Mari Bikin Nutrisi Sendiri

Filed in Sayuran by on 31/10/2011

Sobirin Supardiyono manfaatkan limbah dapur untuk kompos dan MOLBukannya risau, Safarudin justru tersenyum melihat keong mas di sawahnya. Petani di Desa Tepian, Kecamatan Sembakung, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Timur, itu memunguti keong mas dan memasukkannya ke karung. Safarudin lalu mencacah tubuh lunak Pomacea caniculata itu hingga hancur dan mencampur dengan air cucian beras dan air kelapa. Ia juga menambahkan 4 kg gula pasir yang dicairkan dalam 120 liter air ke dalam campuran itu.

Safarudin memfermentasi campuran itu selama 2 pekan. Setelah tercium aroma menyengat mirip tapai, ia pun memanfaatkannya sebagai cairan dekomposer dalam pembuatan kompos. Menurut Ir Alik Sutaryat, penggiat pertanian organik di Kabupaten Ciamis, Provinsi Jawa Barat, larutan hasil fermentasi keong mas yang dipakai Safarudin itu adalah larutan mikroorganisme lokal (MOL) yang mengandung beragam mikroorganisme.

“Pembuatan MOL bisa menggunakan beragam bahan baku organik di sekitar kita seperti keong mas,” ujar Alik. Petani mudah mengumpulkan keong mas dengan atraktan alias penarik berupa daun pepaya, daun talas, atau daun pisang. Letakkan dedaunan itu di pematang sawah. Keong mas biasanya akan tertarik datang ke lokasi itu dan berkumpul di dedaunan itu.

Hemat biaya

Penggunaan mikroorganisme lokal untuk pertanian menghemat biaya pupuk sekaligus meningkatkan produktivitas tanaman. Safarudin misalnya, menghemat Rp1,5-juta untuk biaya pupuk. Pupuk tergantikan oleh kompos berbahan baku rumput dan jerami padi yang ia fermentasikan dengan MOLkeong mas.

Produktivitas padi di sawahnya pun meningkat dari semula hanya sekitar 2 ton, kini mencapai 7 ton per ha setelah ia mengombinasikan penggunaan pupuk organik dan budidaya system of rice intensification (SRI). Sebuah kebetulan belaka? Riset ilmiah membuktikan bahwa mikroorganisme lokal memang mampu mendongkrak produksi sebagaimana hasil penelitian John Paulo Samin dari Filipina.

Ia membuktikan penggunaan mikroorganisme lokal sebagai pengganti pupuk kimia meningkatkan produktivitas tomat. Samin menggunakan mikroorganisme lokal berbahan baku nasi pada tanaman tomat. Konsentrasinya bervariasi: 30 ml, 40 ml, dan 50 ml – semua per liter air. Sebagai perbandingan, beberapa tanaman tidak dipupuk sama sekali dan sebagian lain dipupuk dengan pupuk kimia komplet dan amonium sulfat.

Hasilnya, rata-rata jumlah buah matang siap petik tiap panen pada tanaman yang diberi mikroorganisme lokal setara tanaman yang diberi pupuk kimia. Pada tanaman yang tidak dipupuk, jumlahnya hanya sekitar 1/5 dari tanaman yang dipupuk. Meski jumlah buah sama, tetapi rata-rata bobot total buah pada tanaman yang dipupuk mikroorganisme lokal konsentrasi 50 ml mencapai 244 g; tanaman yang diberi pupuk kimia, hanya 188 gram.

Diduga, mikroorganisme lokal memperbaiki kondisi tanah sehingga mendukung pertumbuhan tanaman. Mikroorganisme dalam tanah merangsang proses dekomposisi, sehingga membantu menyediakan hara dari bahan organik yang tersedia di tanah. “Ujung-ujungnya, meningkatkan penyerapan hara oleh tanaman sehingga tanaman tumbuh lebih sehat dan lebih baik,” tutur Alik.

Menurut Sobirin Supardiyono, pelaku pertanian perkotaan di Bandung, Jawa Barat, selain keong mas dan nasi masih banyak bahan-bahan organik lain yang bisa dimanfaatkan sebagai sumber mikroorganisme bahan baku MOL antara lain rebung bambu, bonggol pisang, buah busuk, tapai, urine, dan terasi. (Tri Susanti/ Peliput: Faiz Yajri)

 

Powered by WishList Member - Membership Software