Naik 40% Karena Kipas

Filed in Pojok luar by on 02/05/2013 0 Comments

Dengan rumah tanam berventilasi, produksi sayuran hidroponik ACK Farm mencapai 1—1,5 ton per hari.

Tiga buah kipas besar bergaris tengah 1 m yang melekat di dinding rumah tanam itu bukan sekadar aksesori. Saat suhu atau kelembapan melonjak tinggi, bilah kipas berputar membuang kelebihan panas dan uap air. Kipas pembuang panas itu adalah bagian utama sistem pendingin rumah tanam di ACK Farm di Provinsi Chaochengsao, Thailand. Untuk mempertahankan kinerja pendinginan, perusahaan tak segan memasang suplai daya nirputus (UPS) sebagai cadangan saat listrik mati.

Selain pendinginan rumah tanam, kesinambungan aliran listrik juga menjadi andalan sistem sirkulasi air dan pupuk. ACK Farm memberikan larutan pupuk dengan pH 6 dan konduktivitas listrik 1,2—1,6 mS per cm. Jika sirkulasi air dan pupuk terganggu, pertumbuhan tanaman terhambat. Efeknya, waktu panen tertunda atau bobot belum maksimal saat panen. “Dalam bisnis, waktu adalah segalanya,” kata Kasemsarn Kiangsiri, direktur ACK Farm Thailand.

Kasemsarn tidak asal bicara. Di pertanian miliknya, pekerja mulai memanen berbagai jenis sayuran—kemangi, salanova, tomat ceri, dan jenis-jenis lain—pada 04.00 pagi hingga 4 jam kemudian. Sekeluar rumah tanam, sayuran-sayuran itu langsung masuk truk pendingin bersuhu 8—100C untuk mempertahankan kesegaran. Selanjutnya sayuran itu menempuh 2—3 jam perjalanan menuju tempat peracikan di daerah On Nut, Bangkok. Di sana, pekerja meracik dan mengemas sayuran-sayuran itu menjadi salad. Esoknya, sayuran-sayuran itu sudah terpajang rapi dalam kemasan apik di rak pasar modern.

Ventilator

Menurut Pichai Srirattanawiriyakul, manajer produksi ACK, lebih dari 30% kerusakan produk bisa terjadi saat transportasi. Dengan kendaraan berpendingin, angka itu bisa ditekan sampai kurang dari 5%, bahkan nihil. “Biasanya kerusakan sekadar daun sobek lantaran terjepit atau tertumpuk,” kata Pichai.

Mereka tak hanya menekan kerusakan pascapanen, tapi juga memperhatikan proses budidaya di hulu. Menurut Kasemsarn, semula mereka membuat rumah tumbuh seperti biasa: berdinding plastik transparan dengan ventilasi berupa jendela untuk sirkulasi udara. “Lubang ventilasi yang selalu terbuka menjadi jalan masuk serangga, padahal sudah dibuat tinggi di dinding dekat atap,” kata Pichai.

Itu sebabnya mereka menggunakan kipas ventilator. Kipas sejenis lazim digunakan dalam gudang penyimpanan untuk mencegah kelembapan berlebih yang mengundang pertumbuhan cendawan. Bagian luar ventilator itu dilengkapi sirip yang otomatis menutup saat kipas tidak bekerja. Namun, ketika kipas berputar, sirip itu membuka sehingga panas dan uap air dari dalam rumah tanam mengalir keluar. Saat itu, serangga yang mencoba masuk lewat bukaan sirip akan terdorong angin dari semburan kipas atau malah terhantam bilah yang berputar. Dengan demikian, tidak ada lubang yang bisa menjadi pintu masuk serangga.

Ventilasi menjadi kunci sistem pendingin rumah tanam di lahan seluas 3,2 ha itu lantaran menstabilkan suhu dan kelembapan. Pichai menemukan cara ventilasi setelah meriset selama 2 tahun. Dengan mengandalkan ventilasi sebagai bagian utama sistem pendinginan EVAP (evaporation cooling system), bobot hasil panen meningkat 30—40%. Sudah begitu daun tampak lebih vigor, berwarna solid, dan rasanya lebih enak.

Toh, Pichai mengingatkan bahwa tidak semua jenis sayuran cocok di rumah tanam berventilasi. Ia hanya menanam salanova, selada, bayam merah, alfalfa, atau sweet basil—sejenis kemangi—di rumah tanam dengan EVAP. Adapun budidaya sayuran buah seperti tomat maupun jenis kecambah ia lakukan di rumah tanam tanpa ventilasi. Selain mengandalkan ventilator, ACK memilih bahan kasa putih untuk dinding dan atap rumah tanam. Dengan cara itu, tanaman tetap terkena air hujan dan sinar matahari tapi terhindar dari serangga perusak.

Nirpestisida kimia

Pemupukan dan penyiraman tanaman dalam rumah tanam mengadopsi teknik NFT (nutrient film technic) alias teknik lapisan nutrisi. Dengan cara itu, awak ACK bebas dari keharusan mengganti bahan substrat setiap beberapa waktu. Setiap 7—10 hari, setelah nutrisi habis terserap, air bekas larutan itu mengalir ke dalam kolam penampungan khusus. Air baru dari tanah hanya sekadar mengganti air yang terserap tanaman atau menguap. Itu sebabnya setiap rumah tanam hanya berisi jenis sayuran yang sama atau memiliki warna sama. Cara itu sekaligus mempermudah pemberian nutrisi dan pemanenan.

Jika pertanian hidroponik identik dengan pestisida sintetis, maka ACK adalah sebuah pengecualian. Mereka mengandalkan pemberian cendawan Trichoderma sebagai “benteng” bagi tanaman dari penyakit busuk akar, layu fusarium, atau busuk daun. Adapun untuk menjauhkan serangga, mereka memilih kerosin alias minyak tanah. Setiap hari pekerja berkeliling meneliti satu per satu rak tanaman untuk mengenali gejala awal serangan hama atau penyakit.

Kebersihan menjadi poin penting untuk memutus siklus hama atau penyakit. Alat-alat panen, meja, sampai wadah sayuran dicuci bersih dan dibilas dengan cairan antiseptik pascaproses pemanenan. Selanjutnya, semua alat—termasuk meja—dijemur untuk mematikan segala jenis mikrob. Semua jerih payah itu terbukti sukses: panen harian mencapai 1—1,5 ton. Percobaan menanam komoditas hortikultura seperti melon, kentang, atau paprika pun berhasil sehingga produksi massal segera mulai. Lima tahun ke depan, Kasemsarn merencanakan mengurangi porsi sayuran dari 90% menjadi 60% dan meningkatkan produksi buah dan komoditas hortikultura lain. ***

 

FOTO:

  1. EVAP mengandalkan kipas ventilator bergaris tengah semeter
  2. Salanova tumbuh baik dalam rumah tanam berventilasi
  3. Pekerja membawa sayuran pascapanen dalam boks
  4. Pembilasan rak tanam pascapemanenan
  5. Pichai Srirattanawiriyakul: Dengan EVAP, bobot meningkat 30—40%
  6. Peracikan sayuran potong menjadi salad
  7. Dengan truk berpendingin, mutu sayuran terjaga
  8. Pencucian sayuran potong sebelum dikemas sebagai salad
  9. Kasemsarn Kiangsiri: dalam bisnis, waktu adalah segalanya
  10. Kolam penampungan air sisa NFT
 

Powered by WishList Member - Membership Software