Mengolah Saca Tanpa Sisa

Filed in Majalah, Topik by on 02/04/2021

Cangkang buah kaya antioksidan, cocok diseduh menjadi minuman.

Minyak saca berasal dari biji tanaman saca Plukenetia volubilis. Dunia internasional menyebutnya sacha inchi. Peneliti di Instituto de Investigaciones de la Amazonia Peruana, Angel Rodriguez Del-Castillo menyatakan nama itu pinjaman bahasa Quechua—suku tua di Peru dan Kolombia yang artinya kacang palsu atau mirip kacang. Meski lazim dijuluki kacang, nyatanya saca bukan anggota keluarga tanaman kacang-kacangan. Tanaman itu sefamili dengan singkong.

Sebutan lainnya adalah inca nuts alias kacang inka lantaran gambar tanaman anggota famili Euphorbiaceae itu ditemukan dalam gerabah peninggalan suku Inca 3.000—5.000 tahun silam. Del-Castillo melaporkan, masyarakat Peru secara tradisional memanfaatkan saca sebagai bahan pangan dan perawatan kulit. Di sana hingga hari ini saca dimanfaatkan sebagai substitusi kacang tanah dalam berbagai sajian kuliner.

Pengolah saca di Kabupaten Purwakrata, Jawa Barat, Muhamad Abdurrahman, menuturkan, di mancanegara saca bahan baku berbagai produk turunan seperti kopi, calir (lotion), serum kulit, serum kulit kepala, atau sampo. Abdurrahman membuat minyak, camilan biji sangrai, dan “teh” celup daun saca. Merek dagang Inchakey miliknya baru mengantongi izin P-IRT dari Dinas Perdagangan setempat.

Sudah begitu, cangkang buah pun Abdurrahman jual untuk membuat “teh” atau bahan seduhan. Bungkil sisa perasan biji bisa untuk pakan ikan atau bahan pupuk organik. Testa—selaput pembungkus biji—berpotensi menjadi bahan campuran media tanam yang baik karena mempertahankan porositas media. “Saca komoditas nirlimbah,” kata Warsino, petani saca di Wonogiri. (Argohartono Arie Raharjo).

Tags: ,

 

Powered by WishList Member - Membership Software