Manjur Atasi Asam Urat

Filed in Fokus by on 31/10/2011

Andi Subandi tahu betul emping melinjo dan jeroan itu dapat memicu asam urat. Namun, ia sering kali tak kuasa menahan hasrat bila kedua penganan itu berpadu dalam semangkuk soto. “Saya ngemil emping minimal segenggam setiap hari,” ujar pria 28 tahun itu.

Efek buruk gara-gara hobi mengonsumsi emping dan jeroan mulai terasa pada 2008. Lutut dan telapak kaki kiri kerap terasa ngilu dan kesemutan. Kadang-kadang rasa ngilu itu membuatnya berjalan tertatih-tatih dan mengganggu aktivitas sebagai koordinator logistik di salah satu perusahaan di Kelapagading, Jakarta Utara. Namun, Andi tak pernah hirau gejala yang kerap menderanya itu.

Purin tinggi

Andi baru merasakan kondisi kakinya makin memburuk saat berkunjung ke kediaman kerabatnya di Tanjungpriok, Jakarta Utara. Rasa sakit di kaki kiri tiba-tiba menyerang. Saking sakitnya Andi sampai tak mampu menggerakkan kaki kiri dan harus dibantu berjalan. Sang kerabat lalu bergegas membawa Andi ke rumahsakit terdekat. Hasil pemeriksaan dokter menunjukkan kadar asam urat dalam darah mencapai 8,5 mg/dl, normal 7 mg/dl. Dokter menyarankan Andi menghentikan konsumsi emping dan jeroan.

Menurut dr Danarto SpB SpU, dari Pusat Pelayanan Urologi Rumahsakit An-Nur Yogyakarta, daging dan melinjo mengandung purin tinggi sehingga mesti membatasi konsumsi. Purin berlebih meningkatkan asam urat dalam darah sebagai hasil akhir metabolisme. “Bila fungsi ginjal kurang bagus maka dapat mengendap di ginjal. Itu bisa menyebabkan gagal ginjal karena endapan itu menghambat sekresi urine,” ujarnya.

Meski begitu bukan berarti yang memiliki fungsi ginjal bagus terbebas dari risiko asam urat. Asam urat terbawa dalam darah dan menumpuk di jaringan lunak pada tubuh seperti jaringan sendi. Bila kita biarkan, topus – tumpukan asam urat – menyebabkan peradangan sehingga menimbulkan nyeri di daerah sendi seperti lutut, pergelangan tangan, tumit, dan siku.

Menurut herbalis di Kotamadya Tangerang Selatan, Provinsi Banten, Lukas Tersono Adi, tubuh sebenarnya memerlukan asam urat untuk membantu menyeimbangkan metabolisme dalam tubuh. “Tapi kebutuhannya sedikit,” ujar alumnus Universistas Diponegoro itu.

Untuk mengatasinya, dokter memberikan obat berupa kapsul dan tablet. Menurut dr Danarto obat asam urat biasanya golongan allupurinol. Tubuh memetabolisme allupurinol menjadi enzim penghambat oksidase hypoxanthine dan xanthine menjadi asam urat. Andi mengonsumsi obat itu dua kali sehari. Sepekan mengonsumsi, rasa sakit di kaki kiri mulai berkurang. “Paling hanya linu setiap bangun pagi, “ujarnya.

Wheat grass

Pria yang hobi bermain futsal itu menghentikan konsumsi obat dokter karena merasa kondisinya membaik. Ia kembali pada kebiasaan lama, konsumsi emping. “Terkadang saya masih suka menyantap emping walau hanya 1 – 2 keping,” kata Andi. Pantas bila penyakit hiperurikemia itu kembali mendera.

Untuk mengobatinya, Andi beralih mengonsumsi herbal yakni wheat grass alias tanaman gandum yang baru berumur 10 hari. Ia memperoleh informasi tentang khasiat bibit gandum setelah berselancar di dunia maya dan membaca berbagai literatur di media cetak. Informasi itu pula yang mempertemukan Andi dengan Deni Abdurrahman, AMG AMK, konsultan gizi di sebuah perusahaan produsen herbal berbahan gandum muda di Jakarta pada awal 2011.

Sejak itulah Andi rutin mengonsumsi 2 g ekstrak rumput gandum. Ia melarutkan serbuk wheat grass dalam 250 ml air dan meminum sekaligus hingga 6 kali sehari. Setelah 3 pekan mengonsumsi, rasa ngilu di lutut dan kesemutan sirna. Kegemarannya bermain futsal setiap pekan kembali ia jalani. Bahkan, ia tak ragu untuk mengikuti kegiatan berjalan kaki menyusuri kawasan Puncak, di Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat.

Menurut Deni jus rumput gandum dapat membantu menyembuhkan asam urat karena mengandung senyawa alami lengkap seperti vitamin, mineral, asam amino, enzim, dan senyawa fitokimia seperti klorofil. Kandungan klorofil yang cukup tinggi pada wheat grass berperan menetralisir racun dan melancarkan peredaran oksigen dalam darah. Senyawa yang mirip hemoglobin dalam darah itu juga mampu mengeluarkan setiap endapan yang membahayakan bagi tubuh seperti endapan asam urat di ginjal dan persendian. “Sifat detoksifikasi dan antioksidannya mampu mentralkan racun hingga 50%,” ujarnya.

Dosis rendah

Ekstrak rumput gandum mengandung senyawa aminopurine yang mampu menghambat oksidasi enzim xanthine. Dalam metabolisme tubuh, xanthine memecah purin menjadi asam urat. Riset dari Jung Feng Hsieh dan rekan dari Institue of Biological Chemistry and the Genomics Research Center di Taiwan mengungkap pemberian 200 µg ekstrak rumput gandum per ml air mampu menghambat oksidasi xanthine hingga 73,3%. Sebab, metabolisme aminopurine menghasilkan adenine yang merupakan bahan pembentukan asam nukleat untuk regenerasi sel.

Aminopurine bekerja dengan membentuk sel-sel baru yang sehat sehingga menekan oksidasi xanthine dalam sel tua. Aktivitas penghambatan oleh aminopurine dinilai dengan satuan IC50. Angka itu menunjukkan konsentrasi ekstrak yang mampu menghambat 50% oksidasi, Semakin kecil nilainya, maka semakin kuat dalam menghambat proses oksidasi. Itu berarti pula semakin tinggi aktivitas antioksidannya.

Nilai IC50 aminopurine 10,89 mM. Angka itu lebih tinggi ketimbang allupurinol yang hanya 7,82 mM. Artinya aktivitas oksidasi rumput gandum memang masih lebih rendah daripada allupurinol. Meski begitu, toh rumput gandum muda menjadi jalan kesembuhan bagi Andi. Meski tak pernah kambuh, Andi tetap mengonsumsi ekstrak rumput gandum untuk mencegah rasa ngilu timbul kembali. Hanya saja dosisnya lebih rendah yaitu satu kali sehari dengan dosis yang sama. Berkat jasa wheat grass, rasa ngilu yang kerap ia derita tak lagi menyapa. (Andari Titisari).

 

Powered by WishList Member - Membership Software