Mau Kholil atau Sinapeul?

Filed in Buah by on 01/01/2009 0 Comments

 

Di pelataran parkir kampus hijau itu tengah diadakan pesta icip-icip durian lokal. Sejuring durian lokal berdaging putih kecokelatan pun disodorkan panitia pada Ikuo. Ikuo memakan sepongge. ‘Wow, enak. Rasanya legit. Tak seperti durian yang banyak dijual di negeri saya,’ kata mania buah berduri itu. Yang dimaksud Ikuo, monthong yang belakangan banyak diimpor dari Thailand.

Melihat Ikuo takjub mencicip durian tanpa nama, Dr Mohamad Reza Tirtawinata, pakar buah dari Bogor, ‘menyeret’ sang profesor mendekati durian berdaging kuning bak mentega. ‘Yang tadi durian biasa. Coba yang ini,’ kata Reza menyodorkan durian kholil asal Semarang, Jawa Tengah. Kholil pemenang lomba durian pada Simposium Internasional Buah Tropis dan Subtropis ke-4 di awal November 2008. Acungan jempol berkali-kali dilontarkan Ikuo usai menikmati kholil.

Telusuri perwira

Yang pertama dicoba Ikuo, Durio zibethinus lokal tanpa nama asal Majalengka. Kabupaten yang terkenal dengan Gunung Ciremai-nya itu kondang sebagai sentra raja buah. Dari sanalah asal muasal perwira. Durian itu berdaging kuning dadu dan tebal, bijinya kempes. Pantas bila anggota famili Bombaceae itu didaulat jadi varietas unggul nasional pada 1993.

Pada pertengahan Oktober 2008, Trubus menelusuri jejaknya ke Majalengka. Tepatnya ke Kampung Sinapeul, Desa Ujungberung, Kecamatan Sindangwangi. Sayang, hari itu tak ada buah matang di pohon induk. ‘Sudah 2 tahun ini produksi buah menurun. Tahun kemarin hanya 50 buah. Sekarang 100 buah, tapi ukurannya jauh lebih kecil,’ kata Titin Susilowati, yang mewarisi perwira dari kakeknya, A Utari Sidik. Ketika dilepas pada 1993 oleh menteri pertanian, pohon berumur 107 tahun itu masih berproduksi 200-300 buah per tahun. Bobotnya 2-3 kg per buah.

Sekarang kondisinya berbeda. Tajuk pohon setinggi 22 m terlihat mengering. Kulit batang yang 2 pelukan orang dewasa mulai melapuk. ‘Pertumbuhan agak merana setelah banyak entres dipakai untuk perbanyakan,’ kata Titin. Beruntung Trubus mendapatkan perwira di sebuah restoran. Pemilik restoran, Iding, mengebunkan perwira setelah menyandang gelar unggul. Di lahan seluas 0,75 ha ia menanam 76 pohon yang kini berumur 15 tahun.

Durian pejabat

Iding membuka perwira berbobot 1,2 kg. Aroma tajam segera menguar. Rasanya? Seperti sering disebut-sebut: kering, manis, dan pulen. Lima puluh persen biji hepe. Karena enak sekali harganya mahal, Rp50.000 per buah. Padahal durian lain hanya Rp15.000. Perwira pun dianggap buah konsumsi pejabat dan orang berkantong tebal.

Si kering, manis, dan pulen itu jugalah yang membuat suami-istri kolektor buah di Hawaii, Frank Sekiya dan Lynn Tsurada, kepincut. Sinapeul-nama lain perwira-dicicip waktu berkunjung ke tanahair. Kini pohonnya ditanam di kebun di Hawaii bersama monthong, chanee (Thailand), dan D-16 (Malaysia). Menurut Iding, kualitas perwira sebetulnya bergeser. ‘Aslinya 75% biji hepe. Rasa juga lebih legit. Hanya warna dagingnya jadi lebih kuning,’ kata pria yang juga seorang penangkar buah itu.

Sebuah perwira di restoran Iding melengkapi kelezatan durian asal Sindangwangi yang Trubus nikmati pada Oktober itu. Jenis lain, sebut saja si belimbing yang rasanya paling berat. Durian berdaging putih itu manisnya berpadu dengan pahit. ‘Si belimbing cocok untuk penggemar kelas berat. Biasanya keturunan Tionghoa sangat suka,’ kata Muhammad Sholeh, bandar durian yang mengantar Trubus. Lain lagi si lonyod, ia manis, legit, dan wangi.

Sentra lain

Asal-muasal kholil yang juara di simposium pun Trubus kejar hingga ke Mijen, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah. Pohon kholil tingginya 20 m dengan lingkar batang 2,5 pelukan orang dewasa. Pohon berumur 90 tahun itu berbuah lebih cepat ketimbang durian lain di Mijen. ‘Biasanya awal musim hujan buah sudah matang,’ kata Ir Sumantri MP, kepala Bidang Hortikultura Dinas Pertanian, Jawa Tengah. Durian lain matang pohon pada November-Januari. Nama kholil disematkan sesuai nama pemiliknya Muh Kholil. Setiap tahun Muh Kholil memanen kholil sebanyak 350-370 buah.

Menurut Muh Kholil, rasa durian juara itu memang paling enak di antara 60 pohon durian miliknya. Rasa kholil manis tanpa pahit. Tebal daging buah sedang. Yang istimewa bobotnya rata-rata 4,8 kg per buah. ‘Orang menyebutnya monthong lokal karena sosok buah mirip durian bangkok,’ kata kelahiran Semarang 42 tahun silam itu.

Di Mijen juga ada durian roti yang populer di Semarang. Ia pernah menjadi runner up lomba durian se-Jawa Tengah. Disebut roti karena daging buah empuk, mirip roti tawar. Durian milik Teguh Anggoro W itu disukai karena rasa manis agak pahit dan beraroma kuat. Pohon berumur 20 tahun itu produksinya mencapai 110 buah per tahun.

Durian ketan

Memasuki akhir tahun, mania durian memang dimanjakan raja-raja buah dari berbagai sentra. Di Pandeglang, Songgo Tjahaja, menikmati durian beragam rasa: manis, legit, hingga agak pahit. ‘Di sini luar biasa. Hampir semua yang dijajakan termasuk durian jempolan,’ kata kolektor aglaonema yang pencinta berat durian. Salah satu yang dicicipinya mirip kanjau-durian asal Thailand yang manis dan legit.

Nun di Padang, Sumatera Barat, penjaja durian pun bermunculan. Terutama di Jl. MH Thamrin dan Jl Singamaraja yang terkenal sebagai pusat penjualan durian. Cara makannya pun unik. Durio zibethinus dibelah, lalu ketan bercampur parutan kelapa dihidangkan. Pongge durian dicocol ke parutan kelapa dan ketan, baru dimakan. ‘Rasa durian menjadi lebih kental di lidah dan tenggorokan,’ kata Dyah Widiastoety, mania asal Jakarta, yang ikut berburu durian.

Mereka biasanya berbagi lapak dengan penjual ketan. ‘Karena itu sering disebut durian ketan,’ kata Hartinah S.Sos, penggemar anggrek di Padang, yang menemani Trubus. Menurut Roni Chandra, salah satu pemilik kedai, di ruas jalan sepanjang ½ km di Jl. Thamrin terdapat 10 penjaja durian beserta penjual ketan.

Durian pilihan di Jl. Singamaraja lebih banyak lagi. Jalan sepanjang 1 km dipenuhi penjaja buah berduri itu. Raja buah itu berasal dari Payakumbuh, Painan, dan Maninjau. Karena berasal dari berbagai daerah rasanya beragam: manis hingga agak pahit. Pantaslah tak hanya mania tanahair yang menggandrungi durian lokal. Ikuo dan Frank pun kepincut. (Destika Cahyana/Peliput: Faiz Yazri, Nesia Artdiyasa, dan Tri Susanti)

 

Powered by WishList Member - Membership Software