Mereka Datang dari Benua Hitam

Filed in Tanaman hias by on 01/07/2009 0 Comments

Keempat puluh lidah mertua itu pindah ke tangan kolektor di Jakarta, Yogyakarta, dan Surabaya. Kenyataan bahwa nama spesies jenis-jenis itu belum teridentifikasi dengan jelas tidak menyurutkan langkah para kolektor. ‘Karakter daun tebal, keras, besar, dan jenis langka (belum banyak di tanahair, red) jadi alasan kuat untuk memiliki,’ kata Handhi, pemilik nurseri Rumah Pohon yang mengimpor sansevieria itu.

Pantas saat ini penjualan Handhi didominasi spesies-spesies asal Benua Hitam. Setiap bulan terjual 500 seedling berdaun 4 – 5 helai dengan panjang daun 5 cm. Harganya Rp500.000 per pot. Itu ditambah 50 – 100 anakan berdaun di atas 5 cm dengan harga Rp500-ribu – Rp2,5-juta/pot.

Raja naga

Pergerakan penjualan sansevieria asal Afrika juga terlihat di nurseri Godongijo di Sawangan, Depok, Jawa Barat. Chandra Gunawan, si empunya nurseri, mendatangkan anggota famili Agavaceae itu langsung dari Afrika via Bangkok pada Oktober dan Desember 2008. Total jenderal ada 382 tanaman berdaun tebal dengan jenis beragam. Sebut saja Sansevieria hallii ‘pink bat’ asal Afrika Selatan; S. kirkii, Tanzania; S. scimitariformis, Mozambik; dan S. humiflora, Zimbabwe.

Dua bulan pascaperawatan, sansevieria-sansevieria itu mulai terjual. Hingga pertengahan Juni 2009 sebanyak 332 tanaman induk dan 13 anakan ludes dengan kisaran harga Rp1,5-juta – Rp30-juta per pot.

Perniagaan di nurseri Handhi dan Chandra menegaskan pelacakan Trubus sejak setahun terakhir: sansevieria spesies asal Afrika tengah digandrungi. Salah satu tonggaknya saat Edi Sebayang, kolektor di Tangerang, Banten, mendatangkan dragon king pada akhir Agustus 2008. Sansevieria asal Zimbabwe itu langsung memikat banyak hobiis karena daun tebal dan sosok lebih besar dibanding silver blue dan douglas. Dua jenis yang disebut terakhir dianggap sebagai lidah jin tebal terbaik saat itu. Sejak itu perniagaan dragon king – dan jenis Afrika lain – marak.

Tengok saja omzet penjualan di nurseri Sas Flora, Surabaya, Jawa Timur, sejak 6 bulan terakhir. Sapto Nugroho SE dan Fathiyah Amieni SE, pemilik nurseri, mengantongi Rp50-juta/bulan. Itu 2 kali lipat ketimbang penjualan pada awal 2007. ‘Delapan puluh persen yang terjual adalah sansevieria berdaun tebal dan silinder,’ kata Fathiyah Amieni. Sebut saja S. suffruticosa, S. bella, dan S. lavranos – semua asal Afrika.

Itu pun belum semua permintaan terlayani. Maklum naiknya permintaan tidak bisa diimbangi kecepatan perbanyakan. Sansevieria asal Afrika tumbuh lambat. ‘Dengan cacah daun, dalam 6 bulan ukuran anakan baru seujung kuku,’ kata Djumiati, pemilik nurseri Watuputih, Yogyakarta.

Makin sering

Hal sama dialami Aries Andi pemilik nurseri Sekar Kampoeng, Yogyakarta. Sejak awal 2009 ia menjual 300 pot sansevieria per bulan. Jenis yang diminati berdaun tebal seperti lavranos, pinguicula, dan pink bat. Bandingkan dengan 2007 yang hanya mampu menjual 200 pot per bulan.

Harga mahal – karena pertumbuhan dan perbanyakan sansevieria asal Afrika lambat – tidak mengurungkan hobiis untuk mengoleksi. Romeo R Paoki di Sidoarjo, Jawa Timur, rela merogoh Rp15-juta untuk S. lavranos 24561. Itu untuk mendampingi S. sinus asal Zimbabwe dengan daun sepanjang 25 cm dan diameter 4,5 cm yang dibeli 3 bulan sebelumnya senilai Rp10-juta. ‘Keduanya langka sehingga layak dikoleksi,’ kata pengusaha bahan kimia itu. Alasan serupa membuat Titi di Surabaya juga mengoleksi sansevieria spesies asal Afrika sejak setahun silam.

Di luar euforia mengoleksi lidah jin Benua Hitam, dunia sansevieria tanahair tak putus marak. Kian seringnya frekuensi kontes salah satu indikasinya. Fathiyah Amieni mencatat di Surabaya saja digelar 6 kontes pada 2008. Sementara data dari Taufik Hidayat, Tangerang Sansevieria Club, pada tahun sama ada 10 kontes diselenggarakan di Jabodetabek. Memasuki 2009 – hingga Juni – 2 kontes sudah digelar di Surabaya, 6 kontes di Jabodetabek.

Menurut Willy Poernawan SE, dari Forum Komunikasi Sanseviera Indonesia, Yogyakarta, frekuensi kontes meningkat seiring dengan munculnya komunitas pencinta sansevieria. Di Yogyakarta ada Masyarakat Sansevieria Indonesia (MSI) yang berdiri sejak 2006.

Sekarang cabangnya muncul di minimal 7 kota di Jawa. Ada pula Masyarakat Sansevieria Jawa Timur (MSJT), Madura Sansevieria Society (MSS), Tangerang Sansevieria Club (TSC), Jember Sansevieria Community (JSC), Paguyuban Sansevieria Pati (PSP), Solo Sansevieria Society (SSS), dan Komunitas Sansevieria Klaten (KSK).

Luar Jawa

Di luar Pulau Jawa geliat lidah mertua pun kian terasa. Di Bangka, misalnya, pencinta sansevieria sudah 2 kali mengadakan kontes, masing-masing pada 2008 dan 2009. Para pemainnya, misal Andri Kurniawan dan Idris Tajib, tengah gandrung jenis boncel. Boncel yang dimaksud adalah lidah jin yang berpenampilan mini secara alami dan dengan perlakuan – diberikan larutan pengerdil. Sansevieria mini itu marak di Pulau Jawa sejak 2008.

Sementara pencinta di Palu, Sulawesi Tenggara, seperti Yunita Anallilah Sondi SP menyukai jenis-jenis berdaun tebal incaran pemain sansevieria sejak 2007 – 2008. Kegandrungan para hobiis dan pemain pada sansevieria daun tebal terus berlanjut hingga sekarang. Buktinya spesies asal Afrika yang berkarakter seperti itu kini jadi yang paling dicari. (Rosy Nur Apriyanti/Peliput: Faiz Yajri dan Nesia Artdiyasa)

 

 

Powered by WishList Member - Membership Software