Naga Penjebak dari Bukit Barisan

Filed in Tanaman hias by on 01/04/2010 0 Comments

Spesimen naga di Bukit Barisan beda dengan di Guanling. Fosil di China berupa tulang-belulang yang membatu dengan panjang 7,6 m dan lebar 68 cm. Kepalanya berbentuk segitiga dengan lebar mulut 43 cm. Di kepala terdapat sepasang tanduk sepanjang 27 cm. Wujudnya mirip hewan dalam legenda klasik China.

Naga temuan Hambali dan Alfin berupa penutup kantong kering nepenthes yang memiliki 2 tonjolan di permukaan bagian bawah. Lazimnya penutup kantong mulus tak ada tonjolan. Keduanya lantas menelusuri tanaman yang masih hidup. Dua puluh menit berselang dari lokasi penemuan spesimen, terlihat nepenthes berkantong jumbo—panjangnya hingga 33,5 cm—dengan tutup kantong bergelombang di bagian tepi.

Sosoknya menarik dengan tonjolan bercabang mirip lidah ular di bawah tutup kantong. “Karena tonjolan itulah diberi nama Nepenthes naga,” kata M Apriza Suska, ketua umum Komunitas Tanaman Karnivora Indonesia (KTKI).

Tumbuh epifit

Sejatinya Hambali dan Alfin bukan yang  pertama kali menemukan naga. Dua tahun sebelumnya kantong semar itu pernah dijumpai Ch’ien Lee Chen, hobiis asal Amerika Serikat yang juga fotografer. Ch’ien Lee ragu mendeskripsikan dan melaporkan kobe-kobe tersebut secara resmi ke herbarium Universitas Andalas, Sumatera Barat. Itu karena kantong naga berbentuk terompet, corong, atau tabung mirip N. spathulata dan N. ovata.

Sedangkan Hambali, Alfin, dan Suska yakin benar naga berbeda dengan nepenthes lain yang sudah dideskripsikan sebelumnya. “N. ovata habitatnya di gunung di bagian utara Danau Toba. Ia tumbuh epifit mulai dari pangkal batang yang banyak spaghnum moss hingga ketinggian 3 m. Sedangkan N. naga ditemukan di gunung di timur Danau Toba. Naga umumnya menempel di pohon dengan ketinggian di atas 5 m,” ungkap Suska. Selain itu, ovata lebih banyak dijumpai di ketinggian di atas 2.000 m dpl seperti di Gunung Siabu-abu dan Gunung Pangulubau, sementara naga di ketinggian 1.600 m dpl.

N. naga juga beda dengan N. spathulata. “Selama ini penyebaran spathulata di Sumatera bagian selatan. Ia juga tak punya tonjolan di bagian bawah penutup kantong,” tambah Suska. Hambali dan Alfin kian yakin lantaran tak ada spathulata tumbuh di lokasi penemuan naga. “Di sana naga tumbuh sendiri, tak ada nepenthes lain,” ujar Alfin. Keyakinan mereka jadi kenyataan setelah spesimen naga dibawa ke herbarium Universitas Andalas. “Setelah dicocokkan dengan spesimen di herbarium, disimpulkan kantong semar itu spesies baru,” kata Suska.

Jumbo

Sebetulnya naga juga ditemukan tumbuh merambat. “Tipe batang rambatnya mirip N. adrianii dan N. spathulata,” tambah Suska. Panjang batang yang merambat maksimal 1,5 m. Karakter itu beda dengan nepenthes yang hidupnya merambat seperti N. bokorensis dan N. gracilis. Yang disebut pertama panjang batang rambatnya mencapai 7 m.

Sayang, meski baru dideskripsikan sebagai spesies baru, sang naga sudah terancam punah karena tumbuh di areal tak terlindungi. Jumlahnya kian menyusut karena penebangan hutan yang tidak bertanggungjawab. “Kami hanya menemukan 2 tanaman yang tumbuh menempel di pohon pada ketinggian 5—8 m,” kata Alfin. Di lokasi berbeda, Suska menemukan 10 tanaman.

Menurut Alfin naga yang tumbuh di ketinggian 1.500—2.000 m dpl itu jadi incaran karena sosoknya menarik. Kantong roset dan bawah berukuran jumbo, hingga 33,5 cm dengan lebar 6,8 cm. Warna kantong juga beragam: hijau, hijau bercak merah, merah tua, hingga ungu. Peristom alias bibir, rata dan melebar hingga 5,8 cm di dekat leher kantong. Penutup kantong dengan panjang 8,5 cm dan lebar 7,2 cm bergelombang di bagian pinggir.

Kantong atas naga lebih kecil ketimbang kantong bawah dan roset. Panjangnya hanya 24,3 cm dan lebar 4,5 cm. Mulut berbentuk oval dan memiliki leher. Peristom kantong atas lebih meruncing ketimbang kantong bawah dengan lebar hanya 1 cm. Tutup kantong berbentuk oval dengan panjang 6,1 cm dan lebar 5,5 cm. Sama dengan

kantong bawah, penutup kantong atas juga bergelombang di bagian tepi.

Dalam mekanisme menjebak mangsa, kantong naga mirip nepenthes umumnya. Kelenjar nektar yang diproduksi naga dan warna cemerlang peristom dan tutup kantong jadi andalan agar mangsa mendekat. Nah, saat serangga mendekati sumber nektar di bawah tutup kantong, mereka akan melalui bibir kantong yang licin karena berlapis lilin. Dan, byur! Serangga tergelincir dan jatuh ke cairan yang ada di dasar kantong naga. (Rosy Nur Apriyanti)

 

Keterangan foto

  1. N. naga, koleksi Yanto di Cianjur, Jawa Barat
  2. Nepenthes naga, endemik Bukit Barisan, Sumatera. Ia ditemukan di ketinggian 1.500—2.000 m dpl
  3. N. naga tumbuh epifit di batang-batang pohon dengan minimal ketinggian 5 m
  4. Ciri khas N. naga, tonjolan seperti lidah ular di bawah tutup kantong
  5. N. spathulata, bentuk kantong mirip N. naga. Namun spathulata tak punya tonjolan di bagian bawah penutup kantong

Foto-foto: M. Apriza Suska

 

Powered by WishList Member - Membership Software