Liliput Pendokrak Produksi

Filed in Fokus by on 01/02/2013 0 Comments

Produksi tandan buah segar meningkat hampir 2 kali lipat. Berkat mikroorganisme.

Inspirasi itu datang dari tanaman padi yang melambung produksinya. Surono menanam padi di lahan 2,5 ha dengan menerapkan teknologi SRI (system of rice intensification). Menerapkan pola budidaya SRI menuntut penggunaan mikroorganisme lokal. Hasilnya tanaman tumbuh subur, banyak anakan, malai panjang, dan bulir  bernas.

 

Yang menggembirakan produksi membubung, 8 ton per ha gabah kering giling. Padahal, bertahun-tahun menanam padi, petani di Banyuasin, Provinsi Sumatera Selatan, itu hanya menuai 4 ton per ha. “Karena hasil aplikasi di padi bagus dan memuaskan, saya coba pada tanaman kelapa sawit,” kata Surono. Ia mengombinasikan beberapa larutan mikroorganisme berbahan fermentasi buah maja, rebung bambu, dan bonggol pisang.

Produksi tinggi

Cara membuat larutan mikroorganisme relatif mudah (baca: Aha, Dapur Gudang Hara Trubus edisi September 2011). Surono membuat mikroorganisme secara terpisah. Lalu, pekebun yang mengelola 2 ha kebun kelapa sawit itu mengambil masing-masing 2 liter dan mencampur rata. Ia lantas mengambil 2 liter larutan mikroorganisme yang telah tercampur itu, melarutkan dalam 14 liter air, menyemprotkannya ke batang dan daun kelapa sawit. Frekuensi penyemprotan  minimal 2 bulan sekali. Hasilnya?

Sebanyak 1.000 pohon masing-masing berumur 5 tahun tumbuh subur. Dari pohon-pohon itulah, ia mengangkut 4-5 ton tandan buah segar di lahan 2 ha per tahun. Semula ia hanya menuai 1,5-2 ton di lahan 2 ha. Tak hanya produksi menjulang sosok tanaman menjadi subur. Bobot itu hampir 3 kali lebih besar daripada sebelum menggunakan mikroorganisme Bukan hanya Surono yang menerapkan teknologi itu. Pekebun di Muaraenim, Sumatera Selatan, Muhidin juga menggunakan jasa liliput untuk meningkatkan produksi.

“Alhamdulillah produksi total mencapai 3 ton,” kata Muhidin. Biasanya dari 1,6 ha lahan sawit yang terdiri dari 160 tanaman hanya menghasilkan 400-700 kg tandan buah segar per tahun. Peningkatan produksi di lahan Surono dan Muhidin tandan itu keruan saja amat siignifikan. Sebagai gambaran saat ini harga tandan buah segar mencapai Rp1.000-Rp2.000 per kg.

Bandingkan dengan biaya pembuatan larutan mikroorganisme yang tak seberapa. Harap mafhum, semua bahan baku ia peroleh di sekitar rumahnya.

Mikroorganisme lokal cairan mengandung mikrob yang berpotensi sebagai perombak bahan organik, perangsang pertumbuhan, serta sebagai agen pengendali  hama penyakit tanaman. Hasil penelitian Arum Asriyanti Suhastyo dari Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor, MOL bonggol pisang mengandung Bacillus sp, Aeromonas sp, dan Aspergillus niger. Adapun MOL keong mas terdapat Staphylococcus sp dan Aspergillus niger, sedangkan pada MOL urine kelinci (Bacillus sp, Rhizobium sp, Pseudomonas sp, Aspergillus niger, dan Verticillium sp).

Pengamat pertanian berkelanjutan dari Institut Teknologi Bandung Dr Mubiar Purwasasmita, mengatakan peningkatan produksi signifikan antara lain karena peran mikroorganisme. “Bonggol pisang dan rebung luar biasa, mengandung mikroorganisme dan enzim pertumbuhan bagi tanaman,” kata Purwasasmita. Mikroorganisme itu ibarat koki yang siap mengolah beragam makanan untuk keperluan tanaman. Oleh karena itu kelapa sawit tumbuh subur dan produksinya meningkat.

Menurut prof Dr Iswandi Anas Chaniago, periset di departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan Institut Pertanian Bogor, bahan organik adalah menyelaraskan muatan ionik dalam tanah. Mikroorganisme berperan dalam mengurai bagan organik atau pupuk kimia menjadi ion-ion. “Tanaman tidak ‘makan’ bahan organik ataupun pupuk kimia,” kata Iswandi. Muatan ionik syarat terjadinya interaksi tanaman dan nutrisi tanah. tanaman mampu menyerap hara tanah, jika nutrisi berbentuk ion.

Pupuk hayati

Jalan lain untuk meningkatkan produksi pertanian adalah menggunakan pupuk hayati yang mengandung bakteri menguntungkan untuk tanaman. Ahli mikrobiologi tanah di Institut Pertanian Bogor, Dr Rahayu Widyastuti, menyatakan populasi azotobacter dan azospirillium dalam pupuk hayati menambat nitrogen dari atmosfer sebagai sumber nutrisi.

Dengan begitu tanaman memperoleh nutrisi cukup untuk pertumbuhan generatif dan vegetatif. Produksi pun ikut menjulang. Irwan Margono Bagian Pemasaran PT Biosugih menuturkan pupuk hayati pupuk biosugih mengandung mikrob yang menguntungkan tanaman seperti Azotobacter, Azospirilium, Mychoriza, Rhyzobium, Aspergillus, dan Lactobacillus. Biosugih merupakan pupuk hayati dalam bentuk cair.

Penggunaan biosugih ada 3 cara, mengencerkannya 125 cc pupuk hayati dalam 10 liter air dan mengocorkan ke tanah. Cara kedua dengan mencampurnya ke pupuk kandang atau sayuran apkir sebagai bahan bokasi. Dosis penggunaan 15 cc dalam 100 kg bahan. Cara lain semprotkan pada daun dengan konsentrasi 2 cc per liter. Yang harus diperhatikan dalam penggunaan adalah ketika sudah menggunakan pupuk hayati tidak boleh mengkombinasikannya dengan pupuk kimia atau pestisida kimia.

Hasil percobaan di PT Mitra Tani 27, penggunaan pupuk hayati mampu menghemat biaya penggunaan pupuk dan pestisida mencapai sepertiga kalinya. PT Mitra Tani 27 mengebunkan 10.000 hektar edamame di Jember, Jawa Timur. “Jika dihitung untuk luasan sehektar, dengan pupuk hayati pekebun edamame hanya mengeluarkan Rp1-juta rupiah untuk pupuk dan pestisida sementara teknik konvensional Rp3,5-juta. Itu dengan produktivitas yang sama sekitar 8 ton basah edamame per hektar,” kata Irwan. (Pranawita Karina/Peliput: Sardi Duryatmo & Bondan Setyawan)

Keterangan Foto :

  1. Beragam mol dibuat untuk tingkatkan produksi
  2. MOL dapat meningkatkan produksi kelapa sawit hingga 2 kali lipat
  3. Mikroorganisme berfungsi mengurai bahan organik dan pupuk kimia menjadi ionik sehingga siap diserap oleh tanaman
  4. Tandan buah segar meningkat
 

Powered by WishList Member - Membership Software