Marzuki Safiee: Incar Tin Hitam

Filed in Topik by on 03/03/2016
Marzuki Safiee menginvestasikan lebih Rp320-juta untuk membangun sebuah greenhouse.

Marzuki Safiee menginvestasikan lebih Rp320-juta untuk membangun sebuah greenhouse.

Berkebun tin dalam greenhouse 330 m2, dilengkapi jaringan fertigasi.

Greenhouse berbentuk terowongan atau tunnel itu berdiri kokoh di atas lahan 3 ekar setara 1,2 ha. Di dalam greenhouse berkerangka baja itu tumbuh 400 tanaman tin beragam jenis. Marzuki Safiee membangun rumah tanam itu pada 2015 yang menghabiskan RM100.000 setara Rp320-juta. Petani di Kajang, Selangor, Malaysia, itu menanam tin di keranjang plastik 60 cm x 40 cm x 30 m. Jarak antar pot hanya 1,37 meter sehingga tampak rapi. Adapun jarak antarbaris untuk lalu-lalang 1,52 m.

Marzuki membagi tin menjadi 2 kelompok berdasarkan warna buah, yakni merah dan hitam. Tin kelompok merah terdiri atas varietas super red hybrid, taiwan golden fig, masui dauphine, brown turkey mutation 6, taiwan green fig (TGF), dan red khurtmani. Ia memilih jenis itu karena buah berukuran jumbo, produktif, dan berbuah sepanjang masa. Sementara tin hitam antara lain maltese falcon, de la reina, manresa, ballerina, dan albacore comuna.

Marzuki Safiee mengebunkan tin di Kajang, Selangor, Malaysia.

Marzuki Safiee mengebunkan tin di Kajang, Selangor, Malaysia.

Hitam langka
Marzuki mengatakan, “Yang hitam itu rasanya sedap, manis, dan lezat. Harganya mahal.” Sebagai gambaran harga tin merah di tingkat pekebun hanya RM80 setara Rp240.000 per kg, yang hitam RM200 per kg. Produksi buah tin hitam memang tak sebanyak tin merah. Karena lebih eksklusif, pemilik Kebun Pertanian Fertigasi itu kini fokus mengembangkan varietas buah tin hitam. Selain harga lebih tinggi, buahnya pun gampang dipasarkan.

Dari 200 tanaman yang siap petik, Marzuki memanen 15 kg tin merah dan 2—3 kg buah hitam setiap hari. Ia tak perlu jauh-jauh memasarkan buah Ficus carica itu, hanya mengunggah foto di media sosial. Dalam 1—2 hari konsumen pun datang ke kebun sehingga semua buah langsung ludes. Untuk menjamin memperoleh buah beberapa konsumen memesan buah 2—3 hari sebelum pemetikan.

Buah belum masuk pasar swalayan karena telah habis di kebun. “Seandainya produk buah ada 50 kg sehari, jumlah itu tetap tidak cukup untuk memenuhi permintaan konsumen,” ujar ayah 5 anak itu. Buah dipanen pada pagi hari. Namun, bila ada tamu dari jauh pada sore hari, buah pun dipetik lagi. Sebenarnya selain produksi buah, kebun tin itu tetap memproduksi bibit. Produksi bibit itu sejatinya bertujuan untuk memangkas tanaman berukuran besar dan memerlukan pemangkasan.

Dari usaha tin, hasilkan lebih Rp1-miliar per tahun.

Dari usaha tin, hasilkan lebih Rp1-miliar per tahun.

Sebab, ketika tanaman makin tinggi Marzuki makin sulit memanen buah. Selain itu ukuran buah juga makin kecil. Itulah sebabnya pemangkasan cabang tin sebuah keharusan. Ia hanya mempertahankan 4—5 cabang terbaik. Dua cabang tumbuh ke kiri, dan 2—3 cabang tumbuh ke kanan. Ia menopang setiap cabang dengan kawat yang digantung dari atas. Kalau tidak dibantu, pohon akan tumbang.

Tanpa pemangkasan maka tanaman tumbuh nglancir sehingga pekerja sulit memanen buah. Sebelum memangkas ia mencangkok cabang itu. Dalam sebulan Marzuki menjual rata-rata 500—1.000 bibit dengan harga RM100—RM2.000 setara Rp320.000—Rp6,4-juta. Pembeli bibit tin berasal dari berbagai kota di seluruh wilayah di Malaysia, bahkan Indonesia dan Brunei Darussalam.

Setiap tanaman mendapat pupuk sesuai fase tumbuh, ukuran tanaman, dan ukuran daun.

Setiap tanaman mendapat pupuk sesuai fase tumbuh, ukuran tanaman, dan ukuran daun.

Daun tin
Sumber pendapatan lain Marzuki adalah daun tin. Untuk itu ia sengaja menanam beberapa varietas seperti red libya, black iranian, black portugal, dan green greek. “Jenis-jenis itu mempunyai daun yang lebar dan beraroma sedap,” tutur pria bermisai tebal itu. Ia menjual daun-daun itu RM40 setara Rp128.000 per kg segar. Ia memetik 10—20 kg daun per pekan.

Sebagian lain ia ambil dari daun dari tanaman untuk produksi buah. Bila pertumbuhan bagus, daun lebat dan tinggi, ia merontokkan sebagian daun untuk memberi kesempatan buah terkena sinar matahari agar warna tetap menarik. Juga saat mencangkok untuk perbanyakan bibit, Marzuki membuang sebagian daun dari batang utama. Daun-daun itulah yang ia kumpulkan.

Tin hitam rasanya manis, lezat, dan harga mahal.

Tin hitam rasanya manis, lezat, dan harga mahal.

Produksi buah, bibit, dan daun itu bisa berkesinambungan karena manajer di sebuah perusahaan teknologi informasi itu merawat tanaman keluarga Moraceae itu secara intensif. Pertumbuhan tanaman relatif cepat. Dalam 5 bulan, tinggi tanaman mencapai 2 m. Alumnus jurusan Fisika Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM) itu memberikan nutrisi dengan teknologi fertigasi. “Kita beri baja (pupuk, Red) sesuai kebutuhan tanaman,” kata pria kelahiran Kelantan 55 tahun silam itu.

Ladang tin terbuka akan diganti dengan sistem tertutup dalam greenhouse.

Ladang tin terbuka akan diganti dengan sistem tertutup dalam greenhouse.

Beda ukuran daun, beda pula konsentrasi dan dosis pupuk. Ia menggunakan pupuk AB mix untuk fertigasi hasil formulasi sendiri untuk setiap fase tumbuh. Volume pemberian bergantung kepada umur atau ukuran tanaman, ukuran dan jumlah daun, serta faktor cuaca. Pemupukan berlangsung secara otomatis dengan menekan alat pengontrol khusus pemberian air atau pupuk.

Penyiraman berlangsung 6 kali dengan volume 2,5 l setiap hari. Adapun pemberian nutrisi berlangsung 3 kali sehari. Ia meramu sendiri pupuk itu. “Kalau beli, kita akan tergantung pada orang,” tutur Marzuki. Dengan perawatan intensif tanaman kerabat nangka itu tumbuh sentosa dalam rumah tanam. (Syah Angkasa)

Tags: ,

 

Powered by WishList Member - Membership Software