Limbah Dongkrak Produksi Belut

Filed in Ikan konsumsi by on 01/08/2009 0 Comments

Di tangan lenny huang, sayuran dan buah busuk yang sia-sia itu adalah permata. Setelah diolah dan kemudian dicampurkan ke dalam kolam belut ia dapat mendongkrak produksi hingga 2 kali lipat.

Lenny memasukkan 20 kg olahan sayuran dan buah busuk itu ke dalam kolam berukuran 5 m x 5 m. Dari 30 kg bibit yang ditebar, Lenny memanen 200—300 kg belut berbobot rata-rata 100 g/ekor setelah 4 bulan pelihara. Tingkat kelulusan hidup (SR) pun tinggi mencapai 80%. Jelas ini prestasi luas biasa. Peternak rata-rata memperoleh 5 kg belut dengan menebar 1 kg bibit. Nilai SR, 50—60%.

Sayuran dan buah busuk ternyata sumber pakan istimewa bagi belut. ‘Bahan busuk itu tempat tumbuh plankton dan mikroba,’ ujar Lenny. Plankton dan mikroba merupakan pakan alami belut seperti halnya ketika Monopterus albus itu hidup di sawah. ‘Tanpa itu pertumbuhan belut lambat dan tingkat kematian mencapai 100%,’ imbuh petenak sekaligus eksportir di Bandung, Jawa Barat, itu. Pakan yang diberikan hanya cacing Lumbricus sp.

Titik terang muncul setelah 7 tahun Lenny terus-menerus menekuni budidaya belut. ‘Kuncinya tetap memakai pakan alami,’ kata alumnus Fakultas Ekonomi Universitas Parahyangan itu. Nah, untuk bahan baku pakan alami itu dipilih sayuran dan buah busuk karena tersedia melimpah.

Pacu pertumbuhan

Proses pembuatannya sederhana. Mula-mula masing-masing bahan diblender, lalu dicampur dengan perbandingan 1:1. Campuran itu kemudian ditambah urine ternak yang berguna memperkaya nitrogen dan menaikkan unsur hara lain di tanah. Selanjutnya ditambahkan air mineral dan peram selama 24 jam. Keesokan hari seember, setara 20 l, larutan itu ditaburkan ke kolam yang sudah ditebar bibit belut 3—4 hari sebelumnya. Dalam waktu seminggu belut akan terlihat aktif mencari pakan. Campuran ramuan itu diberikan setiap hari.

Keandalan formula pemacu produksi Lenny dibuktikan oleh Ifan Gunawan pada pertengahan 2008. Peternak di Desa Sayana, Kuningan, Jawa Barat, itu menebar larutan ke dalam 2 kolam masing-masing berukuran 5 m x 5 m. Hasilnya, dari 30 kg bibit (sekilo isi 120 ekor) Ifan memanen 300 kg belut berbobot 100 g per ekor. Meski demikian, ‘Ramuan itu hanya tambahan. Pakan utama berasal dari cacing Lumbricus sp,’ ujar pendiri Ciremai Belut Center itu.

Sejatinya pemberian pakan tambahan yang berasal dari limbah telah diterapkan di pembesaran bandeng. Muhidin di Desa Bendungan, Cirebon, Jawa Barat, misalnya, memakai campuran kotoran walet, sayuran, buah-buahan, dan ikan rucah. Setelah bahan dicampur dan dijadikan larutan lantas ditebar ke kolam bandeng seluas 4.000 m2. Hasilnya, ‘Kalau biasanya untuk membesarkan bandeng sekilo isi 10—12 ekor butuh waktu 5—6 bulan, dengan penambahan larutan organik cukup 43 hari,’ tutur Muhidin.

Menurut Dr Hardaningsih, dosen Perikanan Universitas Gadjah Mada, limbah menumbuhkan zooplanton dan hewan kecil yang berguna sebagai pakan alami. Namun, ‘Pakan alami akan efektif bila budidaya belut dilakukan di kolam kecil,’ ucap Hardaningsih. Musababnya, di kolam kecil ketersediaan pakan alami lebih terkontrol.

Pantas Ade Sumiarti, pembesar di Salabintana, Sukabumi, Jawa Barat, getol memberikan hewan kecil berupa belatung ke kolam-kolam belutnya. Belatung diperoleh dengan membungkus ikan asin curah dalam kantong plastik. Kantong plastik yang telah disangga sebatang bambu itu ditaruh di tengah kolam. Pinggiran kantong dilubangi, supaya belatung yang mulai membesar dan bergerak-gerak gampang jatuh ke kolam.

Lumpur sawah

Pertumbuh belut juga tergantung pada media. Media tumbuh harus matang benar sehingga tidak mengeluarkan amonia. Lenny memakai campuran jerami, lumpur sawah, dan pupuk NPK. Batang pisang tidak wajib, karena untuk sampai benar-benar mengalami fermentasi sempurna butuh waktu 6 bulan. Begitu pula kotoran sapi. Untuk mematangkan media cukup dicampur larutan mikroorganisme seperti EM4 dan Dectro sebanyak 1/4 l. Dalam waktu sebulan media siap dipakai.

Menurut Lenny yang terpenting untuk media belut adalah menggunakan lumpur sawah, bukan tanah berpasir. Itu karena lumpur sawah kaya unsur hara seperti nitrogen dan kalium. Tanah merah dapat dipakai setelah teksturnya diubah mirip lumpur. Caranya, ‘Tanah dicampur mikroba dan jerami busuk, lalu didiamkan selama sebulan atau terasa lunak saat digenggam,’ ucap Lenny.

Pertumbuhan belut akan lebih bagus bila kolam dikondisikan seperti habitat aslinya—di sawah-sawah atau rawa. Oleh karena itu Lenny menanam padi di setiap kolam yang nantinya akan berfungsi pula sebagai tempat tumbuh plankton. Jangan ditumpangsarikan dengan eceng gondok, sebab akan menghambat pertumbuhan plankton dan media mengeras.

Selain media, bibit yang ditebar harus sehat. Karena itu selama 3—4 hari sebelum ditebar bibit seukuran pensil dikarantina dalam kolam air bersih. Selama masa karantina bibit diberi campuran putih telur dan perasan rimpang kunyit setiap 2 hari. Tujuannya untuk menambah stamina. Setiap hari 100% air diganti agar kotoran terbuang.

Lokasi kolam turut menentukan pertumbuhan belut. ‘Sebaiknya dekat sumber air,’ ujar Lenny. Mesti belut dapat hidup dalam kolam tertutup alias tidak ada sirkulasi air, pertumbuhan maksimal bila kolam diberi sirkulasi air. Musababnya, air masuk mendorong kotoran dan sisa pakan ke luar kolam; air baru menambah oksigen terlarut. Semua itu akhirnya meningkatkan nafsu makan belut.

Sortir

Setelah 2 bulan dipelihara belut-belut disortir untuk mencegah kanibalisme. Harap mahfum, tingkat keseragaman belut rendah. Sortir dapat menekan kematian akibat kanibalisme yang mencapai 40—50%. Dengan sortir, ‘Dari 3.000 bibit yang ditebar total kematian sampai panen 240—360 ekor setara 8—12%,’ kata Ifan yang rata-rata menebar 120 bibit/m2

Sortir pun efektif untuk memisahkan telur-telur dalam kolam. Maklum, selama pemeliharaan ada saja belut memijah. Telur-telur itu selanjutnya bisa dijadikan bibit. Dengan menerapkan serangkaian cara itu setiap 4 bulan Lenny dapat memenuhi permintaan ekspor sebanyak 5 ton ke China dan Hongkong. (Lastioro Anmi Tambunan)

Tags: ,

 

Powered by WishList Member - Membership Software