Mulsa Menjaga Panen

Filed in Inspirasi, Majalah by on 10/03/2019

Gulma mengancam gagal panen tanaman hingga 30%. Mulsa plastik sukses menekan kehadirannya.

Pemilihan kualitas mulsa yang tepat dapat menunjang pertumbuhan tanaman.

Sidiq Pranoto Budi berharap laba dari cabai dan tomat. Petani di Desa Wonorejo, Kecamatan Kedawung, Kabupaten Sragen, Provinsi Jawa Tengah, itu menanam cabai di lahan 2.000 m² dan tomat di lahan 1.000 m². Sayang, kedua tanaman anggota famili Solanaceae itu justru bersaing dengan beragam gulma untuk memperoleh nutrisi. Pria 29 tahun itu menyiangi gulma di antara tanaman utama.

Ketika gulma tumbuh lagi, Sidiq Pranoto Budi menyemprotkan herbisida. Namun, upaya itu gagal menyelamatkan tanaman. Pada akhir masa panen, Sidiq gagal panen. Modal puluhan juta amblas. Dosen Agroekoteknologi dari Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati, Bandung, Dr. Ir. Cecep Hidayat M.P., mengatakan, gulma memang menjadi kompetitor tanaman utama memperoleh nutrisi dan sinar matahari. Kehadirannya mengancam produksi tanaman hingga 30%, bahkan gagal panen seperti dialami Sidiq.

Mulsa awet

Sidiq enggan pengalaman buruk itu terulang. Itulah sebabnya pada April 2016 ia mulai memanfaatkan mulsa plastik hitam perak. Ia membeli 3 gulungan mulsa masing-masing berukuran lebar 1,2 meter. Mulsa itu cukup untuk menutup bedengen di lahan 2000 m2. Di bedengan tanam sepanjang 700 m Sidiq cukup menggunakan mulsa sepanjang 690 m. Itu lantaran mulsa produksi PT Hidup Baru Plasindo itu elastis.

Harga mulsa itu total Rp2 juta. Panen terakhir pada Desember 2018, Sidiq menuai 4,5 ton cabai di lahan 2.000 m² berpopulasi 3.500 tanaman. Selain itu ia juga memanen 3,5 ton tomat. Total omzet Sidiq dari penjualan kedua komoditas itu mencapai Rp63 juta. Keruan saja Sidiq meraup untung. Apalagi mulsa Bell itu juga tahan hingga dua musim tanam. “Petani lain malah menggunakannya sampai 3 kali, tapi saya hanya dua kali,” ujar petani sayuran sejak 2014 itu.

“Mulsa Bell berbahan Low Density Polyethilene (LDPE) dari biji plastik murni tanpa bahan daur ulang sehingga warna lebih cerah, kuat, dan elastis,” ujar Direktur Utama PT Hidup Baru Plasindo, Andri Santoso. Warna lebih cerah berperan penting dalam proses budidaya tanaman hortikultura karena memantulkan sinar matahari. Menurut Andri Santoso warna perak di permukaan tanah memantulkan sinar matahari.

Para petani hortikultura dapat menggunakan mulsa plastik Bell hingga 3—4 kali periode budidaya.

Akibatnya hama enggan bersembunyi di bawah permukaan daun. Ia mengatakan bahwa mulsa mampu menangkal sinar ultraviolet sehingga lebih awet dan tidak mudah rapuh. Bagi Sidiq menggunakan mulsa menyelamatkan hasil panen cabai dan tomat. Sebab, mulsa plastik itu menekan pertumbuhan gulma. Ketua Kelompok Tani Sumber Sri itu tidak pernah lagi gagal panen sejak menggunakan mulsa plastik.

Tanpa penyiangan

Pada awal penanaman ia memang harus mengalokasikan dana Rp2 juta untuk membeli tiga gulung mulsa. Sidiq menggunakan mulsa dua kali periode budidaya. Artinya biaya tambahan mencapai Rp1 juta per periode budidaya. Di sisi lain ia mampu menghemat biaya penyiangan. Sebelum memanfaatkan mulsa plastik, Sidiq lima kali menyiangi lahan. Setiappenyiangan ia membayar 4 pekerja masing-masing Rp70.000.

Produktivitas tomat dapat menurun 30% bahkan gagal panen akibat gulma.

Artinya biaya penyiangan per periode budidaya atau 6 bulan mencapai Rp1,4 juta. Selain penyiangan manual, Sidiq juga mengaplikasikan herbisida. Ia 3 kali menyemprot masing-masing membutuhkan seliter herbisida seharga Rp70.000. Total biaya pengendalian gulma Rp1,61 juta per musim tanam. Namun, setelah menggunakan mulsa plastik Sidiq berhenti menyiangi sekaligus berhenti menyemprotkan herbisida.

Sidiq Pranoto Budi, petani cabai dan tomat yang kapok gagal panen akibat gulma yang merajalela.

Sebab, mulsa plastik mencegah tumbuhnya gulma di antara tanaman utama seperti cabai dan tomat. Itulah sebabnya menggunakan mulsa lebih menghemat biaya produksi. Sebab, Sidiq mampu menghemat biaya penyiangan atau pembelian herbisida. Itulah sebabnya Sidiq terus-menerus menggunakan mulsa plastik. Setelah panen petani kelahiran Sragen itu mengistirahatkan lahannya selama 30 hari.

Di Bandung, PT Plastin Eka Prakarsa juga memproduksi beberapa merk dagang MPHP. Beberapa diantaranya adalah Milion, Pilar, Bintang dan Jaya Baru. Dengan sifat yang elastis, MPHP itu lebih tahan lama dan ekonomis.

Tujuannya untuk menghindari mulsa menjadi sobek. Ia memotong tanaman terlebih dahulu, menyisakan 2 cm batang tanaman di atas permukaan tanah sebelum menggulung mulsa. Jika langsung mencabut sisa tanaman berpotensi merobek mulsa. Ayah satu anak itu kemudian menggulung mulsa, mengolah kembali lahan, dan membuat bedengan. Sidiq kembali memanfaatkan mulsa itu untuk menutup bedengan.

Meski petani menyemprotkan pestisida dan terkena mulsa, tidak menyebabkan kerusakan. “Mulsa kami memiliki kelebihan resisten bahan kimia. Bila permukaan plastik terkena pestisida tidak menghilangkan lapisan ultraviolet,” kata Mark Setiawan, managing director PT Plastin Eka Prakarsa. (Hanna Tri Puspa Borneo Hutagaol)

Tags: , , , , ,

 

Powered by WishList Member - Membership Software