Meningkat 3 Kali Lipat

Filed in Satwa by on 16/03/2015
Domba padjadjaran betina mampu beranak 3 kali dalam dua tahun

Domba padjadjaran betina mampu beranak 3 kali dalam dua tahun

Kombinasi teknologi sinkronisasi estrus dan inseminasi buatan meningkatkan produksi domba.

Lazimnya 50 domba garut betina hanya melahirkan total 81 ekor dalam 2 tahun. Dengan teknologi sinkronisasi estrus dan inseminasi buatan, 50 domba garut menghasilkan 111 ekor dalam waktu sama. Prof Dr Ir Sri Bandiati Komar Prajoga mengombinasikan dua teknologi itu untuk meningkatkan perkembangbiakan domba. Secara sederhana, sinkronisasi estrus adalah teknik menginduksi domba betina dengan hormon progesteron.

“Progesteron merupakan hormon alami yang diproduksi ovarium sebagai kondisi pascaovulasi. Jika terjadi pembuahan, progesteronlah yang mempertahankan kehamilan,” ujarnya. Menurut ahli ruminansia kecil di Balai Penelitian Ternak (Balitnak), Ciawi, Bogor, Jawa Barat, Ir Bambang Setiadi MS, tujuan sinkronisasi estrus adalah membuat betina berahi secara serentak sehingga pekerjaan inseminasi buatan efisien.

Domba padjadjaran jantan bertanduk dengan bulu putih dan halus

Domba padjadjaran jantan bertanduk dengan bulu putih dan halus

Lebih tinggi
Menurut Bambang, “Inseminasi bersamaan juga membuat waktu kelahiran bersamaan dapat diprediksi. Sistem itu dapat dipakai dalam perencanaan kelahiran anak domba secara massal dan memudahkan manajemen peternakan.” Sinkronisasi estrus terdiri atas dua metode, yakni menginduksi hormon prostaglandin-F2a dan hormon progesteron. Tingkat keberhasilan metode kedua lebih tinggi. “Kesuksesan progesteron 90—100%, sementara prostaglandin-F2a hanya 70%,” kata Bambang.

Perbedaan keduanya tampak saat terjadi kegagalan induksi. “Kegagalan metode prostaglandin-F2a ditandai dengan abortus atau keguguran. Sementara kalau metode progesteron gagal, ternak menjadi tidak bunting,” ujar alumnus Depatemen Teknologi Ternak Institut Pertanian Bogor itu. Bandiati menggunakan alat vagina sponge sebagai sumber progesteron.

Dengan teknologi itu Bandiati mengembangkan dan memurnikan domba-domba garut di peternakan rekannya, Athol Kilgour di Kecamatan Darangdan, Kabupaten Purwakarta, Provinsi Jawa Barat. Ia memilih domba priangan lokal asal Kecamatan Wanaraja, Kabupaten Garut, Provinsi Jawa Barat, karena bersosok lebih besar dibandingkan kebanyakan domba lokal. Domba garut berbulu halus dan putih.

Bandiati mendatangkan 50 domba garut betina pada 2010. Ia memasang vaginal sponge untuk mencegah ovulasi. Vagina spons adalah alat berbentuk silinder terbuat dari spon yang dipasang di vagina. Saat vagina sponge dilepas, sumber progesteron hilang sementara kadar hormon estrogen secara alami meningkat. “Dampaknya terjadi ovulasi dalam waktu singkat,” kata Bandiati.

Menguntungkan peternak
Menurut peneliti kelahiran Jakarta 4 September 1950 itu, penanaman vagina sponge di vagina berlangsung selama 14 hari. Biasanya 2 hari setelah alat dicabut terjadi ovulasi. Menurut Bandiati, “Untuk meyakinkan bahwa domba betina dalam keadaan berahi dapat diuji dengan mendekatkan domba jantan sebagai hewan uji. Perilaku berahi pada jantan menunjukkan si betina juga dalam kondisi berahi.”

Dua hari setelah alat itu dicabut, ia menginseminasi buatan dengan memasukkan sperma domba jantan ke alat reproduksi betina. Bandiati mengatakan, sperma membuahi sel telur dalam 10—18 jam pascainseminasi. “Jika berhasil, 14 hari setelah pembuahan domba bunting,” kata Bandiati. Dengan teknologi perbanyakan buatan itu, domba bisa bunting 2 kali setahun, sementara domba lokal hanya setahun sekali. Domba bunting selama 5 bulan.

 Prof Dr Ir Sri Bandiati Komar Prajoga mengombinasikan dua teknologi bioreproduksi sekaligus untuk mengembangkan domba lokal

Prof Dr Ir Sri Bandiati Komar Prajoga mengombinasikan dua teknologi bioreproduksi sekaligus untuk mengembangkan domba lokal

Petugas penggembala, Sayuti Setia Laksana, mengungkapkan bobot anakan domba padjadjaran jika kembar dua mencapai 1,2—1,5 kg per ekor, sementara jika hanya 1 anak bisa mencapai 3—4 kg per ekor. Hasil pemurnian domba garut itu menghasilkan domba padjadjaran yang akan segera dirilis pemerintah. Sayuti Setia Laksana, menuturkan, domba padjadjaran relatif bongsor dibandingkan domba lokal biasa.

Bobot rata-rata jantan dewasa mencapai 60 kg, sementara betina 50 kg. Bandingkan dengan domba lokal jantan yang hanya 40—50 kg, dan betina 25—35 kg. “Bulunya pun tidak gimbal, malah putih dan halus seperti sutera,” katanya. Menurut Sri Bandiati, kombinasi teknologi sinkronisasi estrus dan inseminasi buatan meningkatkan keuntungan peternak lantaran jumlah anakan lebih banyak.

“Pada 50 ekor domba betina produktif, jumlah anakannya mencapai 111 ekor dalam 2 tahun, sementara perkawinan alami hanya 81 ekor,” kata peneliti domba sejak 1997 itu. Omzet peternak yang menerapkan teknologi itu lebih tinggi. Jika menginduksi 50 betina subur dengan perbanyakan buatan mencapai Rp66,6-juta.

Harga anak domba lepas sapih umur 4 bulan Rp500.000—Rp700.000 per ekor. Bandingkan jika mengandalkan perkawinan alami maka omzetnya hanya Rp48,6-juta. Biaya perbanyakan buatan juga relatif murah. Menurut Bandiati, harga sebuah alat untuk sinkronisasi estrus hanya Rp8.000, sangat layak untuk peningkatan yang didapatkan.

Perkembangan domba di tanahair membuat Prof Dr Ir Sri Bandiati Komar Prajoga masygul. “Belum ada yang intensif menernakkan karena kalah menguntungkan daripada kambing dan sapi,” ujar peneliti domba di Fakultas Peternakan, Universitas Padjadjaran, itu. Padahal Ovis aries itu sejatinya menguntungkan bila peternak memeilihara secara intensif dan menerapkan teknologi yakni sinkronisasi estrus dan inseminasi buatan. (Bondan Setyawan)

Tags: ,

 

Powered by WishList Member - Membership Software