Memburu Dokter Euphorbus

Filed in Tanaman hias by on 03/08/2013

Pehobi memburu euphorbia yang unik dan langka.

Foto Euphorbia globulicaulis di sebuah situs itu mencuri perhatian Indra Susandi. “Kaudeks yang bulat hijau segar terlihat unik. Daun tampak rimbun karena tumbuh ke segala arah,” kata pehobi tanaman sukulen di Bogor, Jawa Barat, itu. Usai melihat foto, Indra menelusuri berbagai informasi tentang tanaman anggota famili Euphorbiaceae itu.

Ternyata tanaman sukulen asal Somalia itu tergolong langka. Populasi di habitat aslinya terbatas. Kelangkaan itulah yang membangkitkan hasrat Indra untuk mengoleksi. Ia pun mengunjungi laman situs-situs nurseri di berbagai negara. “Tapi tak satu pun yang menyediakan tanaman itu,” ujarnya. Harapan Indra untuk mengoleksi hampir saja pupus. Setelah berbulan-bulan mencari informasi, ternyata hasilnya nihil.

Empat tahun

Kabar menggembirakan akhirnya datang dari nurseri di Jerman empat tahun kemudian. “Saat mengunjungi situsnya, nurseri itu tidak menampilkan foto tanaman itu. Setelah saya tanyakan langsung lewat surat elektronik, ternyata mereka memilikinya,” ujar Indra. Tanpa berpikir panjang, Indra pun bergegas memesan. Padahal, harganya tergolong premium  untuk tanaman setinggi 5 cm,  setara Rp700.000. Harga itu belum termasuk ongkos kirim.

Setelah 2 pekan, tanaman pesanan Indra itu tiba di kediamannya pada 2012. Ia lalu menanam globulicaulis pada pot berisi media tanam yang terdiri atas 70—80% pasir malang. Kerabat singkong itu kemudian ia biarkan tumbuh tanpa penyiraman dan pemupukan. “Saya baru menyiramnya seminggu kemudian untuk mencegah busuk batang,” kata alumnus Departemen Teknik Metalurgi dan Material, Universitas Indonesia, itu.

E. labatii endemik di Provinsi Antsiranana, Madagaskar

E. labatii endemik di Provinsi Antsiranana, Madagaskar

Menurut Didi Turmudi kolektor sukulen di Tangerang, Provinsi Banten, E. globulicaulis termasuk euphorbia eksklusif dan langka. Para pehobi sulit memperolehnya, bahkan di dunia sukulen internasional sekalipun. Pehobi kaktus dan sukulen di Surabaya, Jawa Timur, Sugita Wijaya, berpendapat serupa. “Sosok  E. globulicaulis yang berkaudeks hijau dengan cabang dua membuat koleksi Indra lebih istimewa,” kata Sugita.

Didi menuturkan euphorbia merupakan genus tanaman sukulen yang kerap menjadi buruan para pehobi. “Spesiesnya banyak sekali dan unik-unik,” ujarnya. Salah satu koleksi tanaman sukulen Didi adalah Euphorbia globosa. “Bentuknya seperti bakso, unik sekali,” katanya. Ia membeli globosa dari sebuah nurseri tanaman hias di Jerman dengan harga US$30—US$40 setara Rp480.000.

Didi juga mengoleksi E. burwana dan E. francoisi yang berasal dari Afrika. E. buruana berdaun kokoh dan kaudeks proporsional. Sementara Euphorbia francoisi berdaun merah gelap dan tebal serta bunga mungil berwarna hijau muda kekuningan. “Saya membelinya dari Jerman bersamaan dengan Euphorbia globosa,” kata Didi.

Minim air

Sugita Wijaya juga mengoleksi tanaman unik kerabat karet itu, di antaranya Euphorbia labatii, E. multiramosa, dan E. mukongeni. E. labatii merupakan tanaman endemik Provinsi Antsiranana, Madagaskar. Ia mendapatkannya dari sebuah nurseri di Jerman 2 tahun silam. “Selain bonggolnya yang artistik, tulang daunnya yang putih dan warna daun belakang merah membuatnya terlihat unik,” kata arsitek itu.

Sementara Euphorbia multiramosa tampil garang dengan sosok ‘tubuhnya’ penuh duri. “Tapi jangan tertipu. Duri yang menempel pada tanaman itu sebenarnya adalah ranting tanaman yang belum tumbuh sempurna,” kata Wijaya. Euphorbia mukongeni juga tampil eksotis dengan bunga kuning yang muncul hampir di semua cabang. Cabang-cabang itu menjulur ke berbagai arah seperti medusa.

Selain unik, para pehobi mengoleksi euphorbia karena perawatannya mudah. Tanaman yang namanya diambil dari kata Euphorbus—nama dokter asal Yunani di kerajaan Juba II di Mauretania—termasuk tanaman yang butuh sedikit air. “Pemberian air berlebihan malah menyebabkan tanaman busuk,” kata Indra. Menurut Sugita Wijaya habitat euphorbia adalah daerah yang minim air. “Kurangnya penyiraman justru membuat euphorbia menampilkan sosok aslinya,” kata Wijaya.

Indra  menuturkan  yang  perlu diperhatikan adalah proses adaptasi saat  tanaman baru datang dari luar negeri. Menurut ahli fisiologi dan bioteknologi tanaman dari Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor, Dr Ir Ni Made Armini Wiendi MSc, pemindahan tanaman dari suatu tempat ke tempat lain memang kerap mengalami proses adapatasi. “Hal itu karena terjadi perbedaan kelembapan, suhu, maupun iklim dengan habitat asalnya,” tuturnya. Menurut Indra, keberhasilan proses adaptasi euphorbia sangat ditentukan oleh media tanam yang dipilih. “Media tanam harus porous (tidak mudah mengikat air, red), sesuai dengan habitat asalnya,” kata Indra.

Itulah sebabnya Indra menggunakan media tanam yang mengandung 70—80% pasir malang. Sementara Didi menggunakan media tanam berupa campuran pasir malang, sekam bakar, dan tanah dengan perbandingan 2 : 1 : 1. Sugita menggunakan pasir malang hingga 95% dari total komposisi media. Sisanya pupuk kandang yang telah terfermentasi. Dengan media tanam itu euphorbus tumbuh sentosa meski berjarak ribuan kilometer dari habitatnya. (Bondan Setyawan)

AGU_HAL_58-59-2AGU_HAL_58-59-3

 

Powered by WishList Member - Membership Software