Mengubah Musibah Menjadi Rupiah

Filed in Majalah, Muda by on 06/01/2019

Produk kosmetik dan perawatan kulit alami memberikan laba hingga puluhan juta rupiah per bulan.

Dita Kencana Putri bersama suami berbisnis perawatan kulit alami sejak 2015.

Dita Kencana Putri masygul menyimak penjelasan dokter. “Janin Anda ukurannya lebih kecil daripada kondisi normal,” tutur Dita menirukan ucapan dokter. Keruan saja, Dita yang baru pertama kali mengandung gundah. Ukuran janin berumur 10 pekan itu laiknya janin berumur 8 pekan. “Janin saya telat dua minggu,” ujar Dita. Dokter menjelaskan, hal itu akibat Dita kerap menggunakan kosmetik berbahan kimia tak sehat.

 

Hal itu berpengaruh terhadap ketidaklancaran aliran darah dari sang ibu ke plasenta. Itulah sebabnya dokter meminta Dita mengganti kosmetik berbahan kimia dengan kosmetik berbahan alami atau organik. “Akhirnya saya menggunakan sampo, sabun, pelembap yang berbahan alami dan natural seperti dari air mawar, urang-aring, minyak zaitun, dan chamomile. Tapi ternyata harganya mahal,” kata Dita.

Media sosial

Untuk kebutuhan mandi saja, selama 1—2 bulan Dita harus merogoh kocek hingga Rp2 juta. Padahal sebelumnya, biaya kebutuhan mandi anak pertama dari dua bersaudara itu hanya puluhan ribu per bulan. “Dari sana saya berpikir, apa bisa saya mendapatkannya dengan harga yang murah. Beberapa bahan juga ada di Indonesia, kenapa tidak membuat sendiri saja,” ujar alumnus Psikologi, Universitas Airlangga Surabaya itu.

Sejak saat itu Dita rajin mencari informasi tentang produk perawatan kulit natural. Ia berselancar di dunia maya hingga bergabung dengan komunitas-komunitas kesehatan. Hingga akhirnya ia memutuskan untuk menimba ilmu ke Jakarta kepada para pakarnya secara langsung. “Modelnya sekolah setahun seperti diploma,” kata Dita. Ia belajar mengenal manfaat tanaman untuk perawatan kulit, cara memproduksinya, hingga upaya membuka industri kecil.

Foto : Dita Kencana Putri Produk Kencana Bodyworks untuk perawatan wajah.

Warga Malang, Jawa Timur, itu kemudian langsung membuat produk-produk perawatan kulit berbahan alami. Semula ia membuat dua produk andalan yaitu sampo dan sabun berbahan minyak zaitun. Namun, ternyata, untuk memasarkan produk-produk itu pun sulit. “Konsumen masih belum mengenal produk saya, apalagi percaya bahwa produk saya sehat dan berkualitas,” ujarnya.

Dita hanya sanggup menjual 40-an botol berukuran 250 ml dalam dua bulan. Pendapatannya baru mencapai Rp2 juta dalam dua bulan berjualan. Dibantu sang suami Riefky Prabowo, Dita memanfaatkan media sosial dan situs jual beli daring untuk mempromosikan produk-produknya. “Ada artis yang sedang program bayi tabung, lalu saya kirimi produk kami dan literatur-literatur mengenai perawatan kulit alami,” kata Dita mengenang.

Menurut Dita perempuan yang menjalani program bayi tabung wajib menggunakan kosmetik berbahan natural. “Ada juga selebgram yang sedang memiliki anak kecil, lalu kami kirimi produk dan bahan bacaannya. Ternyata mereka cocok dengan produk saya. Sekitar 3—4 pekan kemudian mereka menceritakan produk saya ke akun sosial medianya,” ujar perempuan 24 tahun itu.

Informasi mengenai produk alami itu tersebar di media sosial secara masif. Konsumen pun mulai mengenal produk alami kininan Dita. Pendapatan Dita pun melonjak signifikan, hingga Rp30 juta per bulan. Ia menambah varian-varian produknya hingga 33 jenis di antaranya aromaterapi untuk mengatasi batuk pilek, masker clay, sabun madu, dan minyak rambut urang-aring.

Psioriasis

Foto : Dita Kencana Putri Produk Kencana Bodyworks untuk perawatan si buah hati.

Dita tetap melakukan promosi ke berbagai komunitas-komunitas kesehatan. “Saya bergabung ke komunitas eksem dan psoriasis atau penyakit peradangan kulit menahun. Bahkan saya sempat mensponsori seminar dokter kulit mengenai psoriasis. Semua pasiennya saya beri produk saya untuk mencobanya. Ternyata cocok juga,” ujarnya. Semua proses promosi itu Dita lakukan dengan sabar dan tekun.

Upaya itu membuahkan hasil yang signifikan. Permintaan terus melonjak. Kini pendapatan bersihnya mencapai Rp75 juta—Rp90 juta per bulan. Selain faktor pemasaran, kualitas produk Dita menjadi kunci utama keberhasilannya berbisnis produk perawatan kulit alami. Enam karyawan membantu Dita untuk memproduksi kosmetik alami dengan bahan baku berkualitas.

“Salah satu keunggulan produk saya adalah murni alami tanpa tambahan bahan-bahan kimia atau nonorganik,” ujar perempuan kelahiran Jakarta itu. Untuk membuat sabun muka berbahan madu dan chamomile misalnya, ia menggunakan green surfactant atau bahan alami yang berisifat detergen untuk memunculkan busa. Sementara di pasaran, masih banyak sabun muka yang menggunakan sodium laureth sulfate (SLS) atau detergen kimia.

Untuk menjaga kemurnian produk, Dita menyeleksi bahan-bahan dari pemasok seperti minyak asiri. “Semua bahan yang saya dapat, saya cek dulu di laboratorium. Kalau mengandung bahan-bahan kimia nonorganik, bahan-bahan itu terpaksa tidak kami pakai. Saya berusaha untuk membuat produk kami senatural mungkin,” ujarnya. Jika bahan-bahan itu berkualitas baik, Dita tidak segan membelinya dengan harga tinggi.

Perancis

Untuk menyediakan bahan-bahan alami seperti air dan minyak mawar, Dita bekerja sama dengan para petani di Kota Batu, Jawa Timur. Adapun pasokan minyak kelapa dan urang-aring berasal dari petani di Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. “Kalau chamomile kami impor dari Jerman, sedangkan lavender dari Perancis,” ujarnya. Proses bisnis yang Dita lalui tak selalu berjalan lancar.

Foto : Dita Kencana Putri Sampo dan vitamin untuk rambut berbahan alami.

“Petani mitra saya pernah gagal panen, bahan yang saya pesan berubah warna, botol yang saya pesan tidak sesuai spesifikasi, botol yang saya pesan terbakar, dan masih banyak lagi,” ujar Dita menguraikan beragam masalah yang dihadapi. Namun, yang paling membutuhkan kesabaran adalah ketika ia harus menjelaskan kepada konsumen ketika produk yang mereka cari sedang kosong karena bahan baku tidak tersedia.

“Pernah produk air mawar saya sedang kosong karena petani gagal panen. Banyak konsumen yang terpaksa mencari produk lain karena kebutuhan mereka bersifat mendesak. Ketika produk tersedia lagi, ada konsumen yang kembali membeli produk kami, tetapi ada juga yang tidak kembali,” tutur Dita. Namun semua kendala itu tak menyurutkan langkah Dita untuk tetap menapaki wirausaha.

Dita mengatakan, “Saya dan suami anak pertama, jadi harus lebih tahan banting. Salah satu tujuannya untuk menjadi teladan adik-adik kami juga.” Itulah kisah-kisah Dita membalik keadaan dari cobaan menjadi peluang. Dari ukuran janin yang tak normal ia mampu membangun usaha kosmetik alami, dari mitra-mitranya Dita mampu menjaga kualitas produk dan melatih kedewasaan diri. Semua itu ia lakukan agar menjadi manusia yang bermanfaat. (Bondan Setyawan)

Tags: , , , , ,

 

Powered by WishList Member - Membership Software