Lili Kincir Angin

Filed in Pojok luar by on 03/08/2013

Marco (kiri) dan Peter van de Wetering

Marco (kiri) dan Peter van de Wetering

Setahun 30-juta umbi dan 2-juta pot lili dari rumah tanam seluas 55 hektar.

Wetering BV hanya memerlukan 25 tenaga kerja untuk mencapai produksi sebanyak itu. Pekerja tetap 10 orang, sisanya pekerja lepas. Kuncinya mekanisasi dan penggunaan teknologi digital. Proses yang memerlukan sentuhan tangan sebatas penyiapan media tanam dan penanaman umbi di pot berdiameter 13 cm. Penyiraman dan pemupukan mengandalkan sensor suhu, kelembapan media tanam, dan bobot pot.

Jika terjadi peningkatan suhu, penurunan kelembapan media, atau pengurangan bobot pot, sensor mengaktifkan sistem penyiraman. Penyemprot air bekerja sampai kelembapan atau bobot pot mencapai nilai tertentu. Sensor dan sistem pengaturan itu tidak pernah istirahat, memastikan pertumbuhan tanaman optimal sepanjang tahun tanpa terkendala musim panas atau salju. Pada cara tradisional, pekebun menanam umbi ketika musim dingin sehingga akar tumbuh sebelum memunculkan tunas.

Kelak, ketika musim panas tiba, umbi mulai bertunas dengan akar yang sudah terbentuk sempurna. Jika menanam umbi pada musim panas, tunas akan muncul lebih cepat ketimbang akar. Batang tumbuh mengelancir, lemah, dan tidak mampu memunculkan bunga. Pengaturan suhu digital di Wetering Potlilium BV memastikan hal itu tidak terjadi. Saat umbi menumbuhkan akar, sistem mengatur suhu rumah tanam pada 5—9oC; ketika tunas muncul, sistem menyeting suhu di 28—33oC. Dengan cara itu, bunga mulai muncul11—12 minggu pascatanam.

Tiny sin, jenis asia

Tiny sin, jenis asia

Asia subtropis

Pemilihan sistem digital bukan tanpa alasan. Sebagai negara maju, tarif tenaga kerja di Belanda dihitung berdasarkan waktu. Padahal, tanaman menuntut perhatian nonstop. “Perawatan secara manual memerlukan puluhan tenaga kerja. Itu belum termasuk tenaga pembibitan, pembungkusan produk, dan teknisi rumah tanam,” kata Peter Van de Wetering, direktur produksi Wetering Potlilium BV. Lagipula, campur tangan manusia membuat hasil menjadi tidak seragam dan memperbesar peluang penyebaran hama penyakit.

Untuk meminimalkan hama penyakit, Peter menempatkan tanaman dalam rumah tanam rapat berdinding kaca. Sirkulasi udara pun diatur secara digital. Maklum, lili rentan penyakit pada musim gugur. Sementara pada musim semi dan panas, kumbang dan kutu daun menjadi ancaman utama. Rumah tanam rapat meminimalkan kebutuhan pestisida kimia. Maklum, Uni Eropa sangat ketat membatasi residu pestisida di daun, bunga, bahkan media tanam.

Bunga lili menjadi pilihan kakak beradik Marco dan Peter Van de Wetering lantaran iklim Belanda dengan 4 musim cocok untuk lili. Padahal, tanaman itu bukan asli benua Eropa, tetapi berasal dari daerah Asia subtropis. Secara alami, anggota famili Liliaceae itu memerlukan bulan dingin untuk menumbuhkan akar sebelum memunculkan tunas. “Tanaman lili tahan bertahun-tahun jika ditanam di tanah dengan drainase baik dan terkena sinar matahari penuh pada musim panas,” kata Peter. Toh, menanam di tanah tidak cocok untuk skala industri.

Jenis sunny bonaire cocok untuk elemen taman

Jenis sunny bonaire cocok untuk elemen taman

Maklum, lahan sangat terbatas di Negeri Kincir Angin itu. Masa produksi bunga pun singkat, hanya 2—3 bulan selama musim panas. Itu sebabnya, ketika mendirikan Wetering Potlilium BV pada 2005, Peter memfokuskan diri di bagian produksi. Sementara Marco, sang kakak, bertugas mengurus administrasi, promosi, dan pemasaran. Keputusan tepat: dalam waktu kurang dari 4 tahun, hasil produksi mereka menyebar ke seluruh dunia.

Perusahaan yang berpusat di Kota Den Hoorn, Provinsi Holandia Selatan, Belanda, itu lantas membuat pembibitan di Perancis dan Cili, Amerika selatan. Luas total lahan di ketiga tempat itu mencapai 55 hektar. Awalnya, Peter menggunakan umbi dari pembibitan milik rekannya. Namun, ia tidak puas dengan warna-warna bunga. Sembari menumbuhkan umbi, ia pun membuat silangan-silangan baru.

Tanpa putik

Wetering Potlilium BV membudidayakan 2 jenis lili: jenis asia dan oriental. Daun jenis asia lebih kecil dengan warna bunga beragam: kuning, jingga, merah, sampai ungu. Sementara daun jenis oriental lebih lebar dengan variasi warna bunga antara merah dan putih. Jumlah warna yang mereka kembangkan sampai sekarang mencapai lebih dari 50 varian. “Warna merah, merah muda, dan putih cocok untuk acara resmi dan kaum berumur yang cenderung mapan. Adapun warna-warna lain menjadi pilihan kaum muda,” kata Peter.

Tanaman dibungkus plastik agar tidak rusak saat pengiriman

Tanaman dibungkus plastik agar tidak rusak saat pengiriman

Selain varian warna, Peter juga mengembangkan jenis mungil, sensation, sunny, serta tanpa putik. Tinggi tanaman lili mungil kurang hanya berkisar 19 cm dengan beragam varian warna bunga. Lazimnya tinggi tanaman lili bisa lebih dari 25 cm. Lili mungil menjadi pilihan tepat untuk hiasan meja, penghias ruangan, atau teras. Sementara jenis sensation dan sunny menghasilkan bunga yang tampak semarak saat musim panas. Kedua jenis terakhir cocok untuk elemen taman dan pagar.

Warna putik yang sulit dibersihkan kalau menempel di baju menjadi musabab Peter mengembangkan jenis tanpa putik. Maklum, setiap kuntum bunga lili menghasilkan ratusan butir putik yang berhamburan ke segala penjuru saat tersenggol atau tertiup angin. Itu menyebabkan sebagian orang enggan menanam lili atau meletakkannya dalam ruangan. “Padahal mereka mengakui kecantikan bunganya,” kata pria kelahiran 40 tahun lalu itu. Varian tanpa putik baru tersedia dengan warna jingga, tapi ia menjanjikan warna-warna semarak akan segera muncul.***

 

Powered by WishList Member - Membership Software