Merawat Kehangatan Ulos

Filed in Eksplorasi, Majalah by on 15/07/2020

Monika Situmorang tengah menenun ulos bulu torus.

 

Merdi Sihombing memamerkan ulos silahisabungan di pergelaran Eco Fashion Week di Belgia pada Oktober 2019. Itu kali pertama Eco Fashion Week Indonesia diselenggarakan di Belgia. Sebelumnya Eco Fashion Week diadakan di Jakarta pada 2018. Merdi acap kali memperkenalkan ulos—secara harfiah bermakna kain—di berbagai negara seperti New York, Amerika Serikat, Berlin (Jerman), London (Inggris), Tiongkok, dan India.

Ulos berwarna biru hasil pewarnaan memakai daun tarum.

Panitia dari negara itu yang mengundang Merdi untuk memamerkan koleksinya. “Saya selalu membuat karya khusus sesuai tema dan keinginan pengundang,” kata alumnus Jurusan Seni Rupa Kriya Tekstil, Institut Kesenian Jakarta (IKJ), itu. Merdi membuat ulos ramah lingkungan dengan memanfaatkan aneka tanaman sebagai pewarna. Harap mafhum, produksi fesyen berkelanjutan yang ramah lingkungan tengah menguat.

Menurut dosen Jurusan Biologi, Universitas Udayana, Bali, Drs. Pande Ketut Sutara, M.Si., busana abad ke-21 berorientasi lingkungan. Penggunaan zat warna alam kembali menguat di kalangan perajin. Penggunaan pewarna sintetis yang tidak terurai, berpotensi mengganggu kesehatan, dan berdampak buruk bagi lingkungan. Jadi, tanaman sumber pewarna alami berprospek baik.

Merdi Sihombing menekuni pembuatan tenun asli Indonesia seperti ulos dengan menggunakan pewarna alami (eco fashion).

Merdi membudidayakan berbagai tanaman sumber pewarna alami seperti tarum Indigofera tinctoria di pekarangan rumahnya di Kecamatan Pangururan, Kabupaten Samosir, Sumatra Utara. Ia juga kerap membawa tanaman sumber pewarna alami dari daerah lain untuk ditanam di rumah. Budidaya aneka tanaman sumber pewarna memudahkan Merdi mendapatkan warna dan melestarikan tanaman sebagai pembelajaran bagi generasi muda.

Beberapa tanaman sumber pewarna itu daun tarum, akar mengkudu Morinda citrifolia, dan rimpang kunyit Curcuma longa. Warna biru berasal dari daun tarum, sedangkan akar mengkudu menghasilkan warna merah. Adapun rimpang kunyit sumber warna kuning. Pewarnaan alami pada ulos relatif sederhana. Meski begitu diperlukan ketelatenan agar hasilnya maksimal.

Mula-mula Merdi membersihkan benang dengan detergen. Setelah itu benang menjalani proses mordanting menggunakan daun widuri dan kemiri. Tujuannya agar serat mudah mengikat warna dan tidak cepat luntur. Selanjutnya benang dicelupkan ke dalam air rebusan bagian tanaman sumber pewarna alami. Merdi mengatakan, ”Daun widuri mengikat warna dari tanaman, sedangkan kemiri sebagai pelicin.”

Tiga model mengenakan ulos karya Merdi Sihombing pada acara Berlin Fashion Show.

Kemudian ia menjemur benang setelah dicelup beberapa kali dalam larutan pewarna alam. Langkah berikutnya ia memfiksasi benang dengan tawas dan kapur. Setelah dicuci dan kering, Merdi menenun ulos dari benang terwarnai itu. Menurut Pande perusahaan produsen tenun di Bali memanfaatkan tawas atau soda abu pada proses mordanting. Pande menyatakan, zat pewarna alam berasal dari alam seperti hewan, aneka mineral, dan tumbuhan.

Indigo salah satu tanaman sumber pewarna alami.

Daun, buah, biji, bunga, kulit kayu, batang, getah, dan akar merupakan bagian tanaman yang menyimpan zat pewarna alam. Pewarna alami didapatkan dari ekstraksi atau perebusan secara tradisional. Setiap tanaman menjadi sumber zat warna alam lantaran memiliki pigmen alam yang dipengaruhi oleh intensitas warna yang dihasilkan dan coloring matter (senyawa organik penentu warna dari zat warna alam).

Drs. Muhammad Takari, M.Hum, Ph.D., dosen di Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya (FIB), Universitas Sumatera Utara.

Menurut Merdi warna bahan alam bisa berbeda antarpenenun tergantung dari jenis benang yang dipakai. Misal daun ketapang bisa menghasilkan warna kuning serta abu-abu tua dan kehitaman. Bangsa Indonesia menggunakan zat pewarna alam secara turun temurun. Pemanfaatannya antara lain untuk mewarnai pakaian, kosmetik, makanan, dan kerajinan.

Warna alam di daerah tropis mempunyai keunggulan yang dapat mengimbangi warna sintetis seperti intensitas warna yang lebih rendah sehingga terkesan lebih sejuk dipandang mata, lembut, dan luwes. Kelebihan lain tenun dengan pewarnaan alam yaitu menghasilkan warna-warna elegan, bercita rasa tinggi, dan mengurangi pencemaran lingkungan. Sayangnya penggunaan tenun dari pewarna alami tidak tahan sinar matahari. Diperlukan perawatan khusus agar warna terjaga.

Ketersediaan tanaman sumber zat warna alam pun tidak menentu dan standar mutu tidak terjamin. Pemakaian pewarna alami pada tenun seperti ulos cenderung dikaitkan dengan unsur seni. Tentu saja konsumennya pun kalangan menengah ke atas dan pasar mancanegara. Ada pasar untuk tenun seperti ulos dengan pewarna alami karena masyarakat lebih peduli lingkungan.

Dr. Mangihut Siregar, M.Si., dosen di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Wijaya Kusuma Surabaya, Jawa Timur.

Menurut dosen di Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya (FIB), Universitas Sumatera Utara, Drs. Muhammad Takari, M.Hum., Ph.D., ulos merupakan pakaian berupa kain dengan beragam pola yang ditenun wanita Batak. Fungsi awal ulos untuk menghangatkan tubuh seperti selimut. Masyarakat Batak memiliki keyakinan bahwa ada tiga sumber kehangatan untuk tubuh manusia yaitu matahari, api, dan ulos. Nenek moyang dahulu hidup di dataran yang tinggi bersuhu dingin. Ulos menghangatkan mereka.

Ulos juga mempunyai fungsi sosiobudaya untuk memperkuat identitas suku dan simbol kebudayaan. Dosen di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Wijaya Kusuma Surabaya, Jawa Timur, Dr. Mangihut Siregar, M.Si., menyatakan, fungsi komoditas ulos makin berkembang menjadi industri budaya. Musababnya kebutuhan ulos bagi masyarakat Batak cenderung bertambah karena semua ritual adat memerlukan produk tenun itu.

Para kapitalis memanfaatkan unsur budaya itu menjadi industri ulos. Ratusan ulos pun bisa diproduksi dalam waktu satu hari memakai mesin penenun. Padahal, pembuatan ulos secara konvensional memerlukan waktu beberapa pekan hingga bulan tergantung dari jenis ulos. Salah satu penenun tradisional di Desa Lumbansuhisuhi, Kecamatan Pangururan, Kabupaten Samosir, Sumatra Utara, Ratna Sijabat memproduksi 4 ulos berukuran 4 m x 0,9 m dari dasar benang dalam sebulan.

Sebetulnya pewarnaan alami yang dilakukan Merdi menghidupkan tradisi pembuatan ulos peninggalan leluhur. Dahulu benang pun dipintal dari kapas. Kemungkinan tidak ada tanaman kapas lagi di Pulau Samosir. Jika ada pun mungkin hanya sedikit dan mayoritas warga lebih memilih benang sintetis aneka warna. Itu lebih praktis karena langsung pakai. Praktik ulos peninggalan nenek moyang tergerus perkembangan zaman.

Ratna Sijabat (paling kanan) menenun beragam ulos sejak 1996.

Mangihut menyatakan, industri kreatif yang timbul melalui pemanfaatn dan keterampilan setiap orang vital demi meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Contohnya kreasi baru yang bersumber dari ulos seperti tas, baju, sepatu, dan hiasan. Itu bisa terwujud berkat penggunaan mesin penenun sehingga masyarakat bisa memproduksi produk turunan ulos. Kreativitas itu menciptakan komoditas baru dari ulos yang diminati masyarakat Batak dan pengunjung Pulau Samosir.

Ulos sibolang khas Batak Toba digolongkan sebagai ulos berderajat tinggi meski cara pembuatannya relatif sederhana.

Meski memiliki peluang menjanjikan, industri ulos pun memliki beberapa tantangan seperti para penenun ulos tradisional yang terpinggirkan serta hilangnya nilai kesakralan dan pergeseran makna ulos. Merdi mengatakan, industri ulos untuk adat dan produknya mesti berjalan beriringan. Idealnya jenis ulos untuk adat tidak digunakan pada produk turunan tenun itu lantaran tidak etis. Harap mafhum setiap jenis ulos memiliki makna masing-masing.

Merdi pun mengajari pewarnaan alami ulos kepada sekitar 50 pelajar sekolah menengah pertama (SMP) dan sekolah menengah atas (SMA) di sekitar rumahnya sejak 2010. “Rencananya saya ingin membuat sekolah menenun,” kata desainer Indonesia yang menekuni eco fashion sejak 2007 itu. Ulos yang dahulu hanya digunakan dalam masyarakat Batak bertransformasi mengikuti zaman dan mulai dikenal dunia. (Riefza Vebriansyah)

Tags: ,

 

Powered by WishList Member - Membership Software