Melon: Sudah Legit, Renyah Pula

Filed in Buah by on 04/09/2013 0 Comments

Tiga melon baru yang manis dan renyah. Pekebun meminatinya.

Di lahan 1.400 m2 milik Muh Mutik itu berderet rapi 3.000 tanaman melon yang merambati turus bambu. Dari balik dedaunan menyembul buah melon berkulit halus dan berwarna kulit krem. Bentuk buah lonjong dengan tinggi 16,2—18,8 cm dan diameter buah 13,7—15,7 cm. “Ini legita, primadona baru desa kami,” ujar pekebun di Desa Singgahan, Kecamatan Kebonsari, Kabupaten Madiun, Provinsi Jawa Timur, itu.

Mutik pun memetik beberapa buah, lalu menimbangnya satu per satu. Bobot rata-rata mencapai 2 kg per buah. Ia kemudian membelah salah satu buah. Begitu terbelah tampak daging buah berwarna putih dengan tebal mencapai 4 cm. Sementara di dekat kulit tampak semburat hijau. Mutik  menyodorkan irisan buah kepada Trubus. Begitu digigit, daging buah terasa renyah sehingga terdengar suara “kriuk-kriuk” saat dikunyah.

 

Manis

Seperti namanya—nama legita berasal dari kata legit yang dalam bahasa Jawa berarti manis—rasa melon legita sangat manis. Pengukuran dengan refraktometer menunjukkan angka 14,60 briks. “Tingkat kemanisan legita bisa mencapai 150 briks, paling rendah 130 briks,” ujar Mutik. Itu lebih manis ketimbang melon biasa yang rata-rata hanya 10—11o briks. Meski berkulit mulus, legita tahan simpan. “Legita mampu bertahan selama dua pekan jika disimpan pada suhu 27—290C,” kata Dwi Kartika M Ghazalie dari PT Tunas Argo Persada, produsen benih melon legita.

Dengan berbagai keunggulan itu, pantas bila perusahaan pemasok buah rela membeli dengan harga tinggi, yakni mencapai Rp10.000 per kg. Harga itu lebih mahal ketimbang melon golden yang hanya Rp7.000 per kg. Padahal, biaya produksi yang Mutik keluarkan untuk membudidayakan melon di lahan 1.400 m2 hanya Rp11-juta. Artinya, ia hanya mengeluarkan biaya produksi Rp3.667 per tanaman. Dari lahan seluas itu ayah dua anak itu memanen hingga 6 ton melon legita dengan bobot seragam.

Muh Mutik (depan) kebunkan melon legita berkadar kemanisan hingga 150 briksIa menjual hasil panen ke pasar swalayan dan toko buah di Jakarta dan Semarang, Jawa Tengah. Pasar swalayan menerima melon grade A: kulit mulus tanpa bercak dengan bobot 1,5—2,5 kg per buah. Jika buah lebih kecil atau lebih besar daripada grade A, masuk grade B. Dari total jumlah panen, 70% di antaranya masuk kategori grade A, sisanya grade B.

Budidaya legita juga sama dengan melon pada lazimnya. Mula-mula Mutik menyiapkan lahan dengan membuat bedengan setinggi 50 cm. Ia lalu memberikan 2 ton pupuk kandang hasil fermentasi dan mengaduknya dengan tanah. Alumnus Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Muhammadiyah Ponorogo itu juga menaburkan pupuk dasar berupa campuran 50 kg TSP, 100 kg Ponska, 50 kg ZA, dan 50 kg KCl. Setelah itu ia menyemprotkan larutan mikroorganisme efektif secukupnya dan menutup bedengan dengan mulsa.

 

Laris

Dua pekan kemudian Mutik menyemaikan benih di lahan berbeda. Setelah bibit berukuran 10 cm, sekitar 7 hari setelah berkecambah, ia lalu memindahkan ke lahan. Pada umur 20—25 hari, tanaman mulai berbuah.  Ia lalu menyeleksi buah hingga tersisa dua buah per tanaman. Ia mengikat pangkal buah hasil seleksi dengan tali rafia lalu mengaitkan pada turus agar menggantung.

“Setiap tanaman nantinya hanya dipertahankan satu buah. Satu buah lagi dipertahankan sebagai buah cadangan. Jika ingin mempertahankan dua buah per tanaman, maka saat seleksi awal sisakan tiga buah,” kata Mutik. Ia kembali menyeleksi buah pada 30 hari setelah tanam. Pilih buah yang pertumbuhannya paling baik.  Mutik tidak menambahkan pupuk sampai tanaman panen pada umur 55 hari setelah tanam.

Menurut  pakar nutrisi di Jakarta, Yos Sutiyoso, pekebun dapat mempertahankan tingkat kemanisan buah dengan menjaga daun-daun tetap sehat melalui pemupukan tepat. Ia menganjurkan pekebun untuk memberi unsur nitrogen dari nitrat dan magnesium pada tanaman. “Magnesium berperan dalam pembentukan inti klorofil. Sementara nitrogen merupakan bahan baku protein yang penting untuk pembentukan enzim bagi tanaman,” tuturnya.

 

Melon legita, manis dan tahan simpanMelon jepang

Legita adalah salah satu benih melon produksi PT Tunas Agro Persada. “Proses pemuliaan hingga legita siap rilis membutuhkan waktu 2 tahun,” ujar Dwi Kartika. Buah dari perjalanan panjang itu kini dinikmati para pekebun di beberapa daerah. “Sentra produksi legita di Madiun dan Bojonegoro, Jawa Timur,” katanya. Penjualan benih melon yang dirilis pada Juli 2012 itu juga terus meningkat 10% setiap bulan.

Jika di Madiun legita jadi primadona, maka di Kabupaten Bogor, Jawa Barat, kini hadir melon baru asal Jepang. Di sanalah Soecipto Hadi Saputro membina para pekebun untuk mengebunkan melon asal Negeri Sakura. Kini luas areal tanam mencapai 1,5 ha dengan total populasi 19.200 tanaman. Karena berasal dari negara subtropis, melon jepang itu perlu budidaya secara intensif dalam rumah tanam.

Namun, melon jepang itu tidak tumbuh optimal di tanahair. “Ukuran buah mengecil, bobotnya hanya 600—700 g per buah. Di Jepang bobotnya bisa mencapai 1 kg. Mungkin akibat perbedaan iklim subtropis dan tropis sehingga melon tidak tumbuh optimal,” tuturnya. Meski berukuran mungil, toh melon itu laris manis di pasaran. Buktinya saat Pameran Flora dan Fauna di Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, pada Juni 2013, melon bulat berwarna kuning dan daging buah putih itu selalu tandas diserbu pembeli.

Padahal, harga melon tergolong premium, yakni mencapai Rp25.000—Rp30.000 per kg. Itu karena rasa melon jepang tergolong manis, yakni mencapai 11—13o briks. Daging buahnya lembut. Sayang, jumlah panen masih terbatas, yakni hanya 500—550 kg per pekan. Melon jepang itu hanya dijual di toko-toko buah tertentu di ibukota.

 

Melon harimau

Nun di Kabupaten Batang, Provinsi Jawa Tengah, ada pula melon baru yakni tiger melon alias melon harimau milik Romy Saputro. Disebut demikian karena melon yang Romy bawa dari Amerika Serikat itu kulit buahnya berwarna jingga dengan bercak kuning, mirip belang harimau. Sementara daging buah berwarna putih. Tekstur buah renyah seperti melon. “Rasa tiger melon seperti timun suri, agak hambar, sehingga cocok dinikmati bersama sirop” tutur Romy. Melon mini itu hanya berukuran sebesar jeruk sunkist atau bola tenis.

Romy menanam melon harimau dalam polibag berukuran 20 cm x 20 cm.  Buah siap panen pada umur tiga bulan pascatanam. Buah selanjutnya 2 pekan pascapanen pertama. Hingga kini belum ada pekebun yang menanam melon harimau secara luas. (Kartika Restu Susilo/Peliput: Lutfi Kurniawan, Muhamad Cahadiyat Kurniawan)

 

Powered by WishList Member - Membership Software