Mereka Memang Kampiun

Filed in Perkebunan by on 02/08/2013
Klon tebba diduga berasal dari persilangan induk dari Kelurahan Noling, Kabupaten Luwu, Provinsi Sulawesi Selatan dan kakao induk dari Kabupaten Kolaka Utara, Provinsi Sulawesi Tenggara

Klon tebba diduga berasal dari persilangan
induk dari Kelurahan Noling, Kabupaten
Luwu, Provinsi Sulawesi Selatan dan kakao
induk dari Kabupaten Kolaka Utara, Provinsi
Sulawesi Tenggara

Kakao superunggul dengan produksi 6 kg biji per pohon. Rata-rata produksi nasional  hanya 1—2 kg.

Pohon kakao setinggi 4 m itu  menghasilkan 200 buah. Panjang buah 24 cm dengan kulit buah muda berwarna hijau dan tebal; saat tua, kekuningan. Biji gepeng dengan kotiledon atau kulit biji berwarna ungu ketika basah. Bobot biji berkisar 1—2 g. Setiap buah menghasilkan rata-rata 1,47 g per biji. Artinya 200 buah setara 6  kg biji kering.

Itulah sosok jawara dalam kontes kakao unggul nasional. Tim dari Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia (Puslitkoka) menabalkan pohon itu sebagai pemenang lomba Kakao Unggul Nasional 2012. Itu setelah anggota tim mendatangi satu per satu lokasi tumbuh peserta kontes. Pada babak akhir, terdapat 10 unggulan dan panitia kontes menetapkan tiga terbaik yang akan dirilis sebagai klon unggul nasional. Pohon yang menghasilkan 200 buah itu, misalnya, kini beralih nama menjadi klon SM 1 singkatan dari Sumbermanggis, nama desa di Kecamatan Siliragung, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur,  yang menjadi tempat tumbuhnya.

Setelah 22 tahun

Ir Dwi Basuki, manajer kebun Kalitlepak PT Perkebunan Nusantara XII

Ir Dwi Basuki, manajer kebun Kalitlepak PT
Perkebunan Nusantara XII

SM1 tergolong kakao jenis forastero—kakao berkualitas menengah—hasil keturunan biji dari induk jenis sama asal Kecamatan Tanjungmorawa, Kabupaten Deliserdang, Provinsi Sumatera Utara.

Ketinggian Tanjungmorawa dan Sumbermanggis berkisar 100—150 meter di atas permukaan laut (dpl). Itu cocok untuk pertumbuhan optimal tanaman kakao yang mensyaratkan ketinggian kurang dari 600 m dpl. Anggota staf kebun Kalitlepak PT Perkebunan Nusantara XII kemudian menanam biji-biji hibrida itu di polibag pada tahun 1990. Selang 8 bulan ia memindahkan bibit setinggi 40—50 cm dan tumbuh 4 pasang daun ke lahan seluas    450 ha. Ir Dwi Basuki Setiadi, manajer kebun Kalitlepak PTPN XII (Persero) Banyuwangi, baru menyadari terdapat sebuah pohon dengan produktivitas tingggi setelah

22 tahun kemudian. Ia menduga klon SM1 berasal dari hasil persilangan alami antar keturunan induk sama sehingga muncul sifat unggul.

Meski produksi unggul, perawatan SM1 standar. Dwi Basuki membenamkan 500 g campuran pupuk terdiri dari 2 bagian Urea, 1 bagian TSP, dan 1 bagian KCl per pohon, setahun sekali. Itu ia lakukan pada April dan November. Pasalnya pada April, tanaman sedang membesarkan buah; November, pemulihan tanaman pascapembuahan. Petugas memangkas daun setiap

1—2 bulan atau 8 kali setahun untuk mengurangi kelembapan, meningkatkan intensitas sinar matahari, serta mencegah hama dan penyakit. Pascapemangkasan, ia memacu pertumbuhan vegetatif dengan seliter pupuk daun per ha tiap bulan sepanjang tahun.

Untuk mendeteksi serangan hama penyakit, alumnus Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya, Malang, itu melakukan pengamatan berkala. Pasalnya, pada fase dini serangan kepik Helopeltis sp, pengggerek buah kakao (PBK), dan VSD (Vascular Streak Dieback) bisa dikendalikan. Namun, jika serangan telanjur berat, penanggulangan menjadi sulit. Untuk mengatasi kepik Helopeltis sp, penggerek buah kakao (PBK), Dwi menyemprotkan insektisida berbahan aktif BPMC dan alfa sipermetrin 50% per ha.

Sementara, untuk mengatasi cendawan Phytophthora palmivora penyebab penyakit busuk buah, Dwi memetik buah yang terserang dan membenamkan di dalam tanah. Itu bertujuan untuk menghilangkan penyebab penyakit. Kemudian ia menyemprotkan fungisida berbahan aktif belerang, mankozeb 80%, tembaga oksida 56%, atau propineb. Dosis tergantung tingkat serangan. Saat musim hujan, ia menyemprot setiap hari. Musim kemarau intensitas penyemprotan berkurang, bahkan tidak menyemprotkan fungisida, karena tingkat serangan hama menurun.

 

Pohon klon SM (sumbermanggis) 1 setinggi 4 meter mampu memproduksi 200 buah per pohon per tahun

Pohon klon SM (sumbermanggis) 1 setinggi 4 meter mampu memproduksi 200 buah per pohon per tahun

Semut hitam

Di peringkat kedua, ada klon tebba dari Kabupaten Soppeng, Provinsi Sulawesi Selatan. Menurut Asmawi  Sumanga SP, pekebun kakao di Kabupaten Soppeng, Provinsi Sulawesi Selatan, klon tebba mampu memproduksi 2 kg biji kakao per pohon per tahun. Klon turunan kedua hasil persilangan klon asal Malaysia-Jember dan klon dari Kolaka Utara itu tergolong kakao lindak, nama lain dari forastero. Asmawi tidak tahu persis asal-usul tebba.

Ia menduga itu hasil persilangan antarpohon kakao induk di Kelurahan Noling, Kecamatan Buaponrang, Kabupaten Luwu, Provinsi Sulawesi Selatan dan kakao induk di Kabupaten Kolaka Utara, Provinsi Sulawesi Tenggara. Tebba mewarisi sifat kedua induk itu. “Petani membawa biji-biji itu tanpa melihat asal-usulnya,” kata pria dua anak itu. Menurut Asmawi sifat buah matang berwarna kekuningan diturunkan dari kakao asal Jember dan daun lonjong dari kakao asal Malaysia. “Sifat lain saya lihat mirip dengan kakao di Kolaka Utara,” ujar Asmawi.

Klon di Kelurahan Noling rata-rata berasal dari Malaysia dan Jember. Seiring waktu, terjadi perkawinan silang dan membentuk klon baru. Klon baru itu lalu secara alami kawin silang dengan kakao lokal Kolaka Utara menghasilkan klon tebba. Maklum, di Kabupaten Kolaka tumbuh berbagai jenis pohon kakao dari banyak tempat. Sifat lain berasal dari pohon petani yang menjual biji.

Ketika panitia lomba mengunjungi pohon tebba, produksinya hanya 2 kg biji kering. Namun, “Saat puncak panen produksi sampai 10 kg per pohon,” kata pria berusia 37 tahun itu. Itu yang membuat tebba mengungguli brosno 01, juara ketiga. Produktivitas brosno 01 mencapai 2,25 kg per pohon per tahun. Dibandingkan SM1 dan tebba, brosno 01 paling rentan PBK. Itu sebabnya Brosno Efridah, sang pemilik, melakukan pengendalian dengan semut hitam.

Ia mengikat sabut kelapa atau tanaman liar kering di batang, lalu menyemprotkan air gula. Beberapa jam berselang, semut hitam akan datang dan bersarang (Baca: Di Bawah Lindungan Semut, Trubus Juni 2012). Namun, ketika musim hujan tiba, ia membuang rumah semut untuk menghindari cendawan Phytophthora infestans. Di lahan 2 ha milik Brosno di Kabupaten Lahat, Sumatera Selatan, ada 1.000 pohon kakao. “Namun, yang produktif seperti brosno 01 hanya

1 pohon,” kata pria 53 tahun itu. Ia menanam kakao pada 2007 di lahan yang sebelumnya ia tanami kopi robusta selama 8 tahun.

Secara umum, SM1, tebba, dan brosno 01 mampu memproduksi biji lebih dari 2 kg per pohon per tahun. Itu lebih tinggi daripada rata-rata nasional yang berkisar 1—2 kg per pohon per tahun.

Menurut data Badan Pangan dan Pertanian Dunia FAO, Indonesia berada di posisi ke-3 penghasil kakao dunia dengan produksi 400.000 ton per tahun. Sentra kakao terbesar di Indonesia Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Tenggara dengan total produksi tahunan 350.000 ton. Kehadiran klon-klon produktif itu menjadi andalan untuk meningkatkan produksi kakao nasional. (Lutfi Kurniawan)

 

Powered by WishList Member - Membership Software