Masam Bukan Hambatan

Filed in Sayuran by on 30/11/2011

Padahal potensi jagung hasil rakitan itu bisa mencapai 10 ton per ha. Tanah masam miskin hara dan sedikit mengandung bahan organik.

Sebaliknya, kandungan aluminium, mangan, dan besi di tanah masam tinggi. Unsur-unsur itu mengikat kandungan fosfat dalam tanah sehingga tidak dapat diserap tanaman. Berbeda dengan tanah ber-pH netral kaya bahan organik sehingga subur, unsur hara penting tersedia bagi tanaman.

Mahal

Kondisi minim hara di tanah masam menyebabkan akar jagung menjadi pendek, pembungaan terlambat. Tongkol jagung berukuran pendek. Untuk menggenjot pH petani harus memberi asupan kapur sebanyak 5 ton per ha seharga Rp1.400 per kg. Kesuburan tanah diperbaiki dengan menambahkan 10 ton per ha bahan organik berupa kotoran hewan. Selain itu pemberian pupuk mengandung fosfor tinggi misal dalam bentuk SP-36 yang saat ini harganya Rp2.400 per kg. Padahal kebutuhannya mencapai 200 kg per ha.

Artinya, untuk mendongkrak kesuburan tanah supaya sesuai kebutuhan penanaman jagung secara optimal petani harus mengeluarkan biaya tinggi.

Pemberian bahan organik dalam jumlah banyak secara teknis juga sulit dilakukan petani, terutama di luar Pulau Jawa karena ketersediaannya terbatas. Oleh karena itu, hibrida unggul yang toleran di lahan masam, berproduksi tinggi meski minim pemupukan sebuah impian.

Itulah yang didapat dari riset oleh Ir Suprapto MSc PhD, Dr Ir M Taufik MS, dan Ir Eko Suprijono MP dari Fakultas Pertanian, Universitas Bengkulu. Hasil riset sejak 2006 yang didukung oleh Kementerian Riset dan Teknologi RI itu menghasilkan 13 jagung hibrida yang adaptif di lahan masam ultisol.

Hemat pupuk

Ketigabelas hibrida itu terbukti berproduksi tinggi saat diuji di lahan masam dan lahan subur dengan input rendah. Tanaman ditanam berjarak 75 cm x 25 cm dengan asupan pupuk 150 kg per ha Urea, 50 kg per ha  SP-36, dan 25 kg per ha KCl dalam satu periode tanam. Bandingkan dengan lazimnya dosis pemupukan budidaya jagung hibrida sebanyak 300 kg Urea, 200 kg SP-36, dan 100 kg KCl per ha.

Hasilnya, produksi di lahan uji coba Kabupaten Bengkulu Selatan, Provinsi Bengkulu, berupa tanah ultisol ber-pH 4,7 mencapai 6,28-9,80  ton per ha jagung pipil kering. Pengujian di tanah alluvial ber-pH 5,4 di Kabupaten Musirawas, Sumatera Selatan, menunjukkan hasil  8,03-10,37 ton per ha jagung pipil kering. Umur panen jagung di kedua lokasi itu 97-100 hst. Sementara di lahan andosol ber pH 6 di  Kabupaten Rejanglebong, Bengkulu, dengan ketinggian 900 m dpl, produktivitas bervariasi 4,70-10,63 ton per ha jagung pipil kering dengan umur panen lebih panjang: 124-126 hst.

Produktivitas ketigabelas hibrida baru itu lebih tinggi dibandingkan hibrida komersial yang digunakan sebagai pembanding. Peneliti hanya mengaplikasikan pestisida berbahan aktif karbofuran sebanyak 10 kg per ha yang ditaburkan pada lubang tanam.

Ternyata,  tidak ada serangan hama penting. Hibrida baru itu juga menunjukkan ketahanan terhadap penyakit bulai, hawar daun, antraknosa, busuk batang, dan tahan rebah.

Kini lima hibrida di antaranya telah didaftarkan di Pusat Perlindungan Varietas Tanaman, Kementerian Pertanian pada Februari 2011 dengan nama SUPRA 1, MITA 1522, NDA 143F, SUTO 71, dan UNIB C38. Hibrida lainnya akan segera menyusul sehingga produksi jagung tinggi di lahan masam bukan lagi sekadar impian petani. (Ir Suprapto MSc PhD, Pemulia/Dosen Fakultas Pertanian, Universitas Bengkulu)

 

  1. Petani jagung teladan tingkat nasional ikut serta panen jagung tahan tanah masam
  2. Jagung hibrida varietas NDA 143F

 

 

Powered by WishList Member - Membership Software