Merawat Padang Lamun

Filed in Eksplorasi, Majalah by on 11/02/2019

Lamun menjadi makanan penyu hijau Chelonia mydas.

 

Lamun menyimpan potensi besar tapi belum tersentuh.

“Kalau kakak mau turun silakan, tapi nanti kalau digigit ular saya tada mau angkat.” Demikian perkataan nahkoda perahu cepat bermesin kembar, Ramli Latief. Trubus menyewa perahu itu untuk menjelajahi perairan pulau-pulau kecil di sekitar Kabupaten Rajaampat. Perahu Ramli mengarah ke pulau karang berpantai landai. Tebing karang di pulau itu tampak ditumbuhi kantong semar Nepenthes sp sehingga tim Trubus tertarik merapat.

Terumbu karang tumbuh baik dekat padang lamun.

Sekitar 70 m menjelang pantai, dasar laut dangkal dipenuhi lamun. Jika ingin merapat, turbin bisa terbelit tanaman air anggota famili Hydrocharitaceae itu. Sebelumnya Ramli tidak segan turun dan berjalan di air setinggi dada untuk menarik perahu. Namun, padang lamun itu membuatnya jeri. “Sering ada ular laut bersembunyi di sela lamun,” ujarnya. Saat salah satu anggota tim mencoba berkeras merapat, Ramli mempersilakannya turun sendiri.

Namun, ia tidak bertanggungjawab kalau sang personil digigit ular laut. Maklum, ular laut sohor memiliki bisa berkekuatan hingga 7 kali bisa ular darat. Nama padang lamun tidak setenar terumbu karang atau hutan mangrove. Meski demikian, seagrass bed itu menjadi bagian vital ekosistem pantai. Berbagai makhluk menggantungkan hidup kepada padang lamun. Selain ular laut yang membuat Ramli ketakutan, hamparan lamun menjadi tempat hidup bulu babi, berbagai jenis udang, siput, bintang laut, ikan, penyu, dan dugong.

Burung laut jenis pecuk memangsa ikan di sana sehingga hidup mereka pun bergantung kepada padang lamun. Dalam “Seagrass and Seagrass Beds”, periset ekosistem pesisir di University of California, Amerika Serikat, Pamela Lynn Reynolds, Ph.D mengungkapkan bahwa hamparan lamun seluas 0,4 ha (1 acre) menyokong kehidupan 40.000 ikan dan 50 juta makhluk laut kecil lain. Pamela menyatakan, secara naluriah nelayan tradisional di seluruh dunia menuju padang lamun ketika mencari ikan. Setelah manusia bisa membuat kapal besar yang mampu menjelajahi samudera, barulah era perikanan laut dalam dimulai.

Ketua Yayasan Lamun Indonesia (Lamina), Aditya Hikmat Nugraha, S.Si, M.Si menyatakan, lamun berbeda dengan rumput laut. “Yang kita sebut rumput laut adalah alga (seaweed) yang dibudidayakan untuk pangan. Untuk membedakan dengan rumput laut, seagrass diterjemahkan menjadi lamun,” kata Aditya. Pencetusnya adalah periset senior Pusat Penelitian Oseanografi LIPI, Jakarta Utara, Dr. Malikusworo Hutomo pada 1985. Menurut Aditya, ekosistem pantai ideal tersusun atas mangrove, padang lamun, dan terumbu karang. Ketiga komponen itu saling mempengaruhi.

Mangrove dan padang lamun menjadi bagian penting ekosistem pesisir.

Perairan jernih di terumbu karang adalah peran mangrove dan padang lamun. Ketika mangrove lenyap, sedimen dari daratan masuk ke padang lamun. Perairan yang keruh akibat sedimen menghambat fotosintesis sehingga lamun pun hilang. Tanpa penghalang, sedimen dari daratan mengubur terumbu karang membuat hewan polip penyusun karang tidak bisa makan dan akhirnya mati. Padang lamun menahan sedimen larut ke laut dan mengurangi kecepatan gelombang sehingga mencegah abrasi.

Lamun memerlukan perairan jernih dan dangkal sehingga leluasa menyerap sinar matahari . Kedalaman padang lamun maksimal 25 m, kebanyakan di 1—3 m. Dalam buku Hilamun, dosen Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Sam Ratulangi, Manado, Sulawesi Utara, Ir. Billy Theodorus Wagey, M.Sc, Ph.D menyatakan lamun hidup di kawasan intertidal. Di kawasan itu lamun terlindung dari gelombang, tapi ketinggian air ketika surut mampu menahan kenaikan suhu air. Lamun mampu tumbuh di berbagai substrat, baik lumpur, pasir, maupun berbatu.

Namun, padang lamun paling luas terdapat di dasar perairan bersubstrat lunak, seperti pasir atau lumpur. Kisaran kedalaman hidup tumbuhan hilamun berkaitan erat dengan ketersediaan sinar matahari untuk fotosintesis. Posisi di garis khatulistiwa menjadikan Indonesia ideal untuk pertumbuhan lamun. Pamela Lynn Reynolds menyatakan keragaman lamun di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, tertinggi di dunia. Ada 14 spesies lamun tumbuh bersama di perairan Asia Tenggara hingga Australia dan Pasifik Barat.

Di kawasan lain yang sama-sama tropis seperti Burundi, Etiopia, atau Mozambik di Afrika maupun Kolombia, Brasil, atau Suriname di Amerika, hanya 7—11 spesies yang dijumpai. Lagi-lagi masyarakat tanah air abai dengan kekayaan alam sendiri. Padahal secara tradisional nenek moyang orang Indonesia memanfaatkan lamun sebagai bahan makanan tambahan, herbal, membuat keranjang, atau pupuk organik.

Bulu babi, salah satu fauna bermanfaat dari padang lamun.

Seiring kemajuan, tradisi itu justru dijauhi. Padahal kandungan gizi lamun tidak kalah dengan serealia pokok seperti nasi atau gandum (baca boks “Sumber Gizi dari Pantai” halaman 84). Hamparan tumbuhan berbiji terbuka itu juga menjadi habitat berbagai fauna laut. Salah satu penghuni padang lamun yang biasa dikonsumsi masyarakat Indonesia adalah ikan baronang Siganus sp. Riset mahasiswa Departemen Manajemen Sumberdaya Perairan Institut Pertanian Bogor, Amanah Haqqul Azli, membuktikan, 46,8% makanan baronang jantan adalah lamun. Sementara pada baronang betina, lamun menjadi 28% bagian makanannya.

Padang lamun dekat tujuan wisata kerap rusak tertabrak perahu.

Salah satu sumber pasokan baronang di DKI Jakarta adalah padang lamun di Kabupaten Kepulauan Seribu. Sayang, kondisi padang lamun di sana terus menurun. Mengutip data Taman Nasional Kepulauan Seribu (TNKpS), periset Jurusan Geografi Universitas Negeri Jakarta, Asma Irma Setianingsih dan Muzani menunjukkan penurunan tutupan lamun di Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu. Dalam kurun 2009—2012, tutupan lamun di 3 stasiun pengamatan di Pulau Pramuka rata-rata berkurang 33,6%.

Masyarakat suku laut memanfaatkan lamun sejak nenek moyang.

Pemicunya adalah aktivitas manusia. Hanya 1 dari 3 stasiun pengamatan itu yang lokasinya dekat mangrove dan jauh dari timbunan sampah maupun limbah cair domestik, yaitu stasiun di sisi utara pulau. Di stasiun 2 (sisi timur pulau), ada 2 tempat pembuangan sampah yang sebagian sampahnya masuk ke perairan. Sudah begitu, ada 2 saluran limbah domestik yang mengalir ke perairan dekat stasiun pengamatan itu. Di stasiun 3 yang berada di sisi selatan dan dekat resor, sampah padat pun menggenang di perairan.

Kehadiran sampah padat dan limbah cair itu mengubah parameter air laut. Di stasiun pengamatan 2, pH air malah melonjak hingga tingkat basa, menjadi 8,2. Lazimnya pH air laut 6,5—7,2. Asma dan Muzani menduga itu pengaruh limbah deterjen, sabun mandi, atau sabun cuci piring. Air menjadi keruh sehingga fotosintesis tanaman lamun terganggu. Sudah begitu, di stasiun 2 dan 3 ada reklamasi untuk memperluas daratan serta meletakkan dam pemecah ombak. Pengurukan itu keruan saja menghilangkan apapun yang tumbuh di dasarnya, termasuk lamun.

Budidaya rumput laut bisa dilakukan di padang lamun.

Ketika lamun hilang, sirna pula biota yang berhabitat di sana. Aditya menyatakan, padang lamun menjadi tempat berpijah dan fase juvenil beberapa jenis ikan terumbu karang. Dalam buku Laut Nusantara, purnatugas periset Lembaga Oseanografi LIPI Dr. Anugerah Nontji menulis, padang lamun menjadi habitat fauna penting antara lain dugong dan penyu. Dugong, menurut Aditya Hikmat Nugraha, menjalin hubungan saling menguntungkan dengan lamun. “Dugong disebut sapi laut karena ia mamalia laut yang herbivora. Salah satu makanannya adalah lamun,” kata pria berusia 27 tahun itu.

Saat makan, dugong mengaduk substrat lamun sehingga memperbaiki sirkulasi hara. Aktivitas itu ibarat memangkas sekaligus menggemburkan substrat sehingga kesuburan lamun terjaga. “Itu sebabnya lamun yang ada dugongnya lebih subur,” ujar Aditya. Makin subur, makin banyak satwa laut yang datang dan menggantungkan hidup. Nelayan pun tidak perlu melaut terlalu jauh untuk mencari ikan. Melestarikan padang lamun berarti melestarikan manusia.

Sumber Gizi dari Pantai

Menurut dosen Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Sam Ratulangi, Manado, Sulawesi Utara, Ir. Billy Theodorus Wagey, M.Sc, Ph.D, masyarakat Kabupaten Kepulauan Sangihe dan Kabupaten Kepulauan Talaud menyebut tanaman laut itu sebagai hilamun. Berbagai daerah mempunyai sebutan berbeda, yang menggambarkan akrabnya masyarakat pesisir Nusantara dengan lamun. Pada 1999, periset Marine Science Institute University of the Philippines di Quzeon, Filipina, Nemesio Montano menguak kandungan gizi spesies lamun yang banyak tumbuh di Filipina, yaitu Enhalus acoroides.

Nemesio mengeringkan biji lamun itu lalu menggilingnya menjadi tepung. Ia menganalisis kandungan nutrisinya. Hasilnya, sekilogram tepung biji lamun mengandung 8,8% protein, 0,2% lemak, 72,4% karbohidrat, 2,4% serat kasar, 933 mg kalsium, 2,39 g fosfor, dan 2,81 g besi. Kandungan kalsium itu lebih tinggi daripada tapioka (840 mg per kg), terigu (820 mg per kg), atau tepung beras (150 mg per kg). Kandungan zat besinya pun melampaui tapioka (0,01 g per kg) atau terigu (0,044 g per kg). Tepung beras malah sama sekali tidak mengandung zat besi.

Lamun berpotensi menyembuhkan tuberkulosis.

Hitung-hitungan Nemesio, semangkuk sereal memerlukan 53 buah lamun lantaran setiap buah rata-rata menyimpan 6,4 g biji. Setiap meter persegi padang lamun Enhalus acoroides menghasilkan 16,5 buah per tahun. Itu berarti untuk memproduksi semangkuk sereal lamun, padang lamun seluas 4 m2 perlu waktu setahun. Walau usaha budidaya biji lamun untuk sereal tidak akan menguntungkan, tapi ada manfaat lain yang potensial. Tepung biji lamun itu mampu menghadang bakteri TB resisten obat (multi drug resistance tuberculosis, MDR TB).

Periset dari Universitas Diponegoro, Sulistiyani dan rekan-rekan, membuktikan manfaat itu. Mereka mengkultur lamun Enhalus acoroides dari perairan di sekitar Kepulauan Karimunjawa, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah. Kultur lamun itu mereka papar dengan kultur bakteri MDR TB. Dari 9 sampel kultur lamun, 1 kultur mampu menghambat perkembangan MDR TB di cawan laboratorium. Meski memerlukan kajian lebih mendalam, lamun berpotensi menjadi bahan obat tuberkulosis resisten. (Argohartono Arie Raharjo)

Tags: , , , , , , , ,

 

Powered by WishList Member - Membership Software