Lebih Cepat Enam Bulan

Filed in Tak Berkategori by on 30/11/2012 0 Comments

Cara lain meremajakan tanaman kakao tua. Dalam 2,5 tahun tanaman menghasilkan buah seperti di usia produktif.

Sarono sungguh masygul. Dari 100 pohon kakao di lahan 1.000 m2 miliknya ia hanya mendapat 80 kg biji kering. Semula setiap pohon mampu menghasilkan 35-40 buah kakao setara 1,5-2 kg biji kakao kering. Itu berarti Sarono menuai 150-200 kg biji kering per 100 pohon. Padahal alumnus program diploma Budidaya Tanaman Perkebunan Politeknik Negeri Lampung itu merawat tanaman secara intensif seperti melakukan pemupukan dan pemangkasan cabang setiap 6 bulan.

Usut punya usut, penurunan produksi menjadi 0,5-1 kg biji kering per pohon yang terjadi pada 2010 itu karena pohon di kebun Sarono sudah uzur. Sarono menanam pada 1992. Menurut Dr Ir Jermia Limbongan MS di Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Provinsi Sulawesi Selatan, usia produktif kakao Theobroma cacao pada umur 13-19 tahun. Kakao asal biji mulai belajar berbuah pada umur 3 tahun. Produktivitas mencapai 1-1,5 ton biji kering per ha. Memasuki usia produktif, produktivitas mencapai 1,5-2 ton biji kering per ha. Produksi lalu merosot menjadi 0,7-1 ton biji kering per ha saat tanaman mencapai umur 25 tahun.

Peremajaan

Menurut Direktur Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian, Ir Gamal Nasir MS, dalam sambutannya pada acara rilis program Social Economic Environmental Development for Sustainability (SEEDS) oleh Grup Petra Food-produsen cokelat-pada 17 Oktober 2012 di Lampung Selatan, Provinsi Lampung, produktivitas kakao saat ini tidak optimal lantaran penggunaan bibit asal-asalan, budidaya serampangan dan tidak sesuai good agriculture practice (GAP), serta banyak petani yang masih mempertahankan tanaman tua berumur lebih dari 25 tahun.

Pengawas Benih Tanaman Balai Besar Perbenihan dan Proteksi Tanaman Perkebunan (BBP2TP) Medan, Provinsi Sumatera Utara, Reivan Saragih menuturkan produktivitas rata-rata nasional hanya 650 kg biji kering per ha. “Mestinya dengan perawatan intensif produktivitas kakao mencapai 1,5 ton biji kering per ha,” kata Reivan.

Saat ini Indonesia hanya mengisi 14,88% kebutuhan kakao dunia alias peringkat ketiga setelah Pantai Gading dan Ghana. “Dengan luasan mencapai 1,67-juta ha seharusnya kita dapat menggeser Ghana,” tutur Gamal. Agar produksi dari kebun rakyat kembali meningkat, solusinya peremajaan alias penggantian tanaman.

Masalahnya pohon belia itu perlu setidaknya 2-3 tahun untuk tumbuh dan belajar berbuah. Produksi baru stabil setelah 3-4 tahun pascatanam. Bagi petani yang menggantungkan hidup pada kakao, pilihan itu jelas memberatkan karena berarti kehilangan mata pencarian selama minimal 2 tahun.

Oleh karena itu Sarono lebih memilih meremajakan tanaman anggota famili Sterculiaceae itu dengan sistem sambung samping. Agronomis di PD Kakao Lampung itu menyambung pucuk klon kakao terpilih ke batang bawah pohon kakao tua. Dengan cara sambung samping dalam 12 bulan tanaman kembali berproduksi. “Produksi pada panen pertama mencapai 20-30 buah segar per pohon setara 1 kg biji kering,” kata Sarono. Artinya dari 100 pohon ia menuai 100 kg biji kakao kering.

Pada 26 bulan pascasambung samping produktivitas mencapai 30-35 buah per pohon setara 2 kg biji kering. Artinya hanya dalam waktu 2,5 tahun produktivitas tanaman tua kembali seperti tanaman produktif. Cara itu juga yang membuat pekebun di Desa Tarengge, Kecamatan Wotu, Kabupaten Luwu Timur, Provinsi Sulawesi Selatan, sukses menaikkan produktivitas kakao. Dengan sambung samping dalam 36 bulan produksi tanaman berumur 25 tahun meningkat hingga 2 kali lipat daripada sebelum penyambungan.

Entres unggul

Teknik sambung samping mirip teknik sambung pucuk. Keduanya memanfaatkan entres dari klon unggul untuk disambung ke pohon tua. Menurut Sarono teknik sambung pucuk lebih mudah dilakukan petani pemula dengan tingkat keberhasilan tinggi mencapai 85%. Sementara sambung samping lebih sulit dengan tingkat keberhasilan 55-75%. Toh, meski begitu tanaman hasil sambung sisip lebih “genjah”. Tanaman mulai menghasilkan buah 12 bulan pascapenyambungan. Pada sambung pucuk perlu waktu 18-24 bulan. Itu berarti dengan teknik sambung samping petani lebih cepat 6 bulan menuai buah kembali.

Sarono menggunakan entres dari klon-klon unggul seperti MO-1, TSH, Sulawesi-1, dan Sulawesi-2. Klon-klon itu mampu menghasilkan 2,4-4 kg biji kering per pohon per musim. Produktivitas tanaman kakao nonklon hanya 1-2 kg biji kering per musim. Kelebihan lain, klon Sulawesi-1 dan Sulawesi-2 toleran terhadap busuk buah; TSH resisten terhadap kepik pengisap buah; sementara produktivitas MO-1 mencapai 3,5 kg meski rentan serangan hama.

Sebelum menyambung, Sarono memangkas 50% tajuk agar intensitas cahaya yang menyinari batang utama mencapai 40-60%. Selanjutnya ia membenamkan 300 gram per pohon pupuk NPK. Dua minggu kemudian Sarono menyambungkan entres sepanjang 40 cm. Entres yang baik berasal dari pohon yang perkembangannya normal. Pilih entres yang ujung batang bawahnya sudah mengayu berwarna hijau kecokelatan, tapi masih segar tidak berkeriput dengan diameter 0,75-1,5 cm. Entres harus langsung disambung hari itu juga.

“Salah satu faktor yang perlu diperhatikan dalam perbanyakan vegetatif tanaman kakao melalui okulasi, sambung, maupun stek adalah kesegaran entres,” kata Septyan Adi Pramana SP, pengawas benih tanaman di Balai Besar Perbenihan dan Proteksi Tanaman Perkebunan (BBP2TP), Surabaya, Provinsi Jawa Timur. Sebagai batang bawah pilih tanaman kakao yang sehat. Cirinya kambium putih bersih saat kulit batang dikupas. Apabila batang bawah tidak sehat segera lakukan pemupukan, penyiangan gulma, serta pengendalian hama penyakit.

Perawatan

Sarono menyambungkan 2 entres dengan posisi saling membelakangi (lihat ilustrasi). Prosesnya hanya perlu waktu 5 menit. Minggu ke-3 pascapenyambungan, entres yang tersambung dengan baik mulai bertunas; bila gagal, menghitam lalu mengering atau bahkan membusuk.

Pada minggu ke-8 pascapenyambung-an, pria kelahiran Kabupaten Mesuji, Provinsi Lampung, itu memangkas tunas-tunas yang tumbuh di batang entres untuk merangsang pertumbuhan cabang. Tiga bulan pascapenyambungan, potong batang utama 45 cm di atas sambungan untuk mempercepat pertumbuhan tunas hasil persambungan.

Menurut Septyan, entres rentan serangan hama penyakit. Oleh karena itu ia menyarankan pengendalian hama penyakit mulai sebulan pascapenyambungan. Setiap 2 minggu, Sarono menyemprotkan campuran 2 g fungisida berbahan aktif mankozeb, 1,5 g insektisida berbahan aktif klorpirifos, , dan 2 g pupuk daun dalam 1,5 liter air.

Campuran sebanyak itu cukup untuk 100 pohon. Ia menyemprot pohon hingga setahun pascapenyambungan, saat tanaman belajar berbunga. Bulan ke-18 pascapenyambungan, Sarono menuai sekilo biji kering dari setiap pohon hasil penyambungan. Musim panen berikutnya, ia mendapatkan 1,5 kg biji kering per pohon, sama dengan pohon kakao produktif. Entres tersambung, produksi kakao pun melambung. (Muhamad Khais Prayoga)

Keterangan Foto :

  1. Produktivitas kakao terus menurun pada usia lebih dari 20 tahun
  2. Ir Gamal Nasir MS, seharusnya Indonesia dapat menggeser Ghana sebagai pengekspor biji kakao
 

Powered by WishList Member - Membership Software