Lokasi Pas Resapan

Filed in Laporan khusus, Majalah by on 11/03/2020

Pembuatan beton penutup sumur resapan.

Sumur resapan menjadi cara termudah, termurah, dan tercepat untuk mengembalikan air hujan ke dalam tanah. Itu kalau dibandingkan dengan upaya peresapan lain seperti reboisasi, pembuatan waduk atau embung atau injeksi air bersih ke dalam tanah. Namun, pembuatan sumur resapan tidak bisa sembarangan. “Lubang resapan harus di titik terendah yang menjadi jalan air. Kalau tidak, air hanya lewat di sampingnya,” kata mantan manajer Program Sumur Resapan Serikat Paguyuban Petani Qoryah Thayyibah, Nurul Munawaroh.

Menurut ahli sumur resapan lembaga SPPQT, Mujab, lokasi terlarang membuat sumur resapan adalah di sisi fondasi bangunan, tepi jurang, bawah jalan akses yang menjadi lintasan utama, di tengah sungai, atau di tanah bekas tempat sampah. Sumur resapan wajib berpenutup untuk meminimalkan risiko bagi warga yang beraktivitas di dekatnya. Petunjuk Teknis Perencanaan Sumur Resapan terbitan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat menyatakan bahwa dasar sumur resapan harus lebih dari 3 m di atas lapisan akuifer. Daya resap (permeabilitas) tanah minimal 2 cm per jam.

<script data-ad-client=”ca-pub-4696513935049319″ async src=”https://pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js”></script>

Pengalaman warga Desa Patemon, Tengaran, Kabupaten Semarang, Joko Waluyo, biaya pembuatan sumur resapan berkisar Rp3 juta—Rp3,5 juta. “Yang paling mahal biaya menggalinya,” katanya. Jenis sumur resapan yang dibuat SPPQT itu disebut recharge well, sekadar mengandalkan gravitasi untuk memasukkan air hujan ke dalam lapisan air tanah. Meski tergolong mudah dan murah, biaya pembuatannya terbilang lumayan bagi sebagian masyarakat. Meski begitu manfaatnya jauh lebih besar ketimbang biayanya. (Argohartono Arie Raharjo)

Tags: , , ,

 

Powered by WishList Member - Membership Software