Menjaga Pesona Variegata

Filed in Majalah, Tanaman hias by on 07/08/2019

Anthurium variegata daun red dunhil koleksi Dwi Bintarto.

 

Kiat merawat anthurium variegata agar tampil cemerlang.

“Jika lebih banyak warna variegata, cenderung tidak tahan matahari,” kata Dwi Bintarto. Pehobi di Ciganjur, Jakarta Selatan, itu mengoleksi beragam jenis anthurium variegata. Dwi mengatakan, perawatan anthurium variegata lebih sulit dan lebih rentan terhadap sinar matahari karena keterbatasan klorofil. Ayah empat anak itu menjaga corak variegata dengan pemberian pupuk rendah nitrogen.

Dwi menggunakan pupuk yang perbandingan N:P:K yang sama atau pupuk yang memiliki perbandingan K lebih tinggi ketimbang P dan K. Pehobi 65 tahun itu memupuk tanaman 3 kali per bulan.

Media tanam

Dwi Bintarto biasa menangani anthurium variegata.

Dwi Bintarto mengambil 7—10 butir pupuk lambat urai kemudian menaburkan pupuk di tepian pot berukuran 20 cm. Jumlah butiran pupuk disesuaikan dengan ukuran pot. Selain itu Dwi juga memperhatikan media tanam. Pehobi anthurium sejak 1978 itu memanfaatkan pakis daur ulang. Ia membersihkan pakis dari akar-akar, kemudian mencuci, menjemur, dan menyemprotkan fungisida agar terhindar dari serangan cendawan.

Pehobi itu menyimpan media selama sepekan, merendam dengan campuran larutan EM4 plus, serta cacahan daun kaliandra. Penambahan larutan EM4 bertujuan menghadirkan bakteri-bakteri baik pemberi nutrisi pada media tanam. Pehobi senior itu juga memadukan daun kaliandra dan pasir malang. Pasir malang bersifat porous sehingga ketika penyiraman air tidak menggenang. Genangan air memicu akar busuk. Ia pun kerap mengganti media setiap perubahan musim.

Pada musim yang tidak menentu, kadang hujan dan kadang sangat panas, ia membasahi anthurium hanya bagian atas pada sore hari. Namun, setiap 2—3 hari sekali Dwi membasahi anthurium-anthuriumnya hingga basah kuyup. Ujung daun hingga akar dan media basah terbasuh air. Upaya itu menjadikan anthurium variegata Dwi tampil sehat dan memikat.

Variegata alami

Harga anthurium variegata lazimnya lebih mahal. Itulah sebabnya beberapa pehobi menggunakan obat-obatan untuk memunculkannya. Dwi Bintarto menghindari penggunaan obat-obatan. “Bagi yang tidak tepat pemberiannya, maka malah menyebabkan daun menjadi klorosis. Gejala klorosis memang miripi corak variegata,” tutur alumnus magister Manajemen Agribisnis Institut Pertanian Bogor itu.

Klorosis adalah istilah botani untuk tanaman yang tidak sehat, ditandai oleh menguningnya bagian-bagian yang biasanya berwarna hijau sebagai akibat tidak cukup terbentuknya klorofil. Kelir daun variegata sejatinya akibat genetik tanaman.

Perlu Sinar Matahari

Ada beberapa istilah anthurium variegata berkaitan dengan proporsi warna kuning-putih dan hijau pada daun. Istilah ngeblank berlaku untuk daun yang memiliki warna putih atau kuning yang solid. Bagian hijau lebih sedikit daripada bagian yang berwarna kuning-putih. Oleh karena itu, anthurium vaiegata ngeblank lebih rentan sinar matahari.

Anthurium variegata daun tornado koleksi Dwi Bintarto.

Rentan sinar matahari bukan berarti tanaman tidak butuh sinar matahari. Agar corak variegata tetap muncul, kebutuhan sinar matahari harus cukup. Jika pehobi meletakkan tanaman di tempat teduh terus-menerus, biasanya akan lebih hijau daunnya. “Penempatan di tempat ternaungi secara berlebihan memicu produksi klorofil lebih banyak agar tanaman mencukupi kebutuhan fotosintesis,” kata peneliti di Kebun Raya Bogor, Dr. Sri Rahayu.

Menurut Sri tanaman apa pun yang membutuhkan naungan, seperti anthurium variegata, perlu agak sering diberikan sinar matahari pagi. “Atau dapat diletakkan di teras yang cukup terang, asal tidak terkena sinar matahari langsung karena sel-sel daun bisa terbakar,” ujar alumnus Institut Pertanian Bogor itu. Selain ngeblank, ada pula jenis lain yang memiliki persebaran warna hijau dan warna kuning-putih sebanding atau merata.

Para pehobi menyebut jenis itu ngepyur. Anthurium variegata yang ngepyur lebih tahan matahari karena memiliki lebih banyak area hijau berisi klorofil. Klorofil adalah tempat terjadinya fotosintesis dan penyerapan zat polutan. Oleh karena itu, pehobi seperti Dwi Bintarto “lebih berani” meletakkan anthurium ngepyur di bawah terik sinar matahari. (Tamara Yunike)

 

Tags: , ,

 

Powered by WishList Member - Membership Software