Maling Kembang

Filed in Rubrik Tetap, seputar agribisnis by on 13/10/2020

Jenis tanaman aroid seperti aglaonema yang tengah naik daun menjadi incaran pencuri.

Pencurian tanaman hias sedang marak.  “Jangan sebut lokasi tanaman saya,” kata  Diana di Jakarta Selatan.  Pertama, ia takut diincar  penjahat.  Kedua, harus berhati-hati, waspada terhadap sesama pesaing.  “Persaingan di antara penjual bunga, bisa kejam,” kata perempuan kelahiran 1977 itu.  Sejak sepuluh tahun terakhir ia aktif di bisnis tanaman, “Karena menjualnya gampang,” katanya.

Pengadaannya pun tidak sulit. “Tahun lalu saya beli Monstera marmorata terdiri atas dua daun Rp 550.000. Saya setek pakai lumut hidup. Anakannya kemarin dengan tujuh daun kecil-kecil dihargai Rp 7 juta. Ya saya jual, berarti satu daun sejuta, kan?” cerita alumni sekolah akutansi itu. Ternyata bukan hanya gampang menjualnya, mencurinya pun gampang. Maling tanaman  membawa mobil dan sudah jadi urusan polisi di mana-mana.

Dampak korona

Disinyalir pencurinya beraksi pada dinihari. Sebagian bahkan mengambil tanaman saja.  Beberapa aglonema yang dilaporkan hilang, dicabut langsung dari potnya. Pada 13 September 2020 dinihari, satuan patroli Polsek Tembalang, Semarang, Jawa Tengah, mencurigai mobil yang diparkir di dekat penjual tanaman hias.  Ketika didekati, ternyata sudah beberapa pot sikas hijau sudah masuk ke jok belakang mobil.  Beruntung polisi berhasil memanggil pemilik kios tanaman itu, dan pencurian digagalkan.

Namun, di Lampung pencurian berhasil,  sepuluh pot aglonema cantik, raib digondol maling. Pemiliknya warga Kemiling, Provinsi Lampung, Herdi (31 tahun),   rugi puluhan juta rupiah.  Media daring kompas.com  sepanjang awal September melaporkan maraknya pencurian tanaman.   “Yah hitung saja kalau satu pot harganya Rp15 juta,” kata Diana.  Dia mengatakan, “Bulan lalu saya jual Monstera marmorata Rp10 juta, bulan ini dijual lagi sudah jadi Rp 20 juta” Pencurian menjadi marak karena tanaman hias tengah tren lagi.  Harga Monstera  mint, misalnya, bisa mencapai Rp60 juta.

Eka budianta

Daftar harga monstera dan jumlah yang laku bisa dipantau lewat daring. Khusus di Kota Depok, Jawa Barat, umumnya bertengger di angka Rp50 juta. “Dulu orang kaya pamer gelang emas. Sekarang pamer tanaman mahal,” kata Diana.  Putri keluarga tentara asal Nganjuk, Jawa Timur, itu juga menengarai banyak artis yang mulai hobi merawat tanaman mahal.

Contohnya ada yang mengoleksi aglonema dan monstera variegata. Harganya bervariasi antara Rp15 juta—Rp50 juta.  “Orang-orang itu beli tanaman hias harganya jutaan.  Selain untuk investasi, juga buat prestise, bahwa dirinya berada. Sanggup punya tanaman mahal,” kata Diana.  Menurut Diana itu terjadi karena dampak virus korona.  Banyak orang menganggur, ingin sibuk di rumah.

Pencurian tanaman nhias juga kembali terjadi bukan hanya dari koleksi yang mahal.  Petugas Dinas Lingkungan Hidup Aceh Tamiang melaporkan bunga bayam di median Jalan Ir. Haji Juanda, Karang Baru juga lenyap.  Beritanya sampai muncul di media serambinews.com, 14 September 2020.  Tanaman yang dicuri tidak memiliki nilai ekonomi yang tinggi.  “Yang paling mahal Rp150.000,- sebatang bibit bugenvil,” kata pejabat setempat.

Di Medan hal itu juga terjadi.  Disinyalir pencurinya ibu-ibu dan menjalankan aksinya pada pukul 02.00 dinihari.  Di Yogyakarta pelaku pencurian seorang ibu dengan membawa anaknya, sehingga membuat miris yang memergokinya. Petugas tidak tega menindaknya.  Ada juga yang tertangkap CCTV Pemda Bantaeng, Sulawesi Selatan. Aparat keamanan di sana mengatakan, “Awalnya video itu kami viralkan. “Tapi lama-lama bosan, karena selalu berulang.”
 
Bunga antimaling

Di Gondomanan, Yogyakarta,  pencuri tanaman tahu bahwa aksinya dipantau dan direkam CCTV.  Meski begitu pencuri nekat melakukan juga.  Mungkin karena mudah menjualnya dan dianggap sebagai delik pencurian ringan.  Kriminalitas kecil demikian dipahami sebagai kejahatan yang pelakunya tidak perlu ditahan.  Padahal, Peraturan Mahkamah Agung merevisi KUHP 364 tentang denda pidana ringan duaratus lima puluh rupiah, harus dibaca Rp2.500.000.

Hal itu sering dibahas mengingat terjadinya pencurian di perkebunan negara yang berulang-ulang.  Maraknya pencurian tanaman hias, tak bisa dipungkiri terkait dengan krisis ekonomi akibat pandemi korona.   Keindahan tanaman mendatangkan nilai ekonomi yang tinggi, akibatnya diincar oleh kalangan yang menderita kesulitan. Bagaimana mengamankan  tanaman yang mahal-mahal itu?

Pernah muncul mode membangun kerangkeng besi dan memasang alarm untuk menjaga koleksi anthurium di Karanganyar, Jawa Tengah.  Namun, solusi menarik yang  muncul dari kalangan pebisnis tanaman adalah mengampanyekan “tanaman antimaling”.   Apakah itu? Tanaman antimaling yang ditawarkan adalah tanaman berduri seperti euphorbia yang bisa melukai tangan bila tidak didekati dengan-hati-hati.

Harganya cukup murah, hanya Rp10.000 setiap pot.  Namun, karena sukar dikemas, ongkos kirimnya bisa tiga kali lebih mahal.  Sudah jelas, kegiatan maling kembang justru merusak agribisnis.  Kegiatan melawan hukum itu perlu ditangani dengan lembut dan manusiawi. Bagaimana Diana mengamankan dagangannya? “Jual saja cepat dan murah, sebelum dicuri orang,” jawabnya. ***

Tags: ,

 

Powered by WishList Member - Membership Software