Mereka Patut Didamba

Filed in Tanaman hias by on 31/08/2011

 

Dendrobium dianae berbunga sepanjang tahunDipondium brevilabium, sosok tanaman sepert pandanwangi sehingga dijuluki anggrek pandanSetelah menunggu 5 bulan, anggrek yang dibeli Petrus Kurniawan dari seorang penangkar anggrek di Kalimantan Tengah, akhirnya memunculkan bunga. Namun, bukan rona bahagia yang tergambar di wajah kolektor anggrek spesies di Kelapagading, Jakarta Utara, itu. Ia malah kecewa lantaran bunga yang muncul bukan jenis anggrek yang didamba.

Ketika itu Petrus membeli Dendrobium lampongense yang tergolong langka. Anggrek endemik Lampung itu memiliki ciri khas bunga berwarna kuning muda dengan labellum alias bibir lebar. Tepi labellum bergerigi. Sedangkan bunga yang muncul berwarna kuning tua, bagian kelopaknya seperti bertanduk. Ukuran bunga juga lebih kecil yakni hanya selebar 1,6 – 1,8 cm. Setiap tangkai tumbuh 4 – 12 kuntum bunga sehingga terlihat sangat padat.

Temuan baru

Lantaran penasaran, Petrus pun mengidentifikasi jenis anggrek miliknya itu pada peneliti anggrek di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Destario Metusala. Eureka! Ternyata anggrek yang dikoleksi Petrus  itu adalah Dendrobium dianae yang ditemukan Destario pada 2010 silam. Kabar gembira dari sang penemu itu menjadi pengobat kecewa bagi Petrus. “Saya malah merasa beruntung karena memiliki anggrek yang belum lama ditemukan. Jadi belum banyak hobiis yang mengoleksi,” katanya.

Destario menemukan Dendrobium dianae saat melakukan ekplorasi ke Kalimantan Tengah. Anggota famili Orchidaceae itu hidup di ketinggian 300 – 900 meter di atas permukaan laut dengan intensitas cahaya matahari 50 – 70%. Dianae berbunga sepanjang tahun. Menurut Destario, spesies itu memiliki kedekatan morfologi dengan Dendrobium muluense dari Sarawak, Malaysia. Perbedaannya, dianae memiliki dua buah kalus sejajar yang memanjang dan membujur di permukaan cuping tengah bibir bunganya.

Dalam 5 tahun terakhir aneka jenis anggrek baru banyak ditemukan di tanahair. Pada 2006, Destario berhasil menemukan  Dendrobium floresianum. Anggrek endemik Flores, Nusa Tenggara Timur, itu memiliki ciri khas bunga berwarna hijau dengan garis-garis merah keunguan di sepal dan petal, serta labellum berwarna putih.  Lebar bunga 2 cm dan panjang tangkai 5 cm. Setiap tangkai terdiri sampai 15 kuntum bunga. Bunganya yang  cantik membuat Petrus rela menyambangi Flores demi mendapatkan D.  floresianum.

Walau ditemukan di daerah pegunungan, floresianum mampu beradaptasi di dataran rendah seperti Jakarta. “Asal kelembapannya cukup, tanaman akan berbunga,” ujar Petrus. Ia menyiram tanaman epifit itu tiga kali sehari jika cuaca sangat panas. Floresianum menyukai sirkulasi udara lancar, dengan intensitas cahaya matahari 50 – 70%. Keindahan bunganya bisa dinikmati pada Januari, April – Mei, dan September – Oktober.

Pada Januari 2008, nama belakang Destario – Metusala – diabadikan dalam nama anggrek Vanda metusalae. Anggrek itu ditemukan oleh Peter O’Byrne saat ekspedisi ke Sulawesi pada 2005. Sosok tanamannya pendek. Tingginya hanya 50 cm dan berdiameter batang 1,2 – 1,5 cm. Ciri khas bunganya berwarna kuning terang dengan pola bercak merah kecokelatan pada tepi kelopak.

Pada bunga juga terdapat bercak yang membentuk pola garis-garis longitudinal searah pembuluh. Pada labellum terdapat 3 ruang dengan ujung lebar dan tepi bergelombang. Warna labellum kuning cerah pada pangkal dan semburat kecokelatan pada bagian ujung. Uniknya bentuk labellum  menyerupai paruh bebek.

Sayangnya pertumbuhan vegetatif metusalae sangat lambat. Daya adaptasinya juga rendah sehingga tanaman baru gampang stres. “Lingkungan tumbuhnya sangat spesifik sehingga membutuhkan kelembapan, suhu, aerasi, dan intensitas cahaya yang benar-benar mirip di habitat aslinya,” ujar Rio – panggilan akrab Destario. Meski begitu Petrus tak surut untuk menjadikan vanda asal Celebes itu sebagai salah satu koleksi.

Anggrek pandan

Spesies anggrek baru juga ditemukan di Papua pada 2008 yakni Dipodium brevilabium.  Sosoknya menyerupai pandan wangi Pandanus amaryllifolius. Karena itu sering disebut anggrek pandan. Tinggi sosok tanaman mencapai lebih dari 1 meter. Ia tumbuh  memanjat pada batang pohon-pohon besar. Anggrek pandan adaptif di ketinggian 200 – 700 m dpl dengan intensitas cahaya 50 – 70%.

Bunganya tak kalah cantik. Ia memiliki warna dasar kuning dengan corak totol merah marun. Keindahan bunga dapat dinikmati selama 15 – 20 hari. Hanya saja ia hanya berbunga setahun sekali yakni pada Juli – Agustus.

Anggrek pandan memiliki karakter morfologi yang unik: bibir bunga pendek dan lobus tengah yang membulat. Itulah sebabnya anggrek itu diberi nama brevilabium berasal dari kata brevis yang dalam bahasa Latin berarti pendek dan labium artinya bibir. Anggrek itu hanya dijumpai di Papua. Karena itu anggrek pandan mesti segera dilestarikan agar tidak punah di habitatnya. Penemuan aneka jenis anggrek baru itu menunjukkan bahwa masih banyak kekayaan anggrek tanahair yang belum terungkap. (Pranawita Karina/Peliput: Tri Susanti)

 

Powered by WishList Member - Membership Software