Miliarder Sapi

Filed in Rubrik Tetap, seputar agribisnis by on 16/09/2019

Total produksi daging sapi nasional pada 2018 mencapai 403.668 ton. Kebutuhan mencapai 663.290 ton.

Berapa kali kita mendengar pejabat membeli sapi untuk kurban Idul Adha?  Berulang-ulang, tentunya.  Di Samarinda, Kalimantan Timur, ada sapi simental berbobot 800 kg dengan harga Rp70 juta.  Ada juga sapi limosin di Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, berbobot 1,3 ton dibeli Rp120 juta.  Selebihnya sapi ongole berkisar Rp100 juta per ekor berbobot 1 ton di Bogor, Surabaya, Banda Aceh, dan Palembang.

Yang jelas sapi 1,3 ton itu jika diolah menjadi 1.800 bungkusan daging untuk disalurkan kepada yang berhak. Kita semua ikut bergembira, terlebih peternak yang dibeli sapinya.  Tugas peternak kita sekarang, bagaimana ikut menyediakan sapi, supaya terjamin kebutuhan daging pada masa mendatang.  Syukur kalau dapat lebih digemukan lagi.

Wajib bunting

Eka Budianta

Saya mendapat hadiah sapi pertama kali pada 1959. Ayah membeli anak sapi putih langsing tidak jauh dari Stasiun Desa Ngimbang, Kabupaten Lamongan. Saya menangis ketika anak sapi itu kecil itu tidak bisa dibonceng sepeda. Mungkin bobotnya hanya 70 kg, sama dengan orang dewasa. Tidak sampai 2 tahun sapi itu dijual, karena kami pindah ke Malang, Jawa Timur.

Di sana ayah membeli lagi dua sapi.  Yang betina untuk saya, yang jantan untuk adik.  Harganya juga tidak mahal-mahal amat, setara dengan 7 atau 8 domba dewasa. Sapi-sapi itu juga tidak besar. Yang betina bahkan kecil, cokelat belang kuning keemasan. Kami menyebutnya sapi gumarang, tidak boleh disembelih. Begitulah kenangan punya sapi-sapi kampung, yang kecil-kecil dan murah meriah.



Sangat berbeda dengan lembu yang gendut, tambun dan lucu-lucu di jalanan. Sekarang, berapa harga sapi paling murah? Pada hari Idul Adha 2019, sapi yang bobotnya 300-an kg Rp17 juta atau Rp18 juta. Pada umumnya yang normal berkisar Rp20 juta hingga Rp40 jutaan. Bobot tubuh sapi rata-rata di bawah 500 kg.  Di atas itu, boleh disebut “sapi negeri”, dengan ras pendatang: brahman, ongole, simental, dan limosin.

Tantangannya memang bagaimana mencukupi kebutuhan daging sapi yang cenderung meningkat dari tahun ke tahun? Menurut Badan Pusat Statistik sebelum 2014 populasi sapi nasional  13 juta ekor dan laju kenaikan 200.000 ekor setahun. Namun, dalam waktu kurang dari lima tahun jumlahnya meningkat menjadi 16,8 juta dengan penambahan satu juta ekor dalam setahun.

Bagaimana caranya? Pemerintah punya Upsus Siwab – upaya khusus sapi indukan wajib bunting. Inseminasi buatan ditingkatkan hingga lebih dari 1 juta setiap tahun. Oleh karena itu, jumlah kelahiran sapi dapat dinaikkan hingga 500 persen.  Itu perlu ditambah terus, karena setiap hari Idul Qurban, perlu setengah juta ekor sapi untuk seluruh Indonesia. Saat itulah masyarakat diwajibkan menikmati daging, sekurang-kurangnya sehari dalam setahun.

Konsumsi daging

Jangan lupa, konsumsi daging per kapita bangsa Indonesia belum mencapai 12 kg per tahun.  Lebih rendah daripada Thailand 25 kg, Filipina 33 kg, apa lagi Australia 110 kg dan Amerika Serikat 120 kg per kapita per tahun. Tentu– anjuran makan satai, gulai, dendeng, dan abon sapi ini tidak berlaku bagi kaum vegetarian.  Maaf. Yang penting sekarang, bagaimana peternakan sapi boleh membantu memakmurkan desa dan menyejahterakan manusia.

Konsumsi daging sapi masih rendah, 12 kg per kapita per tahun.

Hal itu dimulai dengan mencukupi kebutuhan sapi untuk hari Idul Adha.  Dengan suksesnya upsus siwab, misalnya, Jawa Barat optimis pada 2020 tidak perlu mengimpor lagi sapi dari luar. Pada acara ekspo dan kontes  ternak Jawa Barat 2019, Wakil Gubernur Jawa Barat Uu Ruzhanul Ulum menilai perkembangan program swasembada sapi di Jawa Barat melebihi target. “Untuk akseptor metode inseminasi buatan atau kawin suntik, hingga Juni 2019 terealisasi 50.011 akseptor dari target 49.400 atau mencapai 100,2 persen,” katanya.

Hal ini tentu menggembirakan. Dari Sumatera Utara, Jawa Tengah, dan berbagai tempat terdengar kabar peternak sapi yang bersuka-cita karena lembu kesayangan mereka dibeli presiden.  Ada yang menerima Rp170 juta untuk dua ekor sapi limosin, tulis berbagai surat kabar.  Nah, kalau dengan dua ekor sapi saja berhasil meraup ratusan juta rupiah, tentu tidak sulit mencapai omzet di atas satu miliar rupiah.  Sudah saatnya peternak sapi Indonesia maju termasuk dengan sumber genetik lokal. Semoga lembu kampung boleh punya gengsi sebaik sapi negeri. ***

Tags: , , ,

 

Powered by WishList Member - Membership Software