Menjemput Khasiat Terbaik Daun Sirsak

Filed in Fokus by on 02/01/2013 0 Comments
Zat aktif penggempur kankerpada daun sirsak ada pada daun dengan kematangan sedang

Zat aktif penggempur kanker
pada daun sirsak ada pada daun dengan kematangan sedang

Ambil daun sirsak dari pohon sehat, cukup tua, dengan tingkat kematangan daun sedang.

Jalur Nagrek-Cipanas, Kabupaten Garut, Provinsi Jawa Barat, punya nilai sejarah tersendiri untuk periset dari Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati Institut Teknologi Bandung, Prof Soelaksono Sastrodihardjo. Enam belas tahun silam Soelaksono yang ketika itu Direktur di Pusat Antaruniversitas Ilmu Hayati menyusuri salah satu jalur tersibuk arus mudik setiap Idul Fitri itu bersama periset dari Sekolah Farmasi Purdue University, Amerika Serikat, Dr Jerry McLaughin.

Bersama para mahasiswa mereka mengambil sampel daun dari 10 pohon lebih di tepi jalan dan yang tumbuh di pekarangan rumah warga. Jalur Nagrek-Cipanas terpilih secara acak. Mereka belum memperhitungan untuk membandingkan antara kualitas tanaman di Jawa Barat dan daerah di luar Jawa Barat. Pun daerah asal tanaman: dataran tinggi atau dataran rendah.

Daya simpan ekstrak daun sirsak lebih lama dan mudah dikonsumsi

Daya simpan ekstrak daun sirsak lebih lama dan mudah dikonsumsi

Soelaksono juga tidak mematok jenis pohon sirsak khusus. “Semua jenis sirsak bisa dipakai, asal tanamannya sehat,” kata Soelaksono. Mereka mengambil daun dari bagian atas, tengah, dan bawah tajuk pohon. Daun diambil dengan memotong ranting tanaman menggunakan pisau yang diikatkan pada tongkat panjang agar mudah menjangkau seluruh bagian pohon. Umur pohon tidak terlalu muda, tidak terlalu tua: kira-kira berumur di atas 5 tahun. “Dengan kondisi itu metabolisme tanaman stabil begitu pula dengan kandungan zat aktif di dalamnya,” tutur Soelaksono. Total bobot daun contoh lebih dari 10 kg.

Kirim ke AS

Daun-daun itu kemudian mereka masukkan ke dalam karung dan langsung dibawa ke laboratorium ITB untuk diolah. Di laboratorium Soelaksono menyortir daun dan memisahkan dari batang. Ia memilih daun yang masih segar, bentuknya utuh, dan permukaan mengkilap. Setelah itu cuci bersih sampel. Lalu kering anginkan daun dalam rungan selama 1-2 hari, jangan lebih, agar zat aktif di dalamnya tidak rusak. Soelaksono kemudian menghaluskan daun kering, menyaring, dan mengirim simplisia itu ke Amerika Serikat.

Di Negeri Abang Sam daun Annona muricata itu menjalani proses ekstraksi, lalu Jerry McLaughlin memakainya untuk menguji kandungan dan khasiatnya. Jerry lalu merilis hasil riset itu dalam berbagai jurnal ilmiah sepanjang 1996-1998. Isi publikasi itu daun sirsak mengandung senyawa acetogenins yang andal menggempur sel kanker. Faedah itulah yang kini dirasakan oleh banyak pasien pengidap kanker payudara, hati, paru, hingga tulang.

Mereka mengonsumsi daun tanaman anggota keluarga Annonceae itu dalam berbagai bentuk: air seduhan daun segar, air seduhan teh daun sirsak, atau kapsul. Menurut dokter dan herbalis di Kota Malang, Provinsi Jawa Timur, dr Zainal Gani, konsumsi terbaik daun sirsak dalam bentuk air rebusan daun segar. Menurut farmakolog dari Fakultas Farmasi Universitas Indonesia, Prof Dr Sumali Wiryowidagdo, konsumen juga bisa memanfaatkan daun sirsak kering.

Cara mengeringkan tidak boleh dengan dijemur di bawah sinar matahari, cukup diangin-anginkan dalam ruangan seperti yang dilakukan Prof Soelaksono untuk mengirim sampel ke Purdue University. “Menggunakan oven juga bisa, dengan syarat menggunakan oven berputar agar panas merata,” tutur Sumali. Suhu yang digunakan tidak lebih dari 60°C supaya enzim yang terkandung tidak rusak. Belakangan bermunculan produsen herbal yang memproduksi teh dan kapsul serbuk dan ekstrak daun sirsak. Demi mempertahankan khasiat daun tanaman kerabat srikaya itu para produsen menetapkan standar perlakuan tertentu.

Farmakolog di sebuah perusahaan herbal, Yusuf  Priyanto SSi, misalnya memilih bahan baku asal tanaman di pegunungan. Pengalaman Yusuf menunjukkan daun dari tanaman di dataran tinggi menghasilkan ekstrak lebih banyak daripada daun asal daerah dataran rendah. Dari 250 kg daun asal dataran tinggi Yusuf mendapat 43-45 kg. Adapun dari daun sirsak asal dataran rendah hanya 31 kg ekstrak. Jika direbus, daun asal dataran tinggi di atas 600 meter di atas permukaan laut (m dpl) berwarna lebih hijau dan segar.

Ekstraksi

Yusuf menggunakan daun dari pangkal hingga daun ke lima dari pucuk daun. Daun segar dari pengepul itu kemudian dikemas dalam karung selama maksimal 6 jam dan segera kering anginkan setiba di pabrik. Melebihi itu daun berisiko busuk dan tidak bisa dipakai sebagai bahan baku herbal.

Pekerja lalu melakukan proses seperti yang dilakukan Soelaksono: memilah daun sirsak segar dari batang, mencuci daun, menghancurkan dengan mesin, dan mengepres hingga mendapatkan saripatinya. Diamkan hasil perasan selama 6 jam agar zat aktif di dalam daun mengendap. Mereka kemudian memanaskan hasil endapan ke dalam oven bersuhu 70-80°C selama 6-8 jam. Hasil pengeringan perlahan yang membentuk ekstrak kental itu kemudian diolah menjadi sirup atau dikeringkan menjadi bahan isi kapsul. Olahan lain berupa teh celup daun sirsak. Olahan itu dibuat dari daun sirsak segar yang dikeringkan dalam oven 60°C. Setelahnya hancurkan dan saring, lalu masukkan ke dalam kantong teh. Seduh teh celup daun sirsak seperti minum the biasa. Pemilihaan bahan baku hingga proses yang tepat itu demi menjemput khasiat daun penakluk penyakit maut. (Pranawita Karina)

Keterangan Foto :

  1. Zat aktif penggempur kanker pada daun sirsak ada pada daun dengan kematangan sedang
  2. Daya simpan ekstrak daun sirsak lebih lama dan mudah dikonsumsi
  3. Yusuf Priyanto gunakan daun sirsak dari dataran tinggi
  4. Daun sirsak bisa dikonsumsi dalam berbagai bentuk seperti seduhan
 

Powered by WishList Member - Membership Software