Liar Datang di Merbabu

Filed in Sayuran by on 02/01/2013 0 Comments
Nikmatnya hidangan salad eropa

Nikmatnya hidangan salad eropa

Dahulu liar di Perancis, kini dibudidayakan di Selongisor.

Sosoknya setinggi 15-20 cm. Daunnya mengeriting, langsing, mirip daun fern, dan merumpun. Petani sayuran organik di Dusun Selongisor, Desa Batur, Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang, Provinsi Jawa Tengah, Pitoyo Ngatimin, memanen daun itu 25 hari pascamenebar benih. “Ini wild rocket,” kata Pitoyo.Jika namanya terdengar asing, Anda tidak salah. Harap maklum wild rocket Diplotaxis tenuifolia memang tanaman liar di benua Eropa. Meski liar, tanaman anggota famili Brassicaceae itu populer. Di Perancis, wild rocket dijuluki roquette; Italia, arugula; sementara masyarakat Jerman menyebutnya rauke. Di tempat asalnya, kerabat sawi hijau itu lazim diolah menjadi salad. Si liar diramu dengan mangga, stroberi, dan diguyur dengan saus mayones.

Searah jarum jam: red sorrel, shungiku, wild rocket, dan swiss chard

Searah jarum jam: red sorrel, shungiku, wild rocket, dan swiss chard

Menurut koki profesional di Hotel Dharmawangsa, Kebayoranbaru, Jakarta Selatan, Vindex Valentino Tengker, wild rocket sejenis dengan rukola Eruca sativa. Yang disebut terakhir lebih dahulu populer sebagai bahan pembuatan salad. Bukan cuma nama yang asing di telinga, sosok dan rasa wild rocket pun tidak bersahabat dengan lidah Nusantara. Itu sebabnya wild rocket nyaris tidak dikenal di tanah air. “Rasanya lebih pahit ketimbang rukola,” kata Vindex. Keduanya cocok sebagai bahan baku salad lantaran rasanya sedikit pahit. Kehadiran sensasi pahit menjadikan cita rasa salad menjadi lebih spicy.

Tiga jenis

Pitoyo menanam wild rocket di lahan seluas 10 m2 sejak Maret 2012. Di kebun berketinggian 1.450 m di atas permukaan laut dengan suhu harian 150C dan kelembapan rata-rata 80% itu pertumbuhan wild rocket tergolong cepat. Pengalaman Pitoyo 25 hari pascatanam daun siap dipanen. Selanjutnya petani bisa memanen setiap 15 hari.

Pitoyo mampu memanen 14 kg daun segar setiap 15 hari. Setelah 6 kali panen, Pitoyo mengganti tanaman dengan benih baru. Pitoyo tidak perlu repot-repot membawa hasil panen ke pasar. Daun hasil panen ia bungkus dalam kemasan plastik hingga bobot 200 g per pak. Lalu daun-daun segar dalam balutan plastik itu ia masukkan ke dalam kardus berkapasitas 25 pak. Pekerja kemudian mengirim boks itu ke bandara internasional Ahmad Yani, Semarang. Selang 4 jam pascapanen, potongan-potongan daun sepanjang kira-kira 13 cm itu tiba di tangan pembeli di Malaysia.

Pria kelahiran 47 tahun silam itu juga menanam 2 jenis sayuran introduksi lain yang tak kalah asing di telinga: red sorrel Rumex sanguineus dan swiss chard Beta vulgaris. Yang disebut pertama juga tanaman liar asal Eropa, Afrika Selatan, dan sebagian Asia. Ciri khas red sorrel warna daun hijau tua dengan urat daun berwarna merah. Itu menjadikan red sorrel disebut juga blood dock atau red veined dock dan bloodwort. Rasa daun sedikit asam. Daun muda digunakan sebagai campuran salad, sup, omelet, atau saus.

Sementara daun swiss chard berwarna merah di bagian tangkai yang menyambung ke tulang daun. Menurut Vindex, rasa daun swiss chard mirip sawi hijau. Di Indonesia, daun tanaman anggota famili Amaranthaceae itu biasa menjadi menu pelengkap nasi. Daun mudanya lazim menjadi campuran salad.

Daun swiss chard itu kerap digunakan dalam masakan khas daerah Mediterania, seperti Arab, Turki, dan Italia. Riset Pokluda dan Kuben dari Mendel University of Agriculture and Forestry, Brno, Ceko, menyebutkan daun segar swiss chard mengandung vitamin C tinggi yaitu sebesar 307 mg/kg daun.

Organik

Pitoyo menanam ketiga jenis sayuran introduksi itu sejak ia bermitra dengan sebuah perusahaan dari Malaysia pada pertengahan 2010. Awalnya, sang mitra membeli buncis perancis dengan volume permintaan 1 ton per pengiriman. Pitoyo hanya mampu memenuhi 3-5 kuintal sehingga bermitra dengan 12 petani lain dan membentuk kelompok tani Trangulasi.

Rapor biru Pitoyo dan rekan menjaga kontinuitas dan kualitas pasokan buncis perancis membuat pembeli menawarkan kerjasama budidaya ketiga jenis sayuran “baru”. Mula-mula Pitoyo enggan menyanggupi karena tidak menguasai cara budidaya. Lagipula setelah mencicipi sayuran itu di kemudian hari, cita rasanya asing. Di lidah petani sayuran sejak 1998 itu, rasa ketiganya hampir sama: pahit dengan sedikit sensasi pedas.

Toh, sang mitra meyakinkan akan membeli semua hasil produksi Pitoyo dan kelompoknya. Akhirnya, pada Maret 2012, kelompok Trangulasi menanam wild rocket, red sorrel, dan swiss chard di lahan seluas masing-masing 10 m2. Sifat liar ketiganya mempermudah budidaya. Pitoyo misalnya menebar langsung benih ketiganya di bedengan setinggi 3 cm dengan jarak 5 cm antar bedengan.

Lima bedeng berukuran 700 cm x 80 cm hanya memerlukan 10 g-setara 1 sendok makan-benih. Dalam kondisi normal, produktivitas ketiga jenis itu mencapai 1,2-1,6 kg per m2. Namun, saat musim hujan, produksi hanya 0,5 kg daun per m2. Harap maklum guyuran hujan membuat daun rusak. Untuk mengatasi hal itu, Pitoyo memasang naungan plastik.

Kebun di kaki Gunung Merbabu itu dikelola secara organik. Pitoyo dan rekan-rekan tidak menggunakan pupuk maupun pestisida sintetis. Sebagai sumber nutrisi 2 hari sebelum tanam, mereka membenamkan 2-3 ton kotoran sapi per 1.000 m2 lahan, lalu membuat bedengan. “Kotoran sapi itu untuk penanaman selama setahun,” kata Pitoyo. Pada masa sela antarperiode tanam, ia mengocorkan 100 ml pupuk organik cair per liter air per 10 m2 luasan lahan. Pengendalian hama dan penyakit hanya mengandalkan bahan-bahan organik, seperti biji bengkuang Pachyrhizus erosus, daun suren Toona sureni, atau daun mindi Melia azederach.

Shungiku

Nun di Cibodas, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Provinsi Jawa Barat, Bobon Turbansyah juga menanam sayuran introduksi. Ia menanam shungiku Chrysanthemum coronarium. Sayuran daun itu lazim dikonsumsi di Negeri Matahari Terbit sebagai salah satu bahan dalam menu andalan shabu-shabu. Dari lahan seluas 7.000 m2 itu, ia memanen seton shungiku 40 hari pascatanam. Panen berikutnya berlangsung setiap 25 hari sekali sampai 9 kali sebelum mengganti tanaman.

Bobon lalu mengemas dalam kemasan berbobot 200-300 g, lalu mengirim ke gerai pasar swalayan di Bandung, Jakarta, Surabaya, dan Bali. Bobon mengimpor benih shungiku dari Jepang seharga Rp8-juta per kg. Untuk lahan seluas 7.000 m2, ia hanya memerlukan 0,25 kg benih. Mula-mula ia menyemai benih di persemaian dengan media tanah yang dicampur dengan pupuk kandang dan kompos. Pada hari ke-10 pascasemai-saat bibit setinggi 3-5 cm, ia memindahtanamkan ke lahan.

Dua hari sebelumnya, ia membenamkan campuran 50 kg pupuk NPK dengan 5 ton kotoran ayam matang ke lahan. Hari ke-10 pascatanam, ia menyemprotkan pestisida berbahan aktif klorfenapir dengan dosis 5 g per 18 l air untuk menghalau ulat perusak daun. Penyemprotan itu ia ulangi setiap 10 hari. Pada hari ke-40 pascatanam shungiku siap dipanen. Selang 4 jam pascapanen, daun-daun segar itu sudah tertata rapi di rak-rak pasar swalayan. (Rona Mas’ud/Peliput: Muhamad Khais Prayoga)

 

Keterangan Foto :

  1. Searah jarum jam: red sorrel, shungiku, wild rocket, dan swiss chard
  2. Pitoyo dan sayuran organik
  3. Nikmatnya hidangan salad eropa
 

Powered by WishList Member - Membership Software