Lokasi Durian Lokal Enak

Filed in Topik by on 01/02/2010 0 Comments

Ia kian menarik karena daging buah kuning keemasan. Yang setara si terong ialah si seupah juara dari Pandeglang, Banten, dan elsa juara dari Jepara, Jawa Tengah.

Ajimah menjadi asor di hadapan si terong, si seupah, dan elsa karena warna daging buah putih. Meski ajimah berdaging tebal manisnya kalah jauh ketimbang ketiganya. “Sekarang rasanya dingin dan tawar,” kata Gregori Garnadi Hambali, penyilang durian di Bogor. Satu-satunya sisa keunggulan ajimah yang terlihat saat ini hanya bentuk buah yang menarik: benar-benar bulat.

Menurut Ir Wijaya MS, penangkar durian di Bogor, semasa ajimah masih dipetik dari pohon induk di Desa Sukajaya, Kecamatan Tamansari, Kabupaten Bogor, daging buah menarik dan enak. “Daging buah kekuningan, manis agak pahit, dan pulen. Makanya ia disebut durian favorit bung karno,” kata mantan peneliti di Kebun Pembibitan Cipaku, Bogor, itu. Rasa ajimah bergeser karena dipetik dari anakan berumur 30 tahun. Induk asli ajimah yang dicicip Wijaya mati dihantam petir 8 tahun lalu.

Dua puluh tahun silam Trubus melacak ajimah ke putra pertama Bung Karno – Guntur Sukarno Putra. Guntur membenarkan ajimah termasuk durian kegemaran Presiden RI pertama. Ia bahkan menyebut durian lain yang disebut bung karno: saleja. Belakangan terungkap ada 4 durian kesukaan proklamator Indonesia. Semuanya dari Bogor yaitu ajimah, saleja, hepe, dan parung. Sayang saleja dan parung punah dan tak lagi terlacak.

Terbatas

Menurut Greg semua durian bung karno berasal dari Bogor karena kondisi Indonesia 58 tahun silam tak seperti sekarang. Dulu semua buah di Jakarta dipasok dari Bogor. Tak mungkin buah dari Pontianak atau Pandeglang masuk ke Jakarta dalam kondisi segar.

Toh, di setiap daerah kerap muncul durian Bung Karno. Diduga setiap Soekarno berkunjung ke luar daerah kerap disuguhi Durio zibethinus terlezat setempat. Contohnya durian bung karno asal Bangka Belitung yang kini ditanam di Taman Wisata Mekarsari (TWM), Cileungsi, Bogor. Tercatat 21 durian sukarno berumur 15 tahun tumbuh di sana. Sayang, buah belum stabil. Terkadang manis sedikit pahit, kadang hambar.

Satu-satunya durian bung karno yang masih bisa dinikmati kelezatannya hanya hepe. Wartawan Trubus Imam Wiguna mencicip hepe (artinya kempes, red) pada penghujung Desember 2009 dari induk aslinya di Desa Bendungan, Kecamatan Jonggol, Kabupaten Bogor. Rasanya? Manis agak pahit, padat, dan berbiji kempes. Pohon induk hepe berumur di atas 100 tahun itu kini dimiliki oleh H Abroh.

Unggul

Yang pasti kini semua durian bung karno seolah takluk pada durian baru yang bermunculan. “Eksplorasi durian kian sering. Lomba pun banyak digelar di setiap kabupaten. Pasti durian unggul yang tadinya hanya dikenal di daerah setempat muncul ke permukaan. Apalagi kriteria durian unggul sudah dirumuskan dan disempurnakan,” tutur Dr Ir Winny Dian Wibawa MSc, direktur Budidaya Tanaman Buah, Direktorat Jenderal Hortikultura, Kementerian Pertanian RI.

Menurut Sobir PhD, kepala Pusat Kajian Buah Tropika (PKBT) Institut Pertanian Bogor, kebanyakan konsumen menyukai durian yang dagingnya tebal, manis, kering, dan bertekstur lembut. Warna yang menarik – seperti kuning atau putih kekuningan – menjadi nilai tambah karena merangsang konsumen mencicip. “Itu durian yang disukai konsumen,” kata Sobir. Buah yang bulat sempurna dianggap bentuk buah terbaik.

Sementara durian yang rasanya manis sedikit pahit hanya disukai konsumen kelas premium yang jumlahnya terbatas. Menurut Sobir untuk durian komersial ada syarat tambahan: “Harus bisa dipanen pada saat matang fisiologis, tapi setelah diperam rasanya tetap enak mirip matang pohon,” katanya. Itu untuk menjamin buah dapat dikirim ke toko yang jaraknya jauh dari kebun. Sedangkan bagi pekebun harus yang produktivitasnya tinggi.

Produktif

Nah, durian si terong hasil eksplorasi Baharuddin BSc, Simbul Haryadi, Dr Ir Moh Reza Tirtawinata MS, dan Trubus pada awal Januari 2010 disebut-sebut memiliki kriteria disukai konsumen. Dari 10 anggota tim pencicip – terdiri dari pakar durian, pekebun, mania, dan konsumen umum – sepakat menyebut si terong yang terbaik di antara 13 varietas durian yang diboyong Reza dari Balaikarangan, Sanggau, Kalimantan Barat.

“Daging buah manis, legit, dan kering. Warna si terong juga menarik: kuning keemasan,” kata Dr Ir Ahmad Dimyati MS, direktur jenderal Hortikultura Kementerian Pertanian RI. Dimyati malah menyebut 4 durian lain yang layak disebut unggul seperti parong, sigapur, tingi, dan merah. Keempatnya berdaging tebal dan manis dengan tingkat keseragaman yang tinggi.

Saat wartawan Trubus berkunjung ke Balaikarangan, pohon durian si terong di tepi Sungai Sekayam tengah digelayuti 2.000 buah. Dua ribu buah? Ya, bobot terong hanya 1 – 1,5 kg sehingga pohon berumur 100 tahun – dengan lingkar batang 3 pelukan orang dewasa – banyak memunculkan buah. Durian lain dengan lingkar batang setara paling hanya 200 – 300 buah. “Ukuran buah kecil tapi produksi paling tinggi di antara durian sekayam,” kata Hizbullah bin H Mustofa Yusuf, pengusaha di Balaikarangan yang membantu memperoleh si terong.

Makanya Ir Ibrahim Arsyad MS, manajer lingkungan PT Medco menyebut terong potensial dikebunkan. “Ini benar-benar durian yang berpeluang menjadi big market. Ukuran kecil membuat harga untuk konsumen terjangkau. Keluarga kecil juga bisa menghabiskan tanpa takut tersisa,” kata Ibrahim.

Menurut Winny, yang setara dengan si terong ialah si seupah, si kapal, dan si lereng asal Pandeglang, Banten. Daging buah ketiganya kuning menarik dan tebal. Si seupah kuningnya seperti mentega dengan semburat merah. Rasanya manis, lembut, legit, dan sedikit pahit. Warna si kapal dan si lereng memang tak semencolok seupah. Namun, rasanya hanya beda-beda tipis: manis, lembut, legit, dan kering (baca: Rasakan! Kelezatan Durian Pandeglang, hal 24-25). Sosok luar ketiganya pun bulat menarik. Penelusuran Trubus, elsa asal Jepara – juara kontes Durian Jepara 2009 – juga setara dengan terong.

Sentra baru

Lahirnya 5 durian itu hanya secuil cerita dari kisah panjang perburuan durian Trubus pada Desember 2009 – Januari 2010. Sentra durian Lampung yang sebelumnya jarang diubek-ubek sangat membelalakkan mata. Di Desa Negerisakti, Kecamatan Gedongtataan, Kabupaten Pesawaran, Lampung, menyimpan durian lezat. Saat durian terenak bernama negerisakti dicicip rasanya manis, legit, kering, tapi lengket di lidah. Daging buah tebal, satu juring hanya berisi 1 – 2 pongge.

Maklum, selama ini citra durian asal Lampungdi Jakarta buruk. Daging buah tipis dan hambar. Menurut Abu Sofyan, kepala bidang hortikultura Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Pesawaran, Lampung, munculnya anggapan durian lampung berkualitas jelek karena kebanyakan durian di Lampung dipanen sekaligus. “Ketika adabuah yang mulai jatuh, durian 1 pohon semuanya dipetik. Itu karena penjualan diserahkan ke pemborong. Padahal bila dilakukan seleksi panen kualitasnya tak kalah,” tuturnya.

Di Lampung ditemukan pula durian enak seperti si bongkok, trenggiling, si gobang, si kancil, si manalagi, segitiga, si rajawali, dan si kendit. Mereka adalah durian lokal asal biji di Kelurahan Kedawung, Kecamatan Kemiling, Bandarlampung, milik Ir Hanan Abdul Rozak MS, kepala Dinas Kehutanan Provinsi Lampung. Hanan beruntung memiliki 50 pohon durian terpilih di lahan seluas 7.000 m2.

Di Kampung Simpangasem, Kelurahan Batuputu, Kecamatan Telukbetung Utara, Bandarlampung anakan putar alam – yang sudah populer – asal biji pun sempat tercicip. Meski asal biji rasa buah dari pohon durian milik Baharudin itu manis pahit dan lengket di lidah. “Rasanya sama dengan induknya,bedanya hanya di ukuran yang lebih kecil,” kata Emmyati Oesman, staf Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih Provinsi Lampung.

Sementara di Malang, Jawa Timur, ada sentra baru di Ngantang dan Kasembon dengan total pohon durian 65.000 tanaman. Yang sudah teruji salah satunya jingga, durian kesukaan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang manis pahit. Perburuan tim Durian Research Centre berhasil mencicip durian tumbu yang manis dan kering. Yang paling gres durian botak (baca: Cinta Si Botak dan Si Gundul, hal 18)

Varietas baru

Di luar sentra baru, sentra lama pun tak luput jadi lokasi perburuan. Di Leuwiliang, Bogor, yang terkenal sebagai sentra durian di Bogor, juga punya 2 durian: cipelat dan si kuya. Yang pertama disebut cipelat karena di bagian luar kulit buah terdapat pelat (alur, red) agak lebar yang kentara. Daging buah cipelat kuning dan manis sekali. Bobot per buah 4 – 5 kg. Si kuya berdaging tebal mirip monthong,” kata Saipudin, pemilik pohon. Bedanya bila monthong hanya manis tanpa pahit, maka si kuya manis agak pahit.

Nun di Lombok, Nusa Tenggara Barat, Reza menemukan si gadung, durian baru yang jauh lebih lezat ketimbang tong medaye – durian legendaris dari Lombok. Rasa si gadung manis, gurih, kering, tapi lengket setelah masuk mulut. Mirip lengketnya ketan. Warna si gadung kuning dan berbiji kempes. “Bila dibuat skor 1-10, nilai si gadung 9. Sementara tong medaye 8,5,” kata Reza. Pantas Siti Hutami Endang Adiningsih alias Mbak Mamiek, puteri mantan Presiden Soeharto, berniat mengebunkan si gadung seluas 10 ha di Lombok.

Beragam durian lokal yang ditemukan itu kian menegaskan Indonesia kaya durian unggul. “Sejak 1984 hingga sekarang tercatat 67 varietas unggul nasional telah dilepas Kementerian Pertanian,” kata Winny. Sementara durian unggul lokal yang tak tercatat jumlahnya diperkirakan lebih 200 varietas. Sayang, mereka kebanyakan hanya unggul sebagai pohon tunggal. Banyak durian unggul yang diperbanyak di daerah lain rasanya berubah.

Durian lezat itu juga tak mudah ditemui di lapak durian di pinggir jalan. “Semua sudah habis dipesan sejak masih di pohon,” kata Saipudin, pemilik cipelat dan si kuya. Andai ada di lapak durian umumnya disembunyikan. Contohnya hepe di Jonggol, Bogor. “Hepe saya sembunyikan karena sudah dipesan pelanggan,” kata H Imay Sunjaya, penjual durian yang juga memperbanyak hepe.

Itu beda dengan monthong asal Thailand yang banyak dijajakan di pinggir jalan. “Daya adaptasi monthong luas. Ia bisa ditanam meluas di Thailand dan di tanahair dengan kualitas yang tidak banyak berubah,” kata Wijaya. Pantas dari 24.679 ton durian impor sebanyak 98,6% adalah durian thailand. Impor dari Malaysia, 1,1%; Amerika Serikat, 0,1%; China, 0,1%; Chili, 0,07%, dan Australia, 0,06%.

Lokal vs monthong

Belakangan monthong yang dijajakan di toko buah modern ada juga yang berasal dari pekebun lokal seperti Lampung Selatan, Lampung dan Kendal, Jawa Tengah. Itu karena adaptasi monthong di tanahair juga luas. Menurut Winny ke depan pengembangan durian lokal perlu dikembangkan strategi baru. “Durian itu spesifik lokasi. Bila mau mengembangkan, pilih durian unggul lokal setempat. Bisa juga dengan menyeleksi durian enak di sekitar kebun,” katanya.

Contohnya yang dilakukan Erick Wiraga di Subang, Jawa Barat. Ia mengamati durian lokal unggul seperti matahari, petruk, lai, dan durian lokal di sekitar kebun. Durian di sekitar kebun – yang tanpa nama – yang dianggap lezat diberi kode nomor. Misalnya 222, 127, atau 228. Setelah mereka ditanam dan rasanya tak berubah Erick menggandakannya hingga total 7.000 tanaman. “Kini mereka sedang diperbanyak,” kata Erick. Di kebun Erick 95% durian adalah lokal setempat.

Berbeda dengan monthong, bibit durian asal Malaysia yang juga banyak didatangkan sejak tahun 90-an belum menunjukkan hasil memuaskan. “Durian asal malaysia seperti D24 dan Mdur rasanya berubah sehingga belum komersial,” kata Lutfi Bansir, peneliti durian dari Durian Research Centre, Universitas Brawijaya, Malang. Belakangan di Carrefour, Cibinong, Bogor, muncul durian yang dilabeli durian dari bibit asal Malaysia. Satu kg dibandrol Rp19.800. Sayang, daging buah belum sebagus monthong, mirip durian lokal di pinggir jalan.

Menurut Winny sebetulnya jumlah durian impor hanya 3,6% ketimbang produksi durian lokal yang mencapai 683.232 ton. Mereka seolah mengungguli durian lokal karena dipajang menarik di toko buah modern atau toko buah di pinggir jalan. Rasa mereka pun relatif seragam sehingga mengundang mania durian pemula membeli tanpa khawatir tertipu. Makanya konsumsi per kapita durian di Indonesia meningkat 10 kali lipat ketimbang 5 tahun silam.

Angkat lokal

Kini untuk mengangkat pamor durian lokal, Kementerian Pertanian mencanangkan durian lokal menjadi tuan rumah di tanahair yang tak kalah dengan monthong. Langkah awal dilakukan dengan mengembangkan durian di 10 provinsi sentra yang meliputi 15 kabupaten dan kota. Setiap sentra direncanakan pengembangan 500 – 1.000 tanaman yang setara 5 – 10 ha – dengan durian unggul lokal setempat. Contohnya di Majalengka, Jawa Barat, dianjurkan durian perwira yang sudah terbukti unggul. Sedangkan di Lombok, Nusa Tenggara Barat, ditanam tong medaye.

Menurut Reza pengembangan durian lokal idealnya bukan untuk mensubstitusi impor, tapi mensubstitusi durian lokal yang di jual di lapak durian yang kualitasnya rendah. “Durian lokal yang dijual di lapak, paling hanya 1 – 5% yang kualitasnya super,” kata Reza. Karena itu jumlah penanaman setiap sentra berbeda tergantung luasan. Contohnya di suatu sentra – misal Leuwiliang diinventarisir terdapat 20.000 pohon (dengan asumsi kebun komersial berjarak tanam 10 m x 10 m setara 200 ha) – maka ditanam 20.000 bibit durian lokal unggul setempat. Strategi yang dipilih bisa top working atau bibit baru.

Bila cara itu dilakukan, maka 5 tahun nanti durian yang ditanam belajar berbuah dengan puncak panen 10 tahun ke depan. “Ini memang langkah jangka panjang yang tidak bisa gegabah,” tutur Reza. Menurut Lutfi hanya waktu yang membuktikan kesaktian durian unggul lokal untuk mensubstitusi durian kualitas rendah. Kini durian lokal itu baru bisa mengalahkan durian bung karno. (Destika Cahyana/Peliput: Ari Chaidir, Arie Raharjo, Faiz Yajri, Imam Wiguna, Nesia Artdiyasa, Rosy Nur Apriyanti)

 

Powered by WishList Member - Membership Software