Melirik Bisnis Rebung Tabah

Filed in Laporan khusus, Majalah by on 06/03/2019

Pasar meminta pasokan rebung bambu tabah.

Rebung bambu tabah Gigantochloa nigrociliata menjadi santapan sehari-hari bagi masyarakat Pulau Bali. Menurut periset bambu di Jurusan Teknik Pertanian Universitas Udayana, Dr. Ir. Pande Ketut Diah Kencana, M.S., rebung bambu tabah sangat cocok untuk konsumsi lantaran minim kadar asam sianida (HCN). Kadar asam sianida bambu tabah hanya 7,97 ppm per 100 gram, jauh di bawah rebung bambu petung yang mengandung 256 ppm HCN.

Rebung tabah layak diusahakan.

Kadar HCN itulah yang membuat masyarakat di Pulau Jawa memerlukan waktu lebih dari sebulan untuk mengolah rebung bambu petung Dendrocalamus asper atau bambu ori Bambusa blumeana. Pemasok rebung untuk produsen lumpia di Kota Semarang, Jawa Tengah merendam rebung sebulan bahkan lebih sebelum mengolah secara manual.

Laku

Menurut Diah rendahnya kandungan asam sianida membuat bambu tabah tidak memerlukan pengolahan selama itu. Cukup cuci, kupas, kukus, lalu kemas. Singkatnya proses itu sekaligus menjaga higienitas produk. Maklum, rebung pascapemotongan akan mengalami browning. “Bagian yang cokelat tidak enak dimakan,” kata Diah.

Semakin lama proses, semakin rendah kandungan gizi lantaran terpakai untuk respirasi. “Kalau harus menyimpan untuk diteruskan esok hari, tempatkan rebung dalam penyimpanan dingin (cold storage, red.),” ujar perempuan 61 tahun itu.

Selama ini, Diah bekerja sama dengan restoran atau hotel di Bali untuk memasarkan rebung dalam plastik vakum dan pouch itu. Untuk itu Diah menggandeng kelompok Tani Organik Pupuan (TOP) di Kecamatan Pupuan, Kabupaten Tabanan, Bali. Namun permintaan hotel dan restoran di sekitar Denpasar saja tidak terpenuhi.

Rebung pascapanen harus segera diolah.

Sayang, tidak ada data yang valid tentang luasan tanam bambu tabah di Bali. Menurut Yayasan Keanekaragaman Hayati (Kehati) pada Januari 2019, kelompok tani hutan Patuh Angen di Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat juga menanam bambu tabah. Menurut Diah bambu tabah cocok untuk merehabilitasi lahan kritis.

Perlu perhatian

Pengusahaan rebung bambu tabah sejatinya menguntungkan. Menurut Diah sehektare lahan bisa ditanami 500 rumpun yang menghasilkan minimal 1 ton rebung per musim. Harga jual rebung Rp15.000 per 200 gram—setara Rp75.000 per kg. Dalam musim hujan selama 6 bulan pekebun bisa panen 2 kali sehingga setiap tahun mereka meraih omzet Rp150 juta per ha. Dengan perawatan baik, rumpun bisa terus memproduksi rebung hingga 100 tahun bahkan lebih.

Pengemasan vakum memperpanjang daya simpan rebung.

Permintaan? “Banyak. Tenaga pengolahnya kurang,” kata Diah. Selama ini petani menjual rebung kepada koperasi. Pengolahan sampai pengemasan menjadi tugas koperasi. Kendalanya, dalam setahun petani hanya panen 1—2 kali, yaitu pada musim hujan. Rebung yang tumbuh saat kemarau menjadi regenerasi bagi rumpun sehingga bisa terus memproduksi rebung. “Selama kemarau tidak ada pasokan sehingga harus menyimpan hasil panen musim hujan dalam pendingin,” kata Diah.

Periset bambu tabah, Dr. Pandu Ketut Diah Kencana.

Itu sebabnya industri rebung memerlukan perhatian pemerintah. “Tiongkok dan Thailand menguasai pasar rebung dunia, sementara di sini standar nasional (SNI) saja belum ada,” kata Diah. Menurut ahli bambu di Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor, Prof. Dodi Nandhika, masyarakat selama ini cenderung menganggap bambu sebagai sumber bahan bangunan. “Rebung hanya sampingan,” kata Dodi.

Sejatinya bambu yang layak diolah rebungnya tidak hanya bambu tabah. Diah mencontohkan bambu mayan Gigantochloa robusta yang rebungnya manis. Itu sebabnya alumnus Pascasarjana Teknologi Pertanian Institut Pertanian Bogor itu menyarankan melihat potensi daerah. Ia berpesan, “Kalau masyarakat terbiasa mengolah bambu jenis tertentu, kembangkan saja bambu itu. Jangan memaksakan menanam bambu tabah.” (Argohartono Arie Raharjo)

Tags: , , , ,

 

Powered by WishList Member - Membership Software