Mikroba Berubah Plastik

Filed in Sayuran by on 01/02/2010 0 Comments

Itulah hasil riset Khaswar Syamsu, dosen Fakultas Teknologi Pertanian (Fateta) IPB sejak 2002. Ada 300 jenis mikroba mengandung PHA seperti azotobacter, bacillus, rhizobium, eutropha, dan pseudomonas. “Kandungan PHA terbesar salah satunya dihasilkan Ralstonia eutropha, mencapai 80%,” ujar Khaswar. Eutropha mudah ditemukan di dalam tanah dan perairan di tanahair.

Secara alami eutropha menghasilkan 30% PHA. Jumlah itu naik menjadi 80% saat dibiakkan dalam media glukosa. Eutropha memang mengkonsumsi glukosa sebagai sumber karbon dan energi. Indonesia memiliki sumber glukosa melimpah dari tanaman, seperti sagu Metroxylon sago. Singkong bisa dipakai tapi harus bersaing dengan pemanfaatan lain sebagai bahan bakar nabati. Lain dengan sagu yang baru 10—20% dimanfaatkan dari total area penanaman,” kata Khaswar yang memakai sagu sebagai media tumbuh eutropha.

Butuh glukosa

Sagu sebagai penyedia karbon perlu dihidrolisis terlebih dahulu menjadi senyawa sederhana alias monomer sebelum dapat dikonsumsi mikroba. Hasil hidrolisis itu kemudian ditambahkan sumber nitrogen, mineral, dan vitamin sebelum dipakai membiakkan mikroba. Penambahan sumber karbon dan nutrisi lain terbukti mendongkrak rendemen PHA di sel sebanyak 76,54% dengan konsentrasi monomer sagu sebesar 3,72 g/l.

Setelah sel mikroba bertambah gemuk barulah ia dipecahkan untuk mengambil PHA. Ciri sel menjadi gemuk itu adalah semakin besarnya warna putih yang menutupi sel. PHA yang diambil lalu diekstrak dan diolah menjadi biji plastik yang selanjutnya dibuat menjadi lembaran dengan memakai pelarut alami.

Agar lembaran elastis, Khaswar memberi tambahan pemplastik atau plasticzicer. Ada 2 pemplastik yang dipakai, yakni dimetil ftalat (DMF) dan dietilen glikol (DEG). Dari uji dengan penambahan 25% DEG memberi tingkat elastisitas sebesar 23,88%; kekuatan tarik 0,115 Mpa; dan titik leleh 166,71oC. Sebaliknya dengan 20% DEG elastisitas hanya 7,01%; kekuatan tarik 0,07 Mpa; dan titik leleh 167,51oC.

Kecepatan terurai? Berdasarkan uji biodegradasi dengan penambahan pemlastik DMF dan DEG menunjukkan lembaran plastik keduanya disukai mikroba tanah. Ini tampak dari waktu penguraian yang singkat sekitar 80 hari. Itu jauh lebih cepat daripada plastik berbahan petrolium yang dikenal selama ini seperti plastik belanja. “Butuh waktu ribuan tahun agar plastik itu hancur,” ucap Khaswar.

Pemplastik alami

Pemplastik sebaiknya menggunakan bahan alami. Menurut Agus Haryono, peneliti di Balai Besar Kimia dan Kemasan LIPI di Cibinong, Bogor, pemplastik yang digunakan saat ini mengandung dioctyl phthalate (DOP) dan di-(2-ethylhexyl) phthalate (DEHP). Keduanya mengandung racun. DOP, misalnya, bersifat karsinogenik dan merusak sistem endokrin; DEHP memicu kanker hati.

Sebab itu pula Agus memilih minyak sawit sebesar 20—60% untuk menggantikan DOP. Minyak sawit dipilih selain alami juga tidak beracun, mudah hancur, tahan panas dan sinar, serta ramah lingkungan. Minyak sawit itu perlu diesterifikasi untuk diambil asam oleatnya. Bahan utama plastik yang dipakai masih terbuat dari polyvinylchloride (PVC). Meski demikian, plastik PVC ramah lingkungan karena mudah diurai. Lihat saja dari uji pada hari ke-21 lebih dari 15% plastik hancur. Keunggulan lain, elastisitas naik menjadi 450 Mpa.

Khaswar dan Agus mendukung gerakan go green yang terus dikampanyekan di berbagai penjuru dunia. Maklum saja, setiap tahun jutaan ton sampah plastik mengotori bumi. Produksi sampah plastik di Indonesia mencapai 3,8-juta ton dan 2-juta ton di antaranya berasal dari kantong plastik alias kresek. Ada 3 cara yang lazim dipakai mengurangi limbah itu, yakni didaur ulang, dibakar, atau dipendam.

Sayang, selalu ada plastik daur ulang yang tidak jelas kandungan bahan kimia dan riwayat awal penggunaan plastik itu. Contoh plastik hitam yang telah dilarang pemakaiannya oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) pada 14 Juli 2009 untuk langsung dipakai membungkus makanan siap saji. Musababnya, saat panas plastik naik, ia akan melepaskan senyawa bersifat karsinogenik. Namun, tidak semua bahan plastik dari minyak bumi berbahaya. Plastik berbahan polyethylene (PE) dan polypropylene (PP) relatif aman dipakai sebagai wadah makanan.

Tren penggunaan plastik biodegradable belakangan mulai marak di tanahair sejak setahun terakhir seperti beberapa supermarket besar . “Kemungkinan bahan utama plastik itu masih terbuat dari minyak bumi. Namun sudah ada tambahan bahan yang membuatnya mudah hancur di tanah,” kata Khaswar.

Plastik PHA belum bisa berkembang karena biaya pembuatannya masih mahal. Sebagai ilustrasi 1 kg plastik dari minyak bumi diperlukan biaya US$1; plastik PHA US$5—16 per kg. Jika dipakai pemplastik dari turunan minyak sawit, tersandung biaya mahal bahan baku. Turunan minyak sawit Rp3.500/l; DOP hanya Rp2.200/l. (Lastioro Anmi Tambunan)

 

  1. Biji plastik PHA
  2. Beberapa supermarket kini menggunakan plastik biodegradable
  3. Khaswar Syamsu meriset plastik PHA dari mikroba

Foto-foto: Lastioro Anmi Tambunan

 

 

Powered by WishList Member - Membership Software