Lubang Kehidupan

Filed in Topik by on 07/08/2010 0 Comments

 

Tiga lubang berdiameter 10 cm dan kedalaman 1 m ada di setiap antarbedeng lahan di kebun percobaan Institut Pertanian Bogor itu. ‘Lubang itu meresapkan air hujan ke tanah. Makanya sepanjang tahun ketersediaan air di lahan tidak pernah putus,’ tutur Ir Kamir R Brata MSe, penemu biopori. Onggokan serasah menahan laju air hujan sehingga tidak hilang percuma. Air tertahan, masuk ke lubang biopori.

Kehadiran lubang itu membuat pemakaian pupuk efektif. Harap mafhum, lazimnya ketika hujan turun dan mengalir begitu saja di permukaan tanah, pupuk ikut tercuci. Dengan ‘bendungan’ serasah daun dan lubang biopori, pupuk ‘lari’ hanya ke daerah pertanaman. ‘Makanya dengan penggunaan pupuk yang sama, tanaman di lahan yang menggunakan biopori lebih subur karena memanfaatkan pupuk secara maksimal,’ imbuh ahli hidrologi dari Institut Pertanian Bogor itu.

Dengan menerapkan biopori pengolahan tanah pun minim. ‘Prinsip biopori adalah membuat lubang yang memunculkan pori-pori tanah,’ kata Kamir. Pori-pori berperan sebagai rumah-rumah penyimpan air untuk tumbuh-kembang tanaman. Ketika tanah diolah berat, justru merusak pori-pori tanah. Pada penanaman jagung cukup membuat lubang sedalam 6-8 cm berdiameter 5 cm sebagai lubang tanam. Toh pada awal tumbuh jangkauan akar pendek. Ke dalam lubang itu dimasukkan bibit berumur 3 minggu-bukan benih seperti lazimnya pekebun lakukan selama ini. Dengan dibuat bibit pekebun pun menghemat air karena jagung disemai dalam media terbatas yang pengairannya bisa diatur. Jika benih langsung ditanam di lahan, butuh air lebih banyak untuk menumbuhkannya.

Antiamblas

Pertumbuhan jagung yang vigor nantinya berujung pada produktivitas tinggi. Lahan penanaman pun terjaga kesuburannya. Sayang, meski menguntungkan secara ekonomi dan ekologi, sedikit yang sudah menerapkan biopori di lahan pertanian. Padahal konsepnya sama dengan biopori yang sejak 3 tahun silam dikampanyekan untuk dibuat di lingkungan perumahan di kota-kota besar. Lubang dibuat dengan cara membenamkan sebuah alat berbentuk bor. Cukup memutar bor ke kanan, tanah akan terangkat. Jadilah lubang biopori.

‘Biopori bermanfaat untuk menjaga ketersediaan air di dalam tanah,’ kata Kamir. Itu diamini oleh Prof Dr der Soz Drs Gumilar Rusliwa Somantri, rektor Universitas Indonesia. ‘Biopori sebagai sarana konservasi air,’ katanya. Di rumahnya di Bogor, Jawa Barat, Gumilar membuat tak kurang 30 lubang biopori. Tak ketinggalan Universitas Indonesia pun menjadi salah satu yang paling awal menerapkan biopori.

Menurut Ir Dwi Priyantoro MS, Kepala Laboratorium Teknik Sungai Jurusan Teknik Pengairan Fakultas Teknik Universitas Brawijaya Malang, pembuatan biopori termasuk tindakan struktur untuk menjaga tanah tidak amblas karena pori-pori tanah terisi air. Bila pori-pori kosong, permukaan tanah rawan turun.

Riset Kamir menunjukkan lubang bipori idealnya berdiameter 10 cm dengan kedalaman 1 m. Itu berbeda dengan yang banyak dipraktekkan orang saat ini. Di beberapa perumahan di Jabodetabek lubang biopori dibuat berdiameter 15-20 cm. Anggapannya semakin besar lubang semakin baik. Ke dalam lubang diberi pipa PVC supaya tanah tidak luruh karena terinjak orang lalulalang. ‘Padahal dengan kehadiran PVC pori-pori tanah justru tidak terbentuk,’ kata Kamir.

Jika diameter lubang hanya 10 cm, tanah tidak bakal ambles ketika diinjak. Penghuni rumah pun tidak perlu khawatir terperosok karena panjang kaki orang dewasa rata-rata 20-24 cm. Lubang juga tidak bakalan menjadi sarang tikus atau ular yang selama ini ditakutkan. Harap mafhum dengan lebar cuma 10 cm dan dalam 1 m, hewan-hewan itu bakal kesulitan untuk keluar lubang. Lubang terlalu sempit untuk mereka berputar arah.

Kedalaman kurang dari 1 m tidak disarankan karena kemampuan menyerap air hujan berkurang. Apalagi ke dalam lubang sebaiknya rutin dimasukkan serasah daun atau sampah organik dari rumah. bahan-bahan itu nantinya terdekomposisi menjadi humus yang bisa dimanfaatkan sebagai media tanam atau pupuk hijau. Sementara pada kedalaman lebih dari 1 m, keragaman dan populasi hewan tanah-antara lain berperan sebagai pembentuk pori tanah-berkurang. Supaya lubang biopori terlihat cantik dan selaras dengan pekarangan, bagian tepinya diberi batu hiasan.

Lubang kehidupan

Itulah yang Trubus lihat di kediaman Kamir di Bogor, Jawa Barat. Di halaman rumahnya seluas 400 m2 ada 40 biopori. Tidak ada aturan jarak biopori. ‘Prinsipnya ke mana air mengalir, di situlah dibuat lubang biopori,’ kata master hidrologi dari salah satu perguruan tinggi di Australia itu. Di bagian tanah yang tidak rata, supaya air hujan tidak menggenang dibuatkan alur dangkal menuju lubang biopori.

‘Lihat, sekalipun hujan deras, pekarangan tidak becek,’ kata Kamir sambil menjejak-jejakan kaki ke tanah. Nantinya di masa depan, dari biopori itu bisa ‘tercipta’ mataair yang jernih. Jika mataair jernih, sungai-sungainya juga bersih.

Di rumah yang rimbun oleh pepohonan itu tidak terlihat daun berceceran. Padahal, tak ada satu pun bak sampah terlihat. Maklum setiap hari penghuni rumah memasukkan sampah-sampah itu ke lubang tanpa perlu dicacah terlebih dulu. ‘Biar mikroorganisme dan makhluk-makhluk di dalam tanah yang mengurainya menjadi humus,’ kata Kamir. Kelak ketika humus sudah memenuhi lubang, tinggal diambil menggunakan alat sama, lalu dimanfaatkan menjadi media tanam yang subur. Jika begitu, biopori pun menjadi lubang kehidupan petani dan pemilik rumah. (Karjono)

 

Biopori tingkatkan efisiensi pemupukan karena mencegah pencucian hara akibat limpasan hujan

 

Powered by WishList Member - Membership Software