Lebat Tanpa Peledak

Filed in Buah by on 31/10/2011

Di halaman rumah Susana Widjaja lengkeng kaisar berbuah lebat meski tanpa dirangsang potasium kloratPuang rai rajin berbuah tanpa dirangsangPohon lengkeng kaisar setinggi 1,6 m di kediaman Susana Widjaja itu terlihat sarat buah. Dari permukaan tajuk menyembul 15 dompolan buah berwarna cokelat keemasan. Susana meletakkan dua batang bambu untuk menopang dahan agar tidak menggelayut ke tanah karena kebanyakan buah.

Trubus memetik satu buah. Saat mencoba mengupasnya, kulit agak alot sehingga perlu “tenaga ekstra” untuk membuka kulit buah. Di bagian dalam terlihat daging yang kering.

Saat menggigit hampir separuh gigi terbenam dalam daging buah. Rasa manis pun langsung terasa lengket di lidah. Berbarengan dengan itu menguar aroma mirip lengkeng lokal yang tidak ditemui pada lengkeng impor asal Thailand. Menurut penangkar buah di Cijantung, Jakarta Timur, Eddy Soesanto, ciri khas kaisar memang beraroma lengkeng lokal (baca: Kaisar Manis dari China, edisi Juli 2010).

Tanpa dirangsang

Panen pada awal Oktober 2011 itu yang kedua kali sejak Susana menanamnya pada medio 2010. Saat dibeli, lengkeng asal China itu ditanam dalam drum. Umurnya diperkirakan 3 tahun. Susana lalu membongkar drum dan menanam pohon lengkeng di tanah dekat pintu masuk halaman rumah.

Lengkeng kaisar itu berbunga pada awal Juli 2011. Ketika itu bunga yang keluar sedikit. Saat bunga menjadi pentil, tak lama kemudian rontok. Tak diduga pascakejadian itu muncul cabang-cabang baru dan mengeluarkan bunga yang lebat. Sebagian besar bunga sukses menjadi buah sehingga buah berlimpah.

Padahal, Susana tak pernah memberi perlakuan khusus. Usai panen pertama ia memangkas tajuk, lalu memberi pupuk NPK berimbang setiap bulan dengan dosis 3 sendok makan. Ia juga menambahkan pupuk kandang dan media tanam kompos setiap 3 bulan.

Menurut Eddy Soesanto, kaisar memang dapat berbuah tanpa perangsangan. Itu dibuktikan seorang hobiis asal Lampung. Tanaman berumur 3 tahun miliknya berbuah meski tanpa perangsangan. “Lengkeng kaisar tergolong lengkeng introduksi yang bisa berbuah di dataran rendah dan dataran tinggi tanpa dirangsang,” tutur Eddy. Hanya saja bila tanpa perangsangan buah yang muncul cuma di pucuk tertentu.

Pendapat Eddy itu memang terbukti pada lengkeng kaisar milik Susana. Dompolan buah hanya muncul pada tajuk di bagian timur yang terkena sinar matahari langsung di pagi hari. Menurut ahli pupuk di Jakarta, Yos Sutiyoso, pada bagian tajuk yang terkena sinar matahari penuh fotosintesis berlangsung lebih optimal sehingga karbohidrat berlimpah. Pada kondisi itu rasio karbon (C) dan nitrogen (N) tanaman tinggi sehingga fase pertumbuhan beralih dari vegetatif ke generatif, yang ditandai dengan munculnya bunga.

Eddy menuturkan bila ingin tanaman berbuah serentak di setiap ujung pucuk, perlu pupuk dan perangsangan tepat. Perangsangan biasanya dilakukan dengan memberi pupuk tambahan NPK yang mengandung fosfor (P) dan kalium (K) tinggi. Selain itu diberi asupan K tambahan berasal dari potasium klorat (KClO3), biasanya dari KCl alias potasium klorida. Menurut ahli buah di Bogor, Jawa Barat, Dr M Reza Tirtawinata, potasium klorat yang juga bahan peledak lebih tidak stabil dibanding potasium klorida sehingga lebih efektif memicu tanaman untuk berbunga (baca: Serentak Kaisar Berbuah di Pot, Trubus edisi Januari 2011).

Hobiis sibuk

Meski tak berbuah serentak, toh kaisar di halaman rumah Susana tetap berbuah lebat. Kualitas buah juga tak kalah dari pada itoh: agak kering, manis, dan daging tebal. Oleh karena itu kaisar cocok untuk hobiis tanaman buah yang sibuk seperti Susana. Maklum, setiap Senin sampai Jumat pengelola sebuah firma hukum di Jakarta itu mesti berkutat dengan berkas perkara dan persidangan. Akhir pekan biasanya ia gunakan untuk menengok kediamannya di Surabaya, Jawa Timur.

Senin pagi Susana baru pulang ke Jakarta dan kembali berkutat dengan pekerjaan kantor. Begitu seterusnya. “Kalau pun ada waktu senggang biasanya dihabiskan untuk berlibur ke luar kota,” ujarnya. Perawatan lengkeng ia serahkan ke pegawai. “Saya hanya memberi petunjuk agar lengkeng diberi pupuk sebulan sekali,” ujarnya.

Pilihan lain untuk para hobiis sibuk adalah lengkeng satu jari. Menurut penangkar buah di Pontianak, Kalimantan Barat, Fakhli Harudi, perawatan lengkeng satu jari relatif gampang. Di kebun Fakhli lengkeng asal Malaysia itu sudah 3 kali panen meski baru berumur 3 tahun. Dari bunga hingga panen perlu waktu 105 hari. “Usai panen, muncul daun baru, lalu kembali berbunga,” ujar putra penangkar buah senior di Kalimantan Barat, Baharudin, itu.

Sebagai sumber nutrisi Fakhli hanya memberikan pupuk kandang 3 bulan sekali. Ia juga memberikan pupuk NPK berimbang saat tanaman usai berbuah, hingga muncul daun baru. Saat seluruh daun baru seluruhnya hijau pekat, lalu diberi NPK dengan P dan K tinggi. Interval pemupukan setiap bulan dengan dosis 3 sendok makan. Dengan perawatan seperti itu sekali panen Fakhli bisa memperoleh 6 kg lengkeng yang kulitnya berwarna gading dan beraroma harum mirip lengkeng aroma durian yang populer pada 2006.

Di kebun Fakhli puang rai berumur 3 tahun juga tak kalah rajin berbuah meski tanpa perangsangan. Dengan perawatan sama, ia memanen hingga 8 kg buah lengkeng yang daunnya mirip diamond river, tapi berdaging buah lebih kering itu. Mereka berbuah lebat tanpa penggunaan bahan peledak. (Imam Wiguna)

 

Ingin Pingpong, Muncul Putih

Satu dari tiga pohon lengkeng pingpong yang ditanam Bambang Suryanto di kebun di Yogyakarta pada 2006 bersalin rupa saat tumbuh dewasa. Daun yang semestinya berukuran mungil dan melengkung ke bawah itu justru melebar dan bergelombang.

Perbedaan mencolok terlihat saat berbuah. Buah yang semestinya seukuran bola pingpong, hanya tumbuh seukuran kemiri. Kulit buahnya pun berwarna gading pucat, hingga nyaris putih. Pada beberapa buah terlihat guratan cokelat muda. Sementara kulit pingpong cokelat.

“Kekecewaan” Bambang itu terobati lantaran buah yang dihasilkan lebih lebat ketimbang pingpong. “Ia juga rajin berbuah. Setelah panen berakhir ,langsung tumbuh bunga lagi,” ujar pemilik dealer sepeda motor itu. Dengan begitu lengkeng itu juga cocok dikoleksi hobiis sibuk. Rasanya lebih manis ketimbang pingpong dan berdaging lebih tebal karena ukuran biji kecil. Buahnya sama-sama wangi. Karena itu Bambang menyebutnya hawae yang merupakan singkatan dari harum, wangi, dan enak.

Dari deskripsi itu penangkar buah di Cijantung, Jakarta Timur, Eddy Soesanto, itu varian lengkeng gading, tapi ukuran daunnya lebih lebar. (Imam Wiguna)

Imam Wiguna

 

Powered by WishList Member - Membership Software