Muncul Setelah 94 Tahun

Filed in Sayuran by on 02/01/2013 0 Comments
Perlu varietas kedelai hitam genjah agar bisa panen optimal dalam cekaman kekeringan

Perlu varietas kedelai hitam genjah agar bisa panen optimal dalam cekaman kekeringan

Dua varietas baru kedelai hitam: genjah, produktif, dan toleran kekeringan.

Setiap kali memasuki musim tanam pada kemarau Sirep harus menambah ongkos produksi Rp900.000 per ha untuk  menyewa pompa diesel berkekuatan 3 PK. Petani di Desa Kedungbanteng, Kecamatan Pilangkenceng, Kabupaten Madiun, Provinsi Jawa Timur, itu menggunakan pompa untuk menyedot air masuk ke kebun seluas 4 ha.Selain itu ia juga membuat beberapa sumur hingga sedalam 130 m. Upaya itu dilakukan demi menjamin ketersediaan air untuk budidaya kedelai hitam Glycine max. Harap maklum kekurangan air membuat hasil panen merosot 30-40%. Apa lacur petani biasa menanam kedelai di lahan sawah dengan pola pergiliran padi-kedelai-kedelai pada musim kemarau ke satu (MK I) serta menggunakan pola padi-padi-kedelai pada musim kemarau kedua (MK II). Pola itu menyebabkan kedelai pada kondisi rawan kekurangan air pada fase generatif.

Dr Ir Muchlish Adie MS rilis dua kedelai hitamultragenjah

Dr Ir Muchlish Adie MS rilis dua kedelai hitam
ultragenjah

Menurut periset kedelai dari Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto, Dr Ir Ponendi Hidayat MP, masa kemarau memang menjadi momok bagi petani kedelai. “Kondisi kekeringan pada fase pembungaan menyebabkan bunga dan polong muda mudah rontok sehingga jumlah polong berkurang, sementara ukuran biji pun mengecil,” tutur ketua Pusat Penelitian dan Produksi Benih Kedelai Unsoed itu.

Sementara kondisi kekeringan saat pengisian polong menyebabkan pembentukan biji kedelai tidak sempurna. Masalahnya, tujuh varietas kedelai hitam yang sudah dilepas pemerintah sejak 1918 umumnya memilki umur panen sedang hingga dalam-berkisar 82 sampai 95 hari setelah tanam. Pantas Sirep harus mengeluarkan uang tambahan untuk mengairi lahan saat kemarau.

Ultragenjah

Pucuk dicinta ulam pun tiba. Pada 2013 segera hadir dua varietas kedelai hitam ultragenjah dan toleran kekeringan. Keduanya hasil kreasi tim periset di Balai Penelitian Tanaman Kacang-kacangan dan Umbi-umbian yaitu Dr Ir Muchlish Adie MS, Gatut Wahyu AS MP, Ayda Krisnawati SP, Ir Erliana Ginting MSc, Ir Abdullah Taufiq MP, dan Arifin. Kedelai unggul itu dijuluki detam 3 prida dan detam 4 prida. Detam akronim dari kedelai hitam, sementara prida singkatan dari Program Insentif Riset Dasar. Riset Muchlish dan tim memang disokong dana Kementerian Riset dan Teknologi.

Tim Balitkabi merakit duo kedelai hitam genjah itu sejak 2005. Saat itu mereka melakukan persilangan antara genotip kedelai hitam genjah berkode W9837 dan MLG3102, kedelai hitam berumur sedang mallika, kedelai kuning berumur sedang kawi dan 100H dengan kedelai hitam berumur sedang cikuray. Selain itu dilakukan pula persilangan antara W9837 dengan 100H.

Pada 2006, tim menyeleksi hasil persilangan dengan metode silsilah. Memasuki generasi ketiga, Muchlish dan kawan-kawan menggalurkan klon-klon hasil persilangan. Sebanyak 98 galur homozigot  (F5) kerabat buncis itu kemudian menjalani uji daya hasil di Kebun Percobaan Jambegede, Kabupaten Malang, dan Kebun Percobaan Genteng, Kabupaten Banyuwangi, keduanya di Provinsi Jawa Timur, pada MK I 2010. Sebagai pembanding digunakan varietas kedelai hitam detam 1 dan mallika.

Selanjutnya, mereka memilih 18 galur kedelai hitam yang berumur lebih genjah dan hasil biji lebih tinggi ketimbang varietas pembanding. Selanjutnya pada MK II 2010, mereka menguji daya lanjut di 4 lokasi: Banyuwangi, Mojokerto, Malang, dan Blitar. Dari uji tersebut kemudian didapat 8 galur harapan, masing-masing cikuray x W9837-171, cikuray x W9837-105, W9837 x cikuray-66, W9837 x 100H-236, MLG 3102 x cikuray-435, cikuray x W9837-181, cikuray x W9837-184, serta W9837 x cikuray-26.

Pada Februari-Mei 2011 dan Juni-September 2011, kedelapan galur itu menjalani uji adaptasi di Bogor, Jawa Barat; Klaten, Jawa Tengah; Sleman, Yogyakarta; Mojokerto, Pasuruan, Probolinggo, dan Banyuwangi di Jawa Timur, dan Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat. Sebagai pembanding ditanam jenis detam 1 dan mallika. ”Di setiap lokasi dilakukan 2 kali penanaman sehingga total ada 16 unit penelitian,” ujar Muchlish, kini Kepala Balitkabi.

Setelah menjalani uji adaptasi lapangan, galur-galur tanaman anggota famili Fabaceae berikut varietas pembanding menjalani uji toleransi terhadap kekeringan pada fase reproduktif pada 2010 di rumah kaca Balitkabi. Seluruhnya diuji pada 2 tingkat ketersediaan air, yaitu 100% ketersediaan air dan 50% ketersediaan air. Para peneliti juga mengolah biji kedelai semua galur menjadi kecap untuk menguji rendemen dan sifat fisikokimia kecap yang dihasilkan.

Produksi tinggi

Serangkaian ujian berat itu pun akhirnya meluluskan 2 galur unggulan. Pertama, galur W9837 x cikuray-66-selanjutnya disebut detam 3 prida. Produksi rata-rata mencapai 2,88 ton per ha dengan potensi hasil 3,15 ton per ha. Itu melampaui hasil panen detam 1 dan mallika, masing-masing hanya 2,66 ton per ha dan 2,46 ton per ha. Detam 3 prida pun genjah, mampu dipanen pada umur 75 hari pascatanam dengan rendemen kecap 835%. Sayang, detam 3 prida kurang toleran terhadap kekeringan. “Varietas itu sebaiknya dikembangkan pada lingkungan yang optimal,” kata Muchlish.

Galur unggul kedua, W9837 x 100H-236, yang disebut detam 4 prida, mempunyai rata-rata hasil 2,54 ton per ha dengan potensi hasil mencapai 2,89 ton per ha. Keunggulannya lebih toleran terhadap kekeringan. Ketangguhan itu ditunjukkan dalam uji lapangan, detam 4 prida sanggup menolerir kekurangan air hingga 50%. Kemampuan itu karena sistem perakarannya yang baik dan mampu mengekstrak air lebih banyak dalam kondisi minim air. Galur itu juga memiliki efisiensi tinggi dalam penggunaan air dan alokasi fotosintat ke biji. Umur panen 76 hari pascatanam, rendemen kecap mencapai 811%. Hasil itu di bawah rendemen detam 1 yang mencapai 910% dan mallika 842%.

Toh, duo anyar itu unggul karena mampu panen lebih cepat. Keunggulan itu juga berarti petani kedelai hitam bisa tetap menuai hasil maksimal meski tanaman dalam cekaman kekeringan. Setelah 94 tahun merindukan hadirnya kedelai hitam ultragenjah dan toleran kekeringan, kini petani bisa mengucapkan selamat datang pada kedelai hitam baru Balitkabi.(Faiz Yajri, kontributor lepas Trubus di Jakarta)

 

Varietas Kedelai Hitam

518-HAL-70-71-2..Keterangan Foto :

  1. Perlu varietas kedelai hitam genjah agar bisa panen optimal dalam cekaman kekeringan
  2. Dr Ir Muchlish Adie MS rilis dua kedelai hitam ultragenjah
  3. Kedelai hitam banyak dimanfaatkan sebagai bahan baku kecap
 

Powered by WishList Member - Membership Software