Musik Berganti Lalu Pergi (Seri Walet 193)

Filed in Seri walet by on 01/04/2013 0 Comments

Cakram suara walet asli bisa menjamin populasi walet terjagaGegabah mengganti cakram suara pemanggil walet menyebabkan produksi sarang turun.

Irsyad—nama samaran—di Kota Barabai, Kabupaten Hulu Sungai Tengah, Kalimantan Selatan, tak pernah menduga, populasi walet di bangunan 2 tingkat miliknya menurun dalam waktu 2 bulan pada pengujung 2012. “Saya melihat walet yang masuk semakin sedikit,” kata pengusaha bahan bangunan itu. Padahal, rumah walet yang dibangun dengan biaya ratusan juta pada pertengahan 2010 itu sudah berproduksi 1—1,5 kg sarang.

 

Gegabah mengganti cakram suara pemanggil walet bisa menurunkan produksi sarangIrsyad yakin produksi sarang walet turun, meski belum menghitung cermat penurunan produksi. Indikasi itu terlihat saat Irsyad mengamati walet yang terbang pada sore hari. “Jumlahnya tidak sebanyak seperti 4 bulan sesudah rumah walet jadi,” katanya. Ketika itu dengan perangkat pemanggil suara walet berikut pemasangan 2 tweeter yang diletakkan di dekat lubang masuk berukuran 90 cm x 30 cm, ratusan walet keluar-masuk.

Irsyad menduga biang kerok menurunnya populasi Collocalia fuciphaga itu karena penggantian cakram suara pemanggil walet yang sebelumnya rusak. “Saya menitip beli yang baru dari teman di Pontianak,” katanya. Namun, apa lacur setelah cakram suara itu mengeluarkan bunyi, walet bukannya semakin deras datang, melainkan banyak yang pergi. “Sepintas kalau mendengar suara cericitnya sama,” kata ayah 3 anak itu.

Ganti suara

Kejadian serupa juga pernah menimpa Muklis di Pandeglang, Provinsi Banten. Produksi rumah walet semula 2,5 kg pada awal 2009 menjadi 1—1,5 kg pada pertengahan 2010. Muklis tidak pernah menduga hal itu akibat penggantian cakram suara pemanggil walet. “Saya pikir hanya karena banyak rumah walet yang dibangun,” katanya. Melihat keberhasilan produksi sarang, beberapa investor membangun rumah walet lain dalam radius 0,5—1 km dari bangunan walet 2 tingkat milik Muklis.

Muklis baru menyadari setelah seorang rekan sesama peternak walet memperhatikan suara yang keluar dari cakram suara pemanggil walet. “Nadanya agak aneh seperti ada suara mendesir,” ujar alumnus Universitas Sultan Ageng Tirtayasa itu. Muklis memang membeli cakram suara pemanggil walet dari penyedia jasa aksesori walet dunia maya. “Mungkin bajakan,” ujar Muklis.

Menurut praktikus walet di Kendal, Jawa Tengah, Arif Budiman, banyak cakram suara walet bajakan yang beredar di pasaran karena harganya lebih murah. Sudah begitu kualitasnya sulit dipertanggungjawabkan. “Makanya bisa terselip suara-suara aneh yang membuat walet takut,” ujar pemilik duniawalet.com itu. Beruntung bagi Muklis dan Irsyad, tidak seluruh walet-walet itu pergi. Menurut Arif ganti suara memang menjadi masalah karena banyak peternak walet awam sehingga menganggap semua suara walet sama. “Beberapa rekan peternak walet mengalaminya. Padahal, walet memiliki kode-kode suara tertentu seperti suara riang dan suara sedih,” ujar Arif.

Ganti periodik

Pergantian cakram suara pemanggil walet bila tidak cermat memang mengundang masalah. Oleh sebab itu menurut Harry K Nugroho, konsultan walet di Jakarta Utara, peternak perlu jeli saat membeli cakram suara. “Sebaiknya membeli dari konsultan walet terpercaya yang benar-benar mengetahui sifat dan karakter walet,” kata pemilik Eka Walet Center itu. Hal itu semata-mata menjamin agar investasi mahal yang dikucurkan tidak sia-sia karena kesalahan kecil, tapi berdampak besar.

Cakram suara pemanggil walet yang bisa diputar selama 24 jam seperti Trubus saksikan di Kecamatan Manggar, Kabupaten Bangka-Belitung memiliki masa pakai tertentu. “Gantilah cakram tersebut secara periodik sekitar     6 bulan sekali,” kata Arif. Sebab cakram bisa jadi tergores saat diputar sehingga menimbulkan suara yang justru membuat walet pergi. Kalau pun diganti, ”Belilah di tempat awal membeli cakram itu karena sudah terbukti tidak membahayakan walet,” kata  Arif.

Walet sesungguhnya bisa menghapal suara yang dia dengar setiap harinya. Menurut Arif jika diamati saksama pada sore hari saat walet hendak masuk gedung, atau berputar putar mengelilingi  bangunan, walet acapkali menirukan suara panggilan yang sedang diputar. Begitu pula ketika malam hari di dalam gedung, walet juga menirukan bunyi suara inap. “Ini bukti bahwa walet memiliki kemampuan menyimpan dan menirukan suara yang selalu didengar,” kata Arif.

Nah seberapa penting pergantian suara walet itu? Bagi walet muda hal itu sangat penting. “Seperti anak muda pasti suka lagu-lagu baru,” kata Arif memberi ilustrasi. Oleh sebab itu secara periodik peternak perlu memberikan suara yang selalu baru pula. Suara baru itu tak selalu ciptaan baru. “Saya kadang memutar kembali suara lama. Bagi walet yang belum mendengar, bisa dianggap sebagai lagu baru,” kata Arif. (Dian Adijaya Susanto)

 

Powered by WishList Member - Membership Software