak murah. Contoh di PPS Tegal Alur. Untuk 5 sanca sepanjang 1-1,5 m masing-masing perlu diberi pakan 2 tikus setiap hari. Dengan harga seekor tikus Rp15.000, PPS berlokasi dekat Bandara Internasional Soekarno Hatta di Tangerang, Provinsi Banten, itu perlu biaya Rp150.000 per hari. ‘Paling tidak biaya perawatan semua satwa mencapai Rp15-juta/bulan,’ kata Mujiastuti.

PPS Tegal Alur beruntung karena masih mendapat sokongan dana dari Departemen Kehutanan melalui BKSDA DKI Jakarta. Nasib CWC lebih tragis. Pascaberakhirnya kerja sama Gibbon Foundation dan Ditjen PHKA pada April 2006, biaya perawatan satwa-satwa itu mulai terganggu. ‘Kami sekarang ibarat gali lubang tutup lubang untuk membiayai satwa-satwa ini,’ kata Budiharto. CWC paling pol menghimpun dana Rp30-juta/bulan dari kondisi ideal sebesar Rp50-juta/bulan.

Sebab itu CWC gencar melakukan gerakan adopsi satwa. ‘Ini agar kesejahteraan satwa tetap baik sebelum dilepasliarkan,’ tambah Budiharto. Apalagi 1-2 satwa boleh jadi bakal menjadi penghuni tetap CWC seumur hidupnya karena alasan tertentu. Gungun seekor macan kumbang, misalnya, kini hidup dengan 3 kaki setelah satu kaki lain diamputasi karena luka bekas dijerat pemburu membusuk. Jadi sungguh sulit membayangkan Gungun dapat mengejar mangsa di alam dengan hanya 3 kaki. Kepedulian pada satwa liar perlu terus dipupuk agar bangsa ini menghargai betapa tanahair tercinta adalah gudangnya satwa langka. (Dian Adijaya S)

Dokter hewan Cikananga Wildlife Center mengamputasi kaki Gungun pada 2006

> Hunny saat umur 1 bulan

>> Owa jawa Hylobates moloch di PPS Tegal Alur

Melanie Anastasia Khoe dan Hunny, beruang madu yang diselamatkan dari pedagang gelap satwa langka

Kandang merak hijau Pavo muticus di Cikananga Wildlife Center

Sebanyak 65.746 orang diketahui memiliki satwa dilindungi di tanahair. Kepemilikan mereka bermacam-macam: satwa hidup (58.957 ekor), satwa opsetan (58.136 buah), dan bagian tubuh lain (66.032 buah)

Mujiastuti tengah bercanda dengan orangutan di PPS Tegal Alur yang akan dididik di pusat rehabilitasi orangutan di Kalimantan

Budiharto, manajer Kesejahteraan Satwa CWC di dalam kandang elang brontok yang siap-siap dilepasliarkan

Kukang Nycticebus sp di kandang perawatan di PPS Tegal Alur

Foto-foto: Dian Adijaya S, koleksi Cikananga Wildlife Cente, dan koleksi Melanie Anastasia K

Penyitaan burung kasuari di kebun binatang ilegal di Garut, Jawa Barat

Pelepasliaran labi-labi oleh Cikananga Wildlife Center dan penduduk setempat di Timika, Papua, pada 2006

Cendrawasih Paradisea sp di PPS Tegal Alur

Setelah rajin diberi pakan buah, Dodo, orangutan di Cikananga Wildlife Center, tumbuh lebih sehat

Burung ibis cucuk besi Threskiornis melanocephalus di Cikananga Wildlife Center

 

Powered by WishList Member - Membership Software