Mangga September Berbuah Jumbo

Filed in Buah by on 31/07/2011

 

Mangga mandenkau dari kebun Suprihadi berbobot 800-900 g, lebih besar ketimbang di negara asalnya Thailand yang hanya berbobot 600-700 g per buahDaging buah tebal dan manis, aroma seperti arumanisInilah aktivitas Marsdya (Pur) Suprihadi bila mangga mundeunkao yang tumbuh di halaman rumah tengah berbuah. Sejak pagi ia berkeliling di sekitar pohon. Matanya mengawasi dompolan buah yang menyembul di antara dedaunan. Begitu terlihat ada dompolan buah yang terlalu lebat, ia tak ragu menyeleksi dan hanya menyisakan 1 buah.

Aktivitas itu menjadi rutinitas baru Suprihadi. Sejak pensiun dari Angkatan Udara, waktu luang jenderal bintang tiga itu lebih banyak untuk menyalurkan hobinya berkebun di halaman rumah.  Perawatan intensif bukan hanya dilakukan saat mangga tengah berbuah. Usai panen Suprihadi membenamkan 4 kg pupuk organik per pohon. Ayah 3 anak itu juga menambahkan pupuk majemuk yang dilarutkan dalam air dengan konsentrasi 2 g per liter. Pupuk disiramkan di sekeliling area perakaran. Pemupukan serupa kembali diberikan enam bulan berselang.

Buah jumbo

Suprihadi juga rutin memangkas tajuk setiap 3 pekan. Tujuannya agar tajuk tidak terlalu rimbun. “Jika terlalu rimbun kelembapan mikro tinggi sehingga mengundang cendawan penyebab penyakit berkembang biak,” kata Hendro Soenarjono, ahli buah di Bogor, Jawa Barat.

Pantas saat Trubus berkunjung ke kediaman Suprihadi pada pertengahan Mei 2011, terlihat 98 buah mundeunkao jumbo bergelayut di pohon setinggi 9 m. Bobot rata-rata mencapai 800 – 900 g per buah. Ukuran itu jauh lebih besar ketimbang di negara asalnya di Thailand yang rata-rata hanya 600 – 700 g per buah. “Bahkan sampai ada yang 1,5 kg per buah,” ujar Suprihadi. Menurut Hendro seleksi buah menyebabkan nutrisi yang diterima buah  lebih optimal sehingga ukuran lebih bongsor.

Yang luar biasa, mundeunkao di kediaman Suprihadi bisa panen 2 kali setahun: Mei dan Oktober. Menurut Narin Watana Anurak, warga Thailand yang kini menetap di Karawang, Jawa Barat, pemberian pupuk dan perawatan tepat  mendorong pohon berbuah 2 kali setahun. Di kebun miliknya di Karawang, mundeunkao berbuah setahun sekali pada September – Oktober. Itu karena Narin tidak terlalu intensif melakukan perawatan. Pekebun di Thailand menyemprotkan kalium nitrat untuk membuahkan mundeunkao di luar musim. “Di sana bisa berbuah tanpa musim,” tutur Narin.

Narin menuturkan mundeunkao (bahasa Thailand: mun=mangga, deun= bulan, kao= sembilan) tergolong mangga yang gampang berbuah dan lebat. Ia paling lezat dinikmati pada bulan ke-9. Mundeunkao sangat populer di kalangan pekebun Thailand sejak diperkenalkan  pada 1997. “Tanaman asal perbanyakan vegetatif mulai berbuah pada umur 2 tahun,” kata Narin. Di kebun Narin pohon berumur 4 tahun dan tinggi 3 m menghasilkan 200 buah. “Tanpa perlakuan apa pun mundeunkao sangat mudah berbuah,” ujarnya.

Selain pupuk, paparan cahaya matahari juga penting untuk memacu tanaman berbuah. Menurut Hendro mangga rajin berbuah bila mendapat paparan sinar matahari minimal 80%. “Sinar matahari merangsang aktivitas hormon pembentukan bunga,” ujarnya. Di kediaman Suprihadi mundeunkao ditanam di tempat terbuka sehingga mendapatkan sinar matahari penuh.

Kurang sinar

Suprihadi menanam mundeunkao sejak 2 tahun silam. Saat ditanam ukuran pohon sudah setinggi 3 m, berumur sekitar 7 tahun. Jenderal yang juga hobi merawat ayam serama itu mendapatkan mundeunkao dari kakak iparnya, Marsdya (pur) Prayitno Ramelan, yang membeli bibit saat bertugas di Thailand pada 2002.

Sayang, di halaman rumah Prayitno mangga asal Provinsi Chachoengsao – 100 km sebelah timur Bangkok – itu tumbuh kurang optimal. Meski sudah berumur 9 tahun, tapi mangga jarang berbuah. Itu karena Prayitno menanam mangga yang enak dipanen muda alias manenda itu di dalam drum, lalu membenamkannya di tanah. “Karena ditanam dalam drum, pasokan hara jadi terbatas,” kata Hendro.

Di kediaman Prayitno di Tanjungbarat, Jakarta Selatan, mundeunkao juga tumbuh di tempat yang ternaungi dan terhalang tembok sehingga tak terpapar sinar matahari secara optimal. “Kalau paparan sinar matahari kurang dari 60%, pertumbuhannya akan terhambat,” ujar Hendro. Khawatir terus merana, akhirnya dari tiga pohon yang ditanam, salah satunya diberikan kepada Suprihadi.

Di halaman rumah Suprihadi menanam mundeunkao langsung di tanah dan tanaman tumbuh sentosa. Meski baru ditanam

2 tahun silam, ia sudah 4 kali panen. “Saat ini (Mei 2011, red), sudah muncul bunga baru meskipun buah belum selesai dipanen seluruhnya,” ujar Suprihadi. Artinya, bila tidak rontok akibat hujan, ia kembali memanen mundeunkao pada Agustus 2011.

Setelah menyaksikan kesuksesan sang adik ipar merawat mundeunkao, kini Prayitno mulai memperbanyak mangga yang beraroma mirip arumanis itu lewat cangkok. Dari dua pohon mangga yang tersisa, salah satunya dijadikan pohon induk. Hasil perbanyakan itu lalu ditanam dalam pot. “Bila hara dan cahaya matahari cukup, mangga di dalam pot sebetulnya juga bisa tumbuh subur dan berbuah lebat,” kata Hendro.  Itu harapan Prayitno pada 9 tabulampot mundeunkao berumur setahun yang kini tengah ia rawat. (Pranawita Karina)

 

Powered by WishList Member - Membership Software