Medan Betta Contest III 2010 Titisan Anggrek Hitam

Filed in Ikan hias by on 05/12/2010 0 Comments

GC plakat corak topeng milik Anton dari MedanJotty Atmadjaja, juri asal Jakarta, menilai berdasarkan standar IBCPara jawara kontes cupang di MedanJuara kelas D3 milik Ha Ka dari MedanJawara D4 milik Ridwan dari JakartaGC serit milik Erwin GS dari MedanCorak black orchid butterfly sang jawara tergolong warna baru sehingga memberi nilai tambah. Namun, sesungguhnya menurut juri tubuh proporsional dari kepala hingga ekor menjadi kelebihan utama. ‘Sirip atasnya tampak bulat seperti helm tentara Romawi,’ kata Jotty. Keunggulan itu yang membuat halfmoon itu dengan mudah menjuarai kelas all other color single tail male (AOC STM).

Kemenangan itu tiket untuk melaju ke babak final. Di babak puncak itu sang jawara harus bersaing melawan 5 finalis lain. Performa penampilan halfmoon itu kian mencorong. Ekornya mengembang sempurna setiap kali Jotty mengarahkan sinar lampu senter ke tubuhnya. ‘Luar biasa, form atau bentuknya bagus,’ ucap juri bersertifikat internasional itu.

Plakat ramai

Persaingan ketat juga terjadi di kategori plakat. Harap mafhum, jumlah ikan di kategori itu membludak sampai 100 ekor. Kesulitan terbesar terjadi saat memilih GC. ‘Ada 3 dari 8 finalis yang berpeluang juara: plakat warna dasar biru, biru mask (topeng), dan metalik,’ ujar Jotty.

Dari ketiganya penampilan cupang biru mask milik Anton dari Medan, paling mencolok. Wajahnya putih susu terlihat seperti mengenakan topeng. ‘Sangat eye catching,’ kata Jotty. Keunggulan lain adalah tubuhnya besar dengan panjang sekitar 4 cm. Gerakannya pun lincah. Pantas bila sang plakat meraih predikat GC plakat.

Gelar itu sebetulnya nyaris diraih plakat dasar biru. Tubuh klangenan Mulyono Betta H2 dari Medan itu ukurannya hampir sama dengan sang jawara. Namun, gara-gara bintik putih di sirip dasi, ia tersungkur dan hanya meraih juara pertama di kelas plakat warna gelap. Plakat metalic light bernasib serupa. Cupang milik Betta Hitta dari Medan itu kalah besar dibandingkan sang jawara.

Persaingan lebih longgar di kategori serit. Harap mafhum, kontestannya lebih sedikit, puluhan ekor. Menurut I Wayan

Hermawan, ketua panitia, minimnya peserta serit karena hobiis sulit memperoleh serit kualitas kontes. ‘Untuk mendapat serit kokoh dan bersih, sulit,’ kata Wayan. Hal itu tampak jelas pada kelas serit warna dasar.

Berdasarkan pengamatan Jotty, cupang-cupang serit yang tampil masih banyak yang memiliki noda-noda di corak dasar tubuhnya. Beruntung hal itu tidak muncul pada serit kombinasi milik Erwin dari Medan. Kombinasi merah metaliknya bersih. Serit-seritnya juga rapi dan ngedok sempurna sehingga didaulat sebagai GC kategori serit.

Sistem internasional

Kontes bertajuk Medan Betta Contest III yang berlangsung pada 13 – 14 November 2010 di lapangan Istana Maimun, Medan, Sumatera Utara, itu merupakan kali ketiga skala regional. Pada kontes yang diikuti 200 ikan dari Medan dan Jakarta itu memakai sistem penilaian internasional dari International Betta Congress (IBC). Sistem penilaian itu baru berlaku untuk setiap ikan yang memiliki panjang minimal 3,75 cm. Di bawah ukuran itu penilaian lomba menggunakan standar lokal seperti yang terlihat saat memperebutkan juara regional. ‘Pemakaian sistem IBC untuk pertama kali di Medan ini diharapkan memacu peternak lokal menghasilkan silangan dengan kualitas dunia,’ kata Wayan. (Lastioro Anmi Tambunan)

GC halfmoon corak black orchid butterfly

GC plakat corak topeng milik Anton dari Medan

GC serit milik Erwin GS dari Medan

Jawara D4 milik Ridwan dari Jakarta

Juara kelas D3 milik Ha Ka dari Medan

Jotty Atmadjaja, juri asal Jakarta, menilai berdasarkan standar IBC

Para jawara kontes cupang di Medan

 

Powered by WishList Member - Membership Software