Lahir di Australia, Besar di Cijapati

Filed in Satwa by on 07/08/2010 0 Comments

Jumlah itulah yang setiap tahun digemukkan di peternakan Kadila Lestari Jaya (KLJ), salah satu perusahaan penggemukan sapi terbesar di tanahair. Mereka datang saat berumur 2-2,5 tahun dengan bobot 250-350 kg per ekor.

Menurut Dr Ir Muhammad Bata, dosen Fakultas Peternakan Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto sapi paling bagus digemukkan saat berumur 2-2,5 tahun atau berbobot 250-350 kg/ekor. Musababnya sapi memiliki fase-fase pertumbuhan yang mencakup pembentukan tulang, otot atau daging, dan lemak.  ‘Puncak pertumbuhan otot terjadi pada umur 2-2,5 tahun,’ ungkap Bata.

Sapi gembala

Pada Oktober-April, bakalan impor yang datang berjenis Bos indicus seperti brahman cross asal Australia bagian utara. Mei-September, sapi Bos taurus seperti limousine dan simmental, khas Australia bagian utara bertandang.

Perbedaan itu dipengaruhi periode musim kering di Benua Kanguru. ‘Bakalan sapi biasanya dikumpulkan dari padang gembala ketika musim kering tiba,’ kata Handy Tandisaputra, pengelola KLJ. Pada Oktober-April, Australia bagian utara yang kering. Dari sanalah para peternak mengumpulkan sapi yang mereka gembalakan. Sebaliknya pada Mei-September.

Setiba di Cijapati, bakalan-bakalan itu dikandangkan dalam bangunan tanpa dinding berukuran 20 m x 10 m, 30 m x 15 m, dan 40 m x 20 m. Atapnya berupa seng. ‘Atap seng melindungi sapi dari sengatan matahari pada siang hari. Sementara pada malam hari panas yang tersimpan di seng menghangatkan kandang,’ kata Handy. Maklum fluktuasi suhu siang dan malam hari di Cijapati berketinggian sekitar 1.000 m dpl itu cukup besar. Siang mencapai 300C, malam berkisar 15-180C. Atap kandang dibuat tinggi sekitar 6 m untuk memperlancar sirkulasi udara.

Dalam naungan atap seng itu sapi dipelihara dalam kandang kecil yang disebut pen atau sangkar. Pen berupa pagar besi yang bisa dibongkar-pasang menyesuaikan dengan jumlah sapi yang digemukkan. Menurut Handy, seekor sapi membutuhkan ruang minimal 2-4 m2. Jadi jika hendak menggemukkan 30 ekor sapi, luas pen yang diperlukan 60-120 m2. Dengan kandang pen, sapi tidak stres saat dipanen. Stres bisa berakibat bobot turun. Kandang pen juga memudahkan perawatan.

Kandang beralas semen itu juga diberi sekam setebal 20 cm. Tujuannya supaya sapi tak terpeleset kotoran sendiri. Sapi berbobot 250-350 kg mengeluarkan 30 kg kotoran dan 5 liter air seni per hari. Lantai kandang agak menurun dengan sudut 50 supaya air kencing sapi mengalir ke saluran penampungan. Sekam diganti tiap 3 pekan saat kemarau. Pada musim penghujan, 10 hari sekali. Kotoran dan air seni selanjutnya dijual sebagai pupuk.

Permintaan besar

Sapi digemukkan selama 90-100 hari di 3 lokasi pembesaran seluas total 45 ha. Dari sana setiap hari sebanyak 50-100 ekor keluar menuju Rumah Pemotongan Hewan (RPH) di Jakarta, Bogor, Depok, dan Bekasi (Jawa Barat), Tangerang (Banten), dan Surabaya (Jawa Timur).

Jumlah itu hanya 1,9% dari total kebutuhan daging sapi di Indonesia. Kebutuhan daging sapi pada 2009 misalnya mencapai 390.000 ton setara 2,1-juta ekor. Dari jumlah itu hanya 1,1-juta ekor yang dipenuhi dari peternakan pembesar di tanahair.

Angka itu bakal bertambah jika konsumsi per kapita meningkat. Menurut Achmad SH, pemilik KLJ,  saat ini tingkat konsumsi daging sapi di Indonesia berkisar 1,8-2 kg/kapita/tahun. Bandingkan dengan Malaysia 7 kg per tahun; Singapura 25/kg/kapita/tahun. ‘Dengan asumsi 1,8 kg/kapita dan jumlah penduduk 230-juta dibutuhkan tak kurang 414-juta kg daging sapi,’ tutur anggota dewan Asosiasi Pengusaha Penggemukan Sapi (Apfindo) itu. Jika dikonversi jumlah itu setara dengan 2,406-miliar ekor sapi.

Naik 1,2 kg/hari

Di perusahaan penggemukan sejak 1996 itu sapi dipelihara intensif. Hewan anggota famili Bovidae itu diberi pakan berupa 2,5-3% konsentrat berkadar protein 19%. Campurannya terdiri dari onggok, pollard (limbah penggilingan gandum kala diproses jadi terigu, red), bungkil sawit, bungkil kelapa, dan tepung jagung. Itu masih ditambah vitamin dan mineral. ‘Biaya pakan konsentrat sekitar Rp1.750-Rp2.000/kg,’ ungkap Handy. Lebih dari itu biaya pakan tak ekonomis.  FCR (food conversion ratio) sebesar 1: 7-8.

Pakan hijauan diberikan sebanyak 1,5% dari bobot sapi/ekor/hari. Hijauan berupa rumput raja, daun dan batang jagung, serta jerami padi. Sebelum diberikan jerami difermentasi terlebih dulu. Tanpa fermentasi kandungan ligninnya yang tinggi memperlambat proses pencernaan dan penyerapan pakan. Dengan komposisi pakan seperti itu kenaikan bobot per hari mencapai 1,1-1,2 kg/ekor/hari. Setelah 90-100 hari pemeliharaan, bobot sapi yang dipanen berkisar 350-450 kg/ekor.

KLJ tak melulu mengandalkan impor. Sejak 2-3 tahun terakhir, perusahaan penggemukan yang dimulai dengan 1.000 ekor itu memproduksi bakalan sendiri. Hingga saat ini tercatat ada 500 ekor betina produktif menjadi induk.  Sistem perkawinannya dilakukan secara koloni dengan perbandingan jantan dan betina 3 : 100. Dengan sistem itu KLJ mampu menghasilkan 250 pedet per tahun. Pedet-pedet itu sebagian dibesarkan atau dijual seharga Rp4,5-juta/ekor. Di Cijapati mereka besar bersama sapi-sapi dari Australia. (Faiz Yajri).

 

Powered by WishList Member - Membership Software