Manggis Versus Sirosis

Filed in Topik by on 31/10/2011

 

Makanan bersantan memperberat kerja leverPerongrong HatiPegagan sebagai herbal pendamping dapat mengatasi peradanganIsyarat SirosisSuhu tubuh Doyot lebih dari 400C, tetapi ia menggigil kedinginan sejak Februari 2011. Keringat mengalir deras membanjiri sekujur tubuh. Ia harus berganti baju 3 kali sehari. Kondisi ayah 5 anak itu makin memburuk meski 2 pekan dirawat intensif. “Kesadarannya menurun. Kalau ada yang mengajak bicara malah menjawab seperti meracau,” ujar Asmawati.

Bahkan, Doyot sering mengamuk sambil berteriak seperti hilang kesadaran. Oleh karena itu Asmawati akhirnya membawa pulang sang suami karena kondisinya tak kunjung membaik. Ia berniat merawat suami yang mengidap abses di rumah. Abses merupakan infeksi yang menimbulkan nanah di hati. Penyebab abses hati adalah infeksi oleh bakteri, parasit, cendawan, dan nekrosis akibat kerusakan sel secara akut.

Biasanya infeksi itu berawal dari sistem pencernaan. Infeksi bisa sampai ke hati melalui kandung kemih, perut, dan bagian tubuh lain yang terinfeksi. Kemudian infeksi dapat menyebar ke seluruh tubuh karena terbawa aliran darah. Pasien yang terkena infeksi hati biasanya demam tinggi, menggigil, nafsu makan berkurang, mual, lemah, berkeringat, dan nyeri di perut, persis seperti yang dialami Doyot selama ini.

Sirosis, lalu kanker

Atas saran kerabat, Asmawati akhirnya menemui dokter sekaligus herbalis di Kota Tangerang Selatan, Provinsi Banten, dr Paulus Wahyudi Halim Med Chir. Paulus mendiagnosis abses hati di tubuh Doyot menyebabkan sirosis alias pengerasan jaringan hati. Akibatnya, fungsi hati tidak optimal. “Hati berperan menetralkan racun di tubuh. Jika tidak berfungsi optimal, sebagian besar racun tidak ternetralisir dan menyebar ke seluruh tubuh,” ujar dokter ahli bedah dan kanker alumnus Universitas Degli Studi Padova, Italia, itu.

Menurut Paulus, sirosis kini menjadi ancaman serius karena prevalensi terus meningkat. Data World Health Organization (WHO) menunjukkan, jumlah penderita sirosis di dunia pada 2000 mencapai 170-juta orang atau 3% dari jumlah penduduk dunia. Jumlah itu terus bertambah 3-juta – 4-juta pasien setiap tahun. Pada 2003 prevalensi sirosis hati di Indonesia 1 – 2,4%.

Jumlah penderita sirosis terus bertambah seiring meningkatnya pasien penyakit akibat infeksi hati seperti hepatitis C. “Pasien hepatitis C mengalami infeksi virus yang hingga kini belum ditemukan vaksinnya,” ujar Paulus. Penyebab lain, infeksi aflatoksin yang disebarkan cendawan Aspergilus flavus. Kebiasaan buruk mengonsumsi makanan yang mengandung zat berbahaya, makan berlemak tinggi seperti gorengan, juga dapat menyebabkan sirosis karena memicu hati bekerja ekstrakeras.

“Jika sirosis tidak dikendalikan dengan benar dapat menyebabkan kanker hati,” ujar Paulus. Jika sudah menjadi kanker, hati pasien hampir tidak berfungsi. Oleh karena itu racun dengan mudah menjalar ke seluruh tubuh melalui peredaran darah. Contohnya bilirubin yang merupakan hasil akhir penguraian sel darah merah yang sudah mati. Hati mestinya menyaring bilirubin, lalu mengeluarkan melalui feses.

Namun, karena hati rusak, maka bilirubin tidak tersaring dan akhirnya bercampur dengan darah. Akibatnya, seluruh tubuh pasien kanker hati menjadi kuning yang berasal dari warna bilirubin. Bagian tubuh yang paling jelas terlihat kuning biasanya telapak tangan dan kaki, serta mata.

Kulit manggis

Untuk mengobati penyakit Doyot, Paulus memberikan ramuan yang terbuat dari ekstrak kulit manggis, temulawak, kunyit, daun sukun, dan akar bambu kuning – semua dalam bentuk kapsul. Ia memberikan ramuan majemuk karena masing-masing herbal memiliki peran berbeda. Menurut Paulus, dalam ramuan itu kulit manggis berperan sebagai superantioksidan. Antioksidan tinggi memacu regenerasi sel untuk menggantikan sel-sel hati yang rusak.

Doyot disiplin mengonsumsi masing-masing 3 kapsul 3 kali sehari. Selain itu Doyot juga mengonsumsi herbal rebusan berupa simplisia pegagan, kumis kucing, lidah buaya, dan bunga sepatu. Pegagan untuk mengatasi radang, sedangkan kumis kucing memperlancar berkemih untuk memperbaiki kerja ginjal. Seluruh herbal itu berpadu untuk mengeluarkan racun. ”Semakin banyak racun dibuang, kerja lever semakin ringan,” ujar Paulus. Doyot merebus seluruh herbal itu dalam 3 gelas air hingga mendidih dan tersisa 1 gelas. Saring rebusan herbal lalu minum air rebusan 3 kali sehari.

Sepekan setelah rutin mengonsumsi herbal itu, ia merasakan perubahan signifikan, suhu tubuh normal sehingga berhenti menggigil. Selain itu muncul nafsu makan. Setelah 1,5 bulan mengonsumsi ramuan itu, kondisi tubuh Doyot makin membaik. Bobot tubuh yang semula 45 kg, kini naik menjadi 57 kg. Ia juga dapat kembali berjalan kaki. Saat Trubus berkunjung ke kediamannya pada 15 Oktober 2011, Doyot tengah asik menyiram tanaman di halaman rumah. Sebelumnya aktivitas ringan seperti itu saja tak sanggup ia lakukan.

Untuk memastikan kondisi tubuhnya membaik, Doyot kembali memeriksakan diri pada 12 Oktober 2011. ”Dokter yang dulu menangani saya sampai geleng-geleng kepala karena kagum dengan kesembuhan saya,” ujar polisi itu. Kini Doyot menghindari konsumsi gorengan, makanan pedas, asam, dan bersantan untuk menjaga kondisi hatinya tetap stabil. Ia juga menghentikan kebiasaan merokok yang telah membuatnya kecanduan selama 28 tahun.

Doyot juga menghindari konsumsi kurma, mangga, duku, rambutan, leci, lengkeng, buah naga, kiwi, matoa, plum, dan stroberi. Menurut Paulus konsumsi buah-buahan itu berefek antagonis sehingga dapat mengurangi khasiat antioksidan kulit manggis. Paulus juga menyarankan untuk menghindari konsumsi sayuran tertentu seperti lobak, kol, brokoli, bunga kol, petai, dan jengkol. Menurut Paulus herbal tertentu seperti tapak dara, buah merah, kelor, dan kapulaga juga mengurangi khasiat kulit manggis.

Terbukti ilmiah

Kesembuhan Doyot bukan kebetulan belaka. Riset ilmiah Chi Kuan Ho dari Rumahsakit Veteran, Taipeh, Taiwan, membuktikan bahwa kulit manggis memiliki efek sitotoksik terhadap sel kanker hati. Kulit manggis mencegah sirosis berkembang menjadi kanker hati. Senyawa aktif yang berperan melawan sel kanker adalah garcinone E yang merupakan salah satu turunan xanthone dalam kulit manggis.

Periset itu menguji kulit manggis secara praklinis pada sel kanker yang diambil dari jaringan hati, paru-paru, dan perut. Mereka lalu membandingkan garcinone E dalam kulit manggis dengan beberapa obat kemoterapi komersial. Hasil penelitian menunjukkan, garcinone E memiliki angka LD50 mencapai 0,5 – 5,4 µm. Artinya, dosis sekecil itu mampu membunuh 50% sel kanker hati. Semakin rendah angka LD50 (lethal dosage) maka daya bunuh terhadap sel kanker hati makin tinggi. Angka LD50 garcinone E lebih rendah alias lebih ampuh ketimbang obat kemoterapi komersial.

Kulit manggis juga berperan sebagai antibakteri. Anggota staf pengajar Sekolah Farmasi Institut Teknologi Bandung (ITB), Prof Dr Elin Yulinah Sukandar, dan rekan membuktikan kulit manggis Garcinia mangostana memiliki aktivitas antimikrob. Hasil penelitian menunjukkan pemberian mangostin – senyawa aktif hasil isolasi dari ekstrak kulit manggis menggunakan pelarut heksana – dalam berbagai dosis dapat menghambat pertumbuhan 3 jenis bakteri penyebab diare: Shigella flexneri, Salmonella typhi, dan Escherichia coli. Dari berbagai dosis itu efek penghambatan paling tinggi adalah pada konsentrasi 10 mg/l.

Adapun rimpang temulawak dan kunyit berperan sebagai pelindung hati alias hepatoprotektor dengan menetralkan racun dan radikal bebas. Sementara daun sukun dan akar bambu berperan sebagai antiinflamasi. Beragam herbal, termasuk kulit manggis di dalamnya, bahu-membahu melawan sirosis hati yang bercokol di tubuh Doyot. (Desi Sayyidati Rahimah)

 

Powered by WishList Member - Membership Software