Mentaok Versus Kanker Darah

Filed in Eksplorasi, Majalah by on 22/11/2019

Buah mentaok dan bijinya yang berbulu putih memungkinkan untuk tersebar lebih jauh.

Ahli dendrologi dari Fakultas Kehutanan, UGM, Atus Syahbudin, S.Hut., M. Agr., Ph. D., sangat mendukung upaya menghidupkan alas mentaok. Apalagi jika hutan mentaok itu meningkatkan pengetahuan bagi orang tua dan anak muda. Selain itu juga mampu meningkatkan kunjungan wisatawan. “Bagi Yogyakarta hutan itu bukan untuk kayu. Berdasarkan rencana jangka panjang dan menengah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), hutan itu untuk mendukung kualitas pendidikan dan pariwisata,” kata Atus.

Kayu mentaok mungkin tidak bernilai ekonomi tinggi. Namun pohon itu sarat sejarah sehingga harus dikembalikan. Manfaat ekonomi hutan mentaok berasal dari pariwisata. Nilai ekonomi penting bagi masyarakat karena mereka memerlukan uang. Saat ini Ayus dan tim tengah mencari jalan tengah agar masyarakat makin sejahtera dan lingkungan lebih lestari karena dijaga masyarakat. “Lazimnya jalan tengah itu berupa ekowisata dan pendidikan,” kata pria kelahiran 18 Agustus 1977 itu.

Itu mengacu pada DIY yang merupakan salah satu pusat kebudayaan berkat eksistensi Keraton Yogyakarta, sumbu filosofi, sistem nilai, bangunan cagar budaya, dan kegiatan budaya yang masih terpelihara hingga kini. Selain sarat sejarah, mentaok pun berpotensi memiliki khasiat kesehatan. Hasil penelitian Souichi Kawamoto dan rekan dari Chiba University, Jepang, mengungkapkan wrightiamine a (1) dalam daun mentaok berpotensi melawan leukemia.

Warga Kotagede, Tono, mengatakan, ada masyarakat sekitar Makam Raja-Raja Mataram di Kotagede yang mengambil daun mentaok setiap 2 hari sekali. Mereka menggunakan daun itu untuk membersihkan mata dari kotoran. Dokter sekaligus herbalis di Yogyakarta, dr. Sidi Aritjahja, mengatakan daun mentaok untuk membersihkan mata karena bersifat menghambat pertumbuhan dan perkembangan bakteri (bakteriostatik).

Sidi belum pernah meresepkan bagian tertentu pohon mentaok dalam ramuan bikinannya. Musababnya mentaok mulai langka. “Saya menunggu tanaman mentaok berjumlah banyak,” kata dokter alumnus Universitas Gadjah Mada itu. Oleh sebab itulah, ia belum mempelajari lebih dalam manfaat mentaok untuk kesehatan. Restorasi alas mentaok penting sehingga masyarakat pun bisa mengetahui dan merasakan faedah kesehatan tanaman masa lampau itu. (Riefza Vebriansyah)

Tags: ,

 

Powered by WishList Member - Membership Software