Merak Kasmaran Pemangku Takhta

Filed in Tanaman hias by on 05/07/2010 0 Comments

 

Edy melihat sansevieria milik Imam dari Nganjuk, Jawa Timur, itu lewat situs jejaring sosial 2 minggu pascakemenangan sang merak di ajang kontes pada Mei 2010. Koordinator juri Willy Purnawanto dan 5 juri – Sentot Pramono (Jakarta), Rusmadi (Kebumen), Ahmad Irfan (Yogyakarta), Sapto Nugroho (Surabaya), dan Nesia Artdiyasa (Trubus) – sepakat menobatkan jawara kelas utama round leaf majemuk itu di puncak klasemen dengan poin 240.

Nilai itu terpaut tipis dengan pesaing terberatnya S. ‘monkey bay’ milik Tangerang Sansevieria Club (TSC) dengan poin 220 dan S. sinusimiorum ‘green’ milik Teksan dengan poin 206. Sebenarnya sosok monkey bay dan green sinus juga dewasa dan lebih langka. Daun kedua jawara di kelas utama flat leaf tunggal  dan round leaf tunggal itu pun mulus. Namun, ‘Secara umum kesan pertama suffruticosa jauh lebih memikat. Tingkat kesulitan dan kestabilan perawatan suffruticosa majemuk juga lebih sulit,’ kata Sentot.

Jejak sejarah

Menurut Rusmadi, kemulusan ratusan daun suffruticosa tanda perawatan intensif yang stabil. Itu juga terbukti dari jejak prestasi juara yang pernah diukirnya. Sebut saja di kontes Klaten (Juli 2009), Jakarta (Agustus 2009), Surabaya (Oktober 2009), dan Kediri (Desember 2009). Suffruticosa selalu menduduki posisi 2 besar.

Kontes yang digelar Asosiasi Sansevieria Indonesia (ASI) bersama Paguyuban Sansevieria Pati (PSP) itu terdiri atas 4 kelas utama grand prix. Yaitu flat leaf tunggal, flat leaf majemuk, round leaf tunggal, dan round leaf majemuk. Peserta dengan poin penilaian tertinggi di setiap kelas berpeluang masuk dalam 20 besar klasemen sementara. Klasemen akhir diperoleh setelah lomba di Kediri (Oktober 2010) dan Jakarta (Desember 2010).

Total jenderal ada 73 peserta dalam 4 kelas utama. Bersamaan dengan gelaran itu dibuka pula kontes nasional nongrand prix yang diikuti 205 peserta dalam 10 kelas. ‘Total ada 278 peserta dari Jawa, Bali, Medan, dan Makassar. Itu memecahkan rekor peserta kontes sansevieria di tanahair,’ kata Bimo Sekti, panitia kontes.

Di kelas nongrand prix, persaingan ketat terjadi hampir di semua kelas. ‘Kualitas peserta sangat merata dan layak kontes. Yang paling ketat terjadi di kelas mini,’ tutur juri Sentot. Di kelas mini dengan peserta terbanyak yaitu 45 tanaman terjadi fenomena menarik.  S. horwood milik Vito Collection yang kerap juara mesti puas di posisi ke-3 dan mengaku kalah pada S. canaliculata dwarf milik Faid (WSC) di posisi pertama. ‘Canaliculata tampil unik karena panjang daun hanya 5 cm, jika tumbuh normal panjangnya bisa 40 cm,’ kata juri Sapto.

Rawabelong

Selang 2 minggu pascakontes akbar sansevieria di Pati, digelar juga lomba aglaonema oleh Paguyuban Aglaonema Indonesia (PAGI) dan Trubus di Rawabelong, Jakarta Barat. Kontes yang diwasiti oleh Gatot Purwoko, Rishal M Luthan, dan Syah Angkasa itu terdiri atas kelas tunggal dan prospek. Dalam kontes itu banyak tampil aglaonema mutasi baru. Sebut saja legacy putih, diana putih, dan hughes black.

Legacy putih berhasil menempati posisi ke-2 kelas prospek. Ia kalah dari legacy yang tampil merah ngejreng. ‘Aglaonema-aglaonema mutasi tampilannya belum maksimal,’ tutur Gatot Purwoko.  Di kelas tunggal, moonlight milik Choki Bluesman berjaya karena susunan daun rapat dan vigor. Ia mengalahkan red ndot milik Poernomo Heri dan hughes milik Aris di posisi ke-2 dan ke-3. (Nesia Artdiyasa)

 

 

  1. S. suffruticosa ‘blue clone’ milik Imam, Nganjuk, Jawa Timur. Dijuluki merak kasmaran
  2. Monkey bay milik TSC, Tangerang. Dewasa dan sehat
  3. Blue leaf milik Nen Kurnia. Juara ke-1 kelas utama flat leaf majemuk di Pati
  4. S. canaliculata dwart milik Gaid WSC tampil mini dengan panjang daun 5 cm
  5. Moonlight milik Choki Bluesman juara ke-1 kelas tunggal di Rawabelong, Jakarta Barat
  6. Green sinus milik Teksan. Daun lebih cerah dari sinus biasanya
 

Powered by WishList Member - Membership Software