Melon Cerdas

Filed in Rubrik Tetap, seputar agribisnis by on 25/11/2019

Setiap 5 November diperingati sebagai Hari Keanekaragaman Hayati Indonesia. Adapun masyarakat internasional merayakan Hari Keaneragaman Hayati Dunia setiap 22 Mei sejak 1993. Mengapa kita perlu merayakannya? Musababnya, keanekaragaman hayati atau biodiversitas terkait langsung dengan kehidupan kita. Itulah sebabnya tema global tahun ini adalah biodiversitas kita, makanan kita, kesehatan kita.

Eka Budianta

Pada hari biodiversitas yang lalu saya mendapat protes dari seorang siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP). “Mengapa pisang dibeda-bedakan? Menurut saya pisang ya pisang. Untuk apa disebut pisang hijau, pisang susu, pisang raja, pisang macam-macam?” katanya. Untuk menjawabnya, siswa itu perlu ditugaskan ikut kelompok pisang. Setiap kelompok dibekali uang dan disuruh belanja ke pasar tradisional.

Dia belum tahu bahwa ada macam-macam pisang di pasar. Setiap pisang harganya berbeda, manfaatnya pun berbeda. Ada pisang kepok yang harus digoreng dulu sebelum dimakan. Ada pisang tanduk yang harus direbus. Ada pula pisang cavendish yang boleh langsung dimakan. Siswa SMP itu baru tahu ada lebih dari 200 macam pisang. Kelompoknya pulang dari pasar dengan 9 jenis pisang dalam tempo kurang dari dua jam.

Melon aduhai

Berkahnya remaja itu sadar bahwa pengetahuan keanekaragamanan hayati adalah modal utama untuk berbisnis. Pisang bisa dijual sebagai buah segar, pisang goreng, pisang rebus, keripik pisang, minuman pisang, kue pisang, dan seterusnya. Begitu juga dengan aneka buah lain, seperti durian, jeruk, rambutan, bahkan melon Cucumis melo. Biodiversitas melahirkan keanekaragaman pangan, bisnis, dan industri.

Di Ungaran, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, saya bertemu Kabul Pamudji–teknisi yang menjadi pemasok melon. “Saya bukan petani, tapi saya ingin memanfaatkan teknologi untuk mengembangkan produksi melon,” ujarnya. Dengan fasilitas yang cerdas, tanaman dan ternak bisa berproduksi aduhai. Kabul merancang dan membangun rumah-rumah kaca berkelas dunia. Satu paket greenhouse terdiri atas tiga rumah kaca. Total luasnya 1.080 m².

<script async src=”https://pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js”></script>
<ins class=”adsbygoogle”
style=”display:block”
data-ad-format=”fluid”
data-ad-layout-key=”-er+o+l-go+rw”
data-ad-client=”ca-pub-4696513935049319″
data-ad-slot=”3417295201″></ins>
<script>
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});
</script>

Di dalam tiap bangunan, ada kipas dan pipa-pipa penyalur air bernutrisi yang berfungsi otomatis. Para karyawan cukup mengendalikan penyiraman tanaman melalui gawai yang terhubung dengan komputer. Seperti semangka dan mentimun, sebenarnya melon bisa tumbuh dan berbuah di tempat terbuka. Namun, dengan perlakuan khusus, produksinya bisa ditingkatkan sampai enam kali lipat.

Bukan saja hasil panen meningkat lima setengah kali, tapi yang paling penting rasa dan kualitasnya juga meningkat. Begitu prinsipnya. “Saya paling bahagia kalau mendengar orang berkata melon ini manis sekali,” kata Kabul Pamudji. Kabul menanam benih dan varietas melon yang tidak sembarangan. Bahkan, ia memilih dan belajar sampai ke Korea untuk memperoleh benih yang tepat.

Bentuk buah yang tidak biasa, misalnya kotak, mendongkrak harga melon.

Hasilnya memang aduhai. Melon biasa di tukang sayur cukup Rp18.000 sekilogram, sedangkan melon produksi Kabul bisa Rp86.000—Rp100.000 per buah. Padahal, bobotnya hanya 700—800 gram per buah. Itulah melon pilihan. Pasarnya khusus ekspatriat atau diekspor ke mancanegara. Di Jepang, melon disukai untuk oleh-oleh. Dalam kemasan yang bagus, melon dibanderol US$58 atau Rp800.000 per buah.

Modal termahal

Kalau istimewa harganya bisa mencapai US$200 atau Rp2,8 juta. Pada 2016, harga sepasang melon istimewa mencapai rekor melon termahal dengan harga US$45.000 atau lebih dari setengah miliar rupiah. Aduhai benar! Bagaimana itu bisa terjadi? Pertama, itu terjadi karena harga lelang. Pada saat lelang, harga buah bisa mencapai rekor dunia. Di Sidney, Australia, harga beberapa mangga pernah mencapai US$50.000 atau Rp700 juta.

Kedua, karena peranan teknologi. Inggris punya nanas heligan yang harganya mencapai US$15.000 per buah. Itu karena nanas secara alami tidak bisa berbuah di sana. Kalau pun bisa berbuah pasti berkat teknologi dan campur tangan manusia sangat besar. Hal itu bisa dilihat pada harga semangka berbentuk kubus yang dibanderol US$600 atau Rp8,4 juta per buah di Jepang. Jadi, makin tinggi upaya manusia dalam budidaya pertanian, makin tinggi nilai ekonomisnya.

Ketiga, karena jenisnya. Contohnya melon yubari di Jepang yang harganya mencapai US$10.000 dolar atau Rp140 juta per buah. Ada juga semangka densuke yang harganya US$6.000 atau Rp84 juta per buah. Di Benua Eropa juga dikenal buah anggur rubi romawi dengan harga US$1.400 atau Rp19,6 juta per kilogram. Ada juga stroberi putih yang menembus ratusan dolar.

Meski begitu ada yang lebih penting. “Pendidikan dan pemasyarakatan ilmu pertanian lebih mendesak. Jadi, agrowisata sangat perlu dikembangkan,” kata Kabul. Menurut Kabul puncak pembangunan agribisnis adalah tersebarnya ilmu pengetahuan. Paket-paket teknologi rumah kaca untuk melon telah dikembangkan dengan biaya antara Rp700 juta—Rp900 juta per unit. Pasar yang menampung hasil panennya sudah tersedia, baik dalam negeri maupun ekspor.

Tugas terpenting sekarang adalah mendapatkan sumber daya manusia (SDM) yang bersemangat. Itulah modal termahal. Oleh karena itu, agrowisata sangat penting. Pendidikan untuk mencintai dan mengembangkan ilmu berbasis keanekaragaman hayati menjadi faktor kunci. “Saya paling sedih kalau tidak berhasil menularkan semangat inovatif kepada generasi muda,” kata sahabat saya.

Sementara itu biodiversitas dunia makin terancam. Banyak bibit bagus musnah akibat kebakaran hutan di Pulau Sumatera dan Kalimantan. Begitu juga di Brasil yang tahun ini hangus ribuan hektare. Oleh karena itu, pendidikan biodeversitas amat penting***

Tags: , ,

 

Powered by WishList Member - Membership Software