Laba Olah Air Kelapa

Filed in Majalah, Muda by on 17/09/2019

Perbedaan jenis kelapa menghasilkan rasa air yang berbeda pula.

 

Air kelapa banyak menjadi limbah di pasar-pasar tradisional. Kevin Angga Saputra menangkap peluang dan mengolahnya menjadi minuman segar.

Air kelapa dalam kemasan botol kreasi Kevin Angga Saputra.

Air kelapa mudah rusak kalau disimpan di suhu ruangan. Saat menempuh kuliah Ilmu dan Teknologi Pangan di Institut Pertanian Bogor, Kevin mencari cara mengolah air kelapa agar awet dan diterima pasar. Belajar dari berbagai sumber, ia menemukan cara membawa kesegaran air kelapa ke lidah konsumen.

Bahkan, rasa manis air kelapa tercecap tanpa penambahan gula. Meski demikian, ia harus belajar banyak hal lain. Pemasok air kelapa dan pasar belum tergali. Ia juga belum menguasai penyimpanan dan cara pengiriman yang paling efisien. “Saya perlu setahun mempelajari semuanya,” kata Kevin. Pada 2014, dengan modal Rp9 juta, ia membuka gerai minuman air kelapa bermerek Cocolicious—akronim dari coconut delicious.

Kelas dunia

Di kelas usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), ia mengklaim sebagai merek yang muncul pertama. Kini ketika berbagai merek lain berhenti, Cocolicious bertahan. Setiap bulan ia mengolah rata-rata 2.000 liter air kelapa. Perniagaan air kelapa yang semula hanya dibuang di pasar itu mendatangkan omzet bulanan puluhan juta rupiah.



Kevin hanya mempunyai 1 gerai di salah satu pusat belanja di Jakarta Selatan. Namun, setiap bulan, gerai mungil itu menyumbang hampir setengah omzet. Sisanya berasal dari pesanan berbagai perusahaan. Meski demikian, tidak tiap bulan ada perusahaan yang memesan sehingga penjualan rutin disumbang oleh gerai.

Kevin Angga Saputra memilih berbisnis air kelapa yang sumbernya melimpah.

Ketika Trubus menyambangi gerai itu, aktivitasnya pun tidak tampak ramai. Kevin seolah sengaja membiarkan hal itu dan memilih berbisnis secara santai. “Saya memang tidak ingin gerai yang terlalu ramai,” ungkapnya. Menurut Kevin meski sedikit, pembelinya loyal dan selalu membeli kembali. Itu lebih baik ketimbang banyak pembeli tapi hanya datang sekali lalu tidak membeli lagi. Kalau gerai dipadati pembeli seperti itu, ia khawatir pembeli loyal justru kabur.

Berkaca dari berbagai jenis minuman yang muncul, populer, lalu lenyap dalam waktu singkat, Kevin memilih tumbuh perlahan dan solid. Omzet meningkat dari penambahan penjualan kepada pembeli setia. Itu berkebalikan dengan pola yang saat ini diterapkan banyak wirausahawan. Mengandalkan sistem waralaba, gerai tersebar cepat tapi setelah pembeli bosan menghilangnya juga cepat.

Apalagi air kelapa sama sekali bukan barang baru tapi produknya di Indonesia hanya hitungan jari. Merujuk kepada produk seperti pasta gigi atau mi instan yang diwakili salah satu merek dominan, “Air kelapa tidak ada yang menjadi benchmark. Padahal pertumbuhan industri air kelapa di dunia sangat tinggi,” kata sulung dari 2 bersaudara itu. Data laman maya marketwatch menyatakan penjualan produk berbasis air kelapa meningkat 2 kali lipat lebih, dari 363,78 juta liter pada 2013 menjadi 867,71 juta liter pada 2017.

Bermitra

Ironisnya, air kelapa—yang nilai perdagangan dunianya mencapai US$2,5 triliun pada 2017—itu sebagian besar hanya mengalir di selokan dan pelimbahan pasar-pasar tradisional. Pengalaman Kevin, rasa air di dalam kelapa asal Lampung berbeda dengan yang berasal dari Jawa Barat selatan atau Banten yang mengisi sebagian besar pasar di DKI Jakarta dan sekitarnya.

Perbedaan itu mestinya menjadikan Indonesia sebagai negara produsen air kelapa kemasan paling beragam di dunia. “Bisa jadi setiap daerah penghasil kelapa mempunyai produk khas mereka,” katanya.

Kemasan gelas salah satu varian produk Cocolicious.

Sadar bahwa usahanya masih berskala mikro, Kevin tidak ingin menjadi besar sendiri. Untuk memasok air kelapa, ia bermitra dengan sekitar 10 pengupas kelapa di pasar. Kevin memilih fokus kepada penjualan. “Kalau semua saya lakukan sendiri mungkin hasilnya lebih banyak. Tapi saya juga tidak mungkin menangani sendiri,” ungkapnya.
Kevin juga sempat tergiur berekspansi. Pada 2017—2018, ia membuka banyak gerai di banyak tempat. Biaya operasional membengkak sementara omzet tidak serta-merta mengikuti. Ia sampai hampir bangkrut, “Uang yang tersisa hanya cukup untuk operasional paling lama 2 bulan,” katanya mengenang. Saat megap-megap itulah ia dilirik Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) dan menjadi satu dari 95 Usaha Pangan Rintisan (food startups) Terpilih 2018. Ia membuktikan klaimnya, memulai sebelum yang lain mulai dan bertahan setelah yang lain tumbang. (Argohartono Arie Raharjo)

Tags: , ,

 

Powered by WishList Member - Membership Software