Naga Sehat di Bukit Sentul

Filed in Buah by on 01/01/2009 0 Comments

 

Dari kebun di balik perumahan elit itu buah naga daging merah sudah 2 kali panen. Saat berumur 10 bulan dipetik 100 kg Hylocereus costaricensis dari 200 tiang. Bobot per buah rata-rata 400 g. Sembilan bulan berselang-November 2008-dipanen 150 kg. Diperkirakan Februari 2009, saat musim raya tiba, bakal dipanen 500 kg dari 200 tiang dan 100 pot.

Sayang, Trubus tak sempat menyaksikan panen secara langsung pada penghujung November 2008. ‘Buah sudah dikirim ke para pelanggan di Jabodetabek,’ kata Sinatra Harjadinata, pengelola kebun Indian Hill Farm itu. Dengan minimal pembelian 1 boks setara 10 kg buah naga langsung diantar ke depan pintu gerbang rumah pelanggan. Harga Rp40.000 per kg. Artinya pelanggan cukup merogoh Rp400.000 untuk menikmati buah naga organik yang baru dipetik. Pada hari-hari besar, dragon fruit dari Kota Hujan itu juga dipasarkan dalam bentuk parcel.

Beruntung buah naga di lahan seluas 3.000 m2 dengan jarak tanam 2 m x 3 m itu masih ada yang bisa dicicipi. Rasa daging buah kerabat kaktus-kaktusan itu agak berbeda dengan asal mancanegara yang dijual di pasar swalayan. ‘Buah lebih segar. Rasanya pun manis tanpa rasa asam sama sekali,’ kata Soewarso Pawaka, pekebun durian, yang kebetulan berkunjung ke sana. Lazimnya, rasa buah naga manis dengan sedikit asam.

Lebih optimal

Menurut Ir Achmad Sarjana MSi, mantan ketua Masyarakat Pertanian Organik (MAPORINA) Jabotabek, kualitas buah organik memang lebih unggul dibanding hasil budidaya konvensional. ‘Rasa lebih manis dan daya simpan buah lebih panjang. Tanaman juga lebih bandel terhadap hama dan penyakit,’ kata Sarjana. Buah naga organik tahan simpan hingga seminggu pascapetik di suhu ruang. Buah hasil budidaya konvensional hanya tahan 4-5 hari. Pada periode itu penampilan buah masih menarik.

Sejatinya, menurut Daniel Kristanto, pekebun buah naga di Jawa Timur, buah-hasil budidaya organik dan konvensional-bisa bertahan hingga 25 hari dengan manipulasi atmosfir. Contohnya, dengan mengurangi oksigen kurang dari 8%, meningkatkan CO2 lebih dari 2%, meningkatkan kelembapan udara di atas 80%, dan menjaga suhu di kisaran 13-15oC. Itulah yang dilakukan eksportir mancanegara untuk mengirimkan buah naga ke Indonesia.

Kandungan hara lengkap pupuk organik-seperti N, P, K, Ca, Mg, Bo-membuat buah lebih manis. ‘Pada kebun konvensional terkadang pekebun hanya memberi pupuk NPK,’ kata Sarjana. Padahal unsur lain seperti Mg dan Ca sangat penting. Magnesium misalnya, merupakan unsur penyusun klorofil. Tanaman yang cukup magnesium kandungan klorofilnya optimal. Dengan begitu reaksi pembentukan gula dari H2O dan CO2 lebih tinggi.

Sedangkan kalsium memperkuat dinding sel sehingga kualitas buah lebih bagus dan lebih tahan simpan. Buah juga tidak gampang pecah. Pada pertanian konvensional, pasokan Mg dan Ca dapat dipenuhi dari dolomit. Yaitu kapur pertanian yang mengandung magnesium.

Perombak organik

Di kebun, Sinatra membenamkan pupuk organik hasil fermentasi kotoran kambing. Dosisnya 10-15 kg per tiang. Bokashi itu diberikan setiap 5 bulan. Sinatra memilih kotoran kambing karena ketersediaannya melimpah di desa-desa di sekitar kebun. Kotoran kambing dihancurkan dan difermentasi agar hara yang terkandung mudah diserap. Kotoran kambing yang berbentuk butiran dan berselaput sulit didekomposisi mikroorganisme secara alami. Asupan lain, agen hayati berupa larutan mikroorganisme-mengandung lactobacillus, bacillus, pseudomonas, dan mykoriza-yang dikocorkan setiap 3 bulan. Caranya seliter larutan biang mikroorganisme dicampur dengan 99 l air. Setiap pohon mendapat 5 liter larutan.

Agen hayati itu kini banyak tersedia di toko pertanian dan balai-balai pertanian. ‘Yang paling terkenal ialah agen hayati dari Jepang bernama efektif mikroorganisme yang banyak mengandung lactobacillus dan bacillus,’ kata Sinatra. Lactobacillus yang ditambahkan pada pupuk kandang atau serasah mempercepat proses perombakan bahan organik. Misalnya, kotoran sapi secara alami membutuhkan waktu penguraian 2 bulan agar unsur hara di dalamnya dapat diserap tanaman. Dengan penambahan lactobacillus dari luar, waktu bisa dipersingkat setengahnya.

Penelusuran Trubus, di Bogor ada 3 kebun yang dikelola secara organik. Satu di antaranya menggunakan rumen sapi (kotoran isi perut sapi, red). Rumen sapi dikenal kaya lactobacillus. Pemberian rumen sapi sekaligus menambah mikroorganisme dalam tanah yang dapat mengurai bahan organik di sekitar perakaran. Rumen sapi itu dikombinasikan dengan penanaman kacang tanah di sela tiang penyangga. Keluarga kacang-kacangan dikenal sebagai tanaman yang mampu bersimbiosis dengan rhizobium, bakteri pengikat nitrogen dari udara alias bakteri bintil akar.

Karena tergolong baru, ketiga kebun buah naga organik itu belum dilaporkan adanya serangan hama dan penyakit hebat. Serangan semut, belalang, dan kutu putih masih di bawah ambang ekonomi sehingga tak merugikan. ‘Paling kalau ada langsung dibuang saja,’ kata Sinatra. Pestisida nabati berupa ekstrak singkong racun-mengandung sianida-pernah digunakan untuk mengusir semut dan belalang. Caranya 2 kg singkong racun dihancurkan dan dilarutkan pada 10 l air. Namun, cara itu ditinggalkan karena pati pada singkong membuat larutan tak tahan lama dan berbau busuk. Kini arsitek dari Universitas Diponegoro itu tengah menjajaki penggunaan daun sereh dan daun kelor.

Dari tanah

Meski tanpa campuran pupuk kimia, buah naga organik di Bogor tumbuh subur dan produktif. Menurut Prof Dr Dedik Budianta, pakar kesuburan tanah di Jurusan Tanah Fakultas Pertanian Universitas Sriwijaya, pertanian organik mampu menjaga kesehatan fisik, kimia, dan biologi tanah beserta lingkungannya.

Secara fisik bahan organik membuat tanah lebih gembur. Kemampuan tanah memegang hara dan air juga menjadi lebih baik. Itu membuat kondisi daerah perakaran optimal untuk penyerapan hara. Maklum, tanaman menyerap hara yang terlarut dalam larutan tanah. Pupuk organik juga menjadi pemasok hara-makro dan mikro-yang lengkap. Sebut saja Ca, Mg, Mn, dan Fe.

Agen hayati juga berguna pada proses biologis di dalam tanah. ‘Mereka membantu mengubah unsur hara yang sulit diserap tanaman menjadi dapat diserap tanaman,’ kata Dedik. Contohnya beberapa strain pseudomonas melarutkan fosfat dan kalium di dalam tanah menjadi mudah diserap tanaman. ‘Bila cadangan hara di dalam tanah cukup, peran mikroorganisme bisa menggantikan asupan pupuk sintetis,’ ujar Dedik. Hara terpakai dikembalikan dengan membenamkan bahan organik berupa kotoran hewan maupun serasah tumbuhan. Dengan begitu buah naga alami bisa terus berproduksi. (Destika Cahyana/Peliput: Karjono)

 

Powered by WishList Member - Membership Software